Senin, Oktober 26, 2020

Klandestin Berbulu Agama

Heboh Khayalan Sukmawati

Gaduh soal puisi yang dibacakan putri Proklamator RI, Sukmawati Soekarnoputri, tentu semakin menambah deretan nama elite atau politisi yang cenderung provokatif. Puisi Sukmawati yang...

Semoga Kasus Dokter Fiera Tak Menggoyang Para Dokter

Begitu kaget saya melihat bagaimana tulisan Om Budi Setiawan mengenai perihal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam kasus dokter Fiera Lovita. Entah mengapa tulisan semacam...

Jokowi, Pesantren, dan Proyeksi Perdamaian

  Presiden Joko Widodo kemarin (08/10) berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, guna menghadiri serangkaian kegiatan Hari Perdamaian Internasional 2017 dan sekaligus meresmikan...

Kita dan Darurat Muamalah Medsosiah

“Di Indonesia, media sosial masih digunakan untuk menyebarkan kebencian, berita bohong, dan fitnah”, kata Presiden Joko Widodo dalam beberapa kali kunjungan ke luar negeri...
Ren Muhammad
Penulis, pendiri Khatulistiwa Muda, Direktur Eksekutif Candra Malik Institute.

Kita baru saja disuguhi berita penangkapan sindikat penyebar isu membakar, The Family Muslim Cyber Army (MCA). Sebelum mereka, masih ada Saracen.  Kedua sindikat ini punya puluhan sel aktif yang siap beraksi 24 jam. Didukung segala fasilitas kelas satu dan biaya operasional nirbatas.

Kita tak perlu bertanya siapa mereka. Sebab satu dan lainnya kecil kemungkinan mereka saling mengenal. Mereka hanya tahu satu hal: adu domba. Serigala di belakang mereka yang sejatinya harus kita kenali pola gerak-geriknya.

Dulu ada PGRS/Paraku dan Barisan Rakyat. Lalu Gerakan Laskar Jihad (LJ) ke Ambon-Maluku, adalah contoh operasi yang sama. Termasuk gerakan Komando Jihad (Komji) yang melakukan serangan di Cicendo, Bandung. Kasus NII KW 9 (Ma’had Al-Zaytun) yang sempat marak di Jawa Barat, kemungkinan masuk dalam skenario operasi ini.

Begitu pula dengan komunitas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jamaah Ahlul Bait, dan yang paling bikin heboh; ninja di Situbondo yang terus merayap sampai Pemalang, bentukan putra mahkota Cendana. Target operasi mereka, membunuhi para kiai kampung. Model yang nyaris sama kini terulang.

Dalam catatan militer dunia, ada satu operasi yang sangat istimewa dan paling berbahaya bagi umat beragama, khususnya Islam. Operasi ini tidak hanya menyusup, tetapi juga mempengaruhi, membiayai, bahkan memberikan fasilitas. Inilah operasi telik sandi paling rumit. Secara umum, bisa diartikan sebagai gerakan rahasia di “bawah tanah,” untuk penggalangan dan pengerahan massa.

Gerakan ini menggunakan sarana birokrasi, memanfaatkan indoktrinasi media, membuat pelbagai opini publik yang menyesatkan, dan terutama menciptakan kekacauan internal. Sebab, mereka memakai data personal sebanyak-banyaknya, melalui sebaran jaringan yang tak kasat mata. Saat ini media sosial adalah wahana termudah untuk melakukan itu.

Umat Islam dengan segala keluguan dan kepolosannya kerap kali termakan oleh operasi seperti ini. Misal, dengan memunculkan aliran sesat. Sebaliknya, bila di tengah umat Muslim, mereka sering menggunakan segala simbol Islam sebagai bungkus, untuk mengelabui.

Hal terpenting yang perlu disadari, operasi ini tidak ditujukan demi kejayaan Islam, namun untuk kepentingan politik tertentu yang umumnya anti-Islam. Ironisnya, gerakan anti-Islam paling sering menggunakan cara ini, sebab terbukti berhasil.

Operasi ini dimulai dengan mendekati komunitas Muslim yang dikenal sangat nyaring dalam memperjuangkan politik Islam. Sebagai pendekatan, biasanya ada sosok tertentu yang semula anti-Islam, kemudian mengaku sudah “rujuk” dengan Islam. Orang seperti ini biasanya banyak memberitahu “fakta rahasia,” sehingga umat percaya.

Maka, dibentuklah suatu komunitas gerakan politik, yang sampulnya ingin memperjuangkan misi politik Islam. Segala materi, simbol, ajaran, doktrin, dogma, yang bersifat dakwah, dikembangkan sebaik-baiknya. Ajaibnya, gerakan seperti ini cenderung dilindungi, sebab merupakan benih “pembuat masalah” yang sengaja ditanam di tubuh umat Islam.

Bila menghadapi kritik dari luar, maka dikembangkanlah “retorika membela diri.” Sebagai contoh, “Anda jangan merasa benar sendiri! Jangan memecah-belah umat!”

“Jangan mendengki kemajuan orang lain. Anda hanya bisa bicara, kerja nol besar. Bekerja di lapangan lebih sulit dari cuma bicara.”

“Seharusnya kebatilan tidak boleh dibela, tetapi seharusnya ditunjukkan dalil-dalil syariat yang melarang kebatilan itu.”

Retorika seperti ini laksana kabut asap. Membuat bingung berjuta manusia yang sedang mencari kebenaran. Lalu, akhirnya terlihat, bahwa muara dari gerakan politik itu bukan untuk Islam, namun kepentingan elite/politik kekuasaan belaka.

Nasihat Bung Karno

“KITA royal sekali dengan perkataan “kafir.” Kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir.” Pengetahuan Barat–kafir; radio dan kedokteran–kafir; pantalon dan dasi dan topi–kafir; sendok dan garpu dan kursi–kafir; tulisan Latin–kafir; ya bergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun–kafir!”

Demikian nukilan surat Sukarno kepada T. A. Hassan bertitimangsa 18 Agustus 1936–kala ia baru menjalani dua tahun masa pembuangannya di Ende, dan susah payah membangkitkan lagi gelora api perjuangannya yang nyaris padam.

Jika ditarik mundur ke belakang, surat bernuansa pemikiran progresif itu sudah berjarak delapanpuluh satu tahun dengan masa kita saat ini. Rentang panjang yang mestinya cukup mendewasakan alam keberislaman kita, keberagamaan kita sebagai bangsa.

Kini, tengoklah sekeliling kita. Cermati dan amati juga keseluruhan diri kita secara utuh. Apa yang sejatinya terjadi? Adakah beda tegas bila kita membawa embel-embel agama dalam kehidupan, dan tidak sama sekali? Bilakah Islam yang kita anut, misalnya, tak harus selalu diseret dalam rimba raya perbalahan?

Kejumudan umat Islam hari ini nampaknya tak jauh beda dengan yang digelisahkan Bung Karno saat itu. Kita masih gagal total meleburkan agama dalam laku keseharian. Kita senang memisah-memilah ajaran agama yang telah berurat akar dalam kehidupan.

Kita bahkan dengan enteng menepis kebaikan hidup hanya kerana pengetahuan keagamaan kita yang kurang mumpuni. Soal ini masih diperparah dengan kerja bawah tanah segelintir manusia pemantik api yang senang mengadu domba orang beragama dengan beberapa kata sakti semacam bid’ah, kafir, murtad, dan sesat. Mereka lupa cara bersukacita dalam dan dengan agama. Mereka alpa mengingat betapa gembiranya kita dulu ketika masih kecil–kala melakoni perintah tuhan.

Kini, mereka telah berubah arah. Bukan lagi mengabdi pada tuhan, namun bertekad membela tuhan. Jadi, pengacara akhirat. Mereka mungkin khilaf. Jika tuhan butuh dan harus dibela, maka Dia sama dengan terdakwa. Lemah tiada daya. Lantas, apa artinya la hawla wa la quwwata illa billah itu? Apakah agama kemudian bisa membuat kita jadi manusia adikuasa?

Kolom terkait:

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

Tersesat dalam Agama

Buzzer SARA dan Banalitas Dunia Maya

Facebook: Ladang Dakwah atau Medan Ujaran Kebencian?

Siapa Merebus Sentimen Sosial Kita

Ren Muhammad
Penulis, pendiri Khatulistiwa Muda, Direktur Eksekutif Candra Malik Institute.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.