OUR NETWORK

Ketika Artis Kembali Nyandu Narkoba

Artis Jeniffer Dunn dihadirkan saat Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (kanan) dan Kasubdit Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvin Simanjuntak merilis pengungkapan kasus narkoba di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (2/1). Jeniffer Dunn ditetapkan sebagi tersangka penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Keterlibatan artis dalam praktik penyalahgunaan narkoba sudah bukan lagi hal yang menggagetkan. Setelah sederetan artis dilaporkan tertangkap tangan mengkonsumsi narkoba, yang terbaru kini giliran Jennifer Dunn yang dilaporkan ditangkap aparat kepolisian karena narkoba.

Artis yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik karena dilabrak remaja yang disinyalir menggoda ayahnya hingga meninggalkan ibunya ini, kini kembali menjadi berita karena terlibat penyalahgunaan narkoba. Ini adalah kasus ketigakalinya Jennifer Dunn tertangkap tangan mengkonsumsi sabu-sabu. Pada tahun 2009, Jennifer pernah ditangkap polisi karena memiliki tujuh butir ekstasi.

Sama seperti Tio Pakusadewo, Rhido Rhoma, Fariz RM, Roy Marten, dan para artis lain yang sebelumnya ditangkap aparat karena kembali terjerumus mengkonsumsi narkoba, Jennifer Dunn juga seorang pecandu narkoba yang kesekian kalinya kambuh dan kembali terjerumus penjadi pecandu narkoba.

Jennifer yang sejak usia 15 tahun sudah terlibat dalam penyalahgunaan narkoba bukannya belajar dari kesalahan yang dilakukan, tetapi justru ia kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama. Apa sebetulnya yang menyebabkan seseorang kembali terjerumus dalam praktik penyalahgunaan narkoba?

Proses Kecanduan

Proses awal seseorang berkenalan dan kemudian terlibat dalam praktik penyalagunaan narkoba acapkali bukan hanya didorong pertimbangan dan motif pribadi korban, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya pengaruh peer-group dan sikap pro-aktif para bandar atau pengedar narkoba. Biasanya, ketika pertama kali berkenalan dengan narkoba, dalih utama korban adalah bermula dari sekadar ikut-ikutan teman, dan juga karena adanya keinginan yang kuat dari korban itu sendiri untuk merasakan hal yang baru.

Dalam banyak kasus, orang-orang yang terjerumus dalam praktik penyalahgunaan narkoba termasuk ke dalam tipe experimental use, yaitu pemakai narkoba yang tujuan awalnya ingin mencoba, sekadar memenuhi rasa ingin tahu, tetapi sebagian kemudian meneruskan hingga menjadi social use.

Social use atau yang sering juga disebut recreational use adalah praktik penggunaan narkoba pada waktu resepsi atau untuk mengisi waktu senggang. Sebagian besar mereka yang tergolong social use kemudian menjadi situational use. Situational use adalah penggunaan narkoba pada seseorang saat mengalami ketegangan, kekecewaan, kesedihan dan sebagainya dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.

Dalam kenyataan, sering terjadi seseorang yang mula-mula hanya mencoba-coba lama-kelamaan dapat terjerumus menjadi pecandu kronis, karena secara fisik dan/atau psikologis terus terobsesi oleh kenikmatan-kenikmatan sesaat yang ditawarkan dan dibayangkan akan dapat diperoleh kembali jika mengkonsumsi narkoba. Pada taraf kecanduan ini, biasanya korban akan memilih dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.

Sebagian mungkin melakukan praktik penipuan kecil-kecilan, tetapi tak sedikit akhirnya yang memilih melakukan cara-cara kriminal dan melanggar norma susila untuk memperoleh apa yang mereka inginkan (Yatim, 2000).

Bagi para pengedar narkoba, sikap warga urban yang cenderung permisif, khususnya kehidupan para artis yang terbiasa dengan kehidupan malam dan dunia remang-remang, tentu merupakan peluang besar. Maka, jangan heran jika mereka kemudian berusaha melebarkan pangsa pasar di kalangan artis melalui berbagai cara. Selama ini sudah bukan rahasia lagi jika sejumlah artis memiliki jalur pemasok khusus untuk memenuhi hasrat mereka mengkonsumsi narkoba.

Tersangka kasus narkoba yang juga aktor senior Tio Pakusadewo (tengah) dihadirkan saat rilis kasus narkoba, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (22/12). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye/17

Sebagai bagian dari bisnis yang sangat menguntungkan, narkoba dewasa ini tidak lagi sebagai sarana pelarian bagi orang-orang yang berasal dari keluarga broken home, melainkan telah dikonstruksi sebagai simbol modernitas masyarakat urban dan bagian dari gaya hidup populer. Tidak sedikit artis yang dengan sadar menggunakan narkoba karena merasa hal itu adalah bagian dari identitas sosialnya sebagai figur yang populer di masyarakat.

Banyak studi telah menemukan bahwa keinginan para pecandu narkoba untuk bertobat bukannya tidak ada. Studi yang dilakukan penulis menemukan, hampir semua korban narkoba sesungguhnya di hati kecil mereka berkeinginan sadar dan lepas dari cengkeraman narkoba. Namun, untuk keluar begitu saja dari perangkap narkoba ternyata bukan hal yang mudah.

Bagi para pecandu narkoba, keinginan mereka untuk bebas dari cengkeraman pengaruh napza ternyata tidaklah mudah dan sesederhana seperti proses penyembuhan seseorang yang terserang penyakit demam berdarah, liver, atau yang lain. Kajian yang telah dilakukan menemukan paling-tidak ada lima faktor yang menyebabkan proses rehabilitasi pecandu narkoba seolah berputar seperti siklus.

Kelima faktor itu adalah: (1) pengaruh teman dan iman yang lemah, (2) jika keinginan korban untuk sadar tidak didukung oleh sikap akomodatif keluarga, khususnya orangtua, (3) jika korban telah memiliki sumber penghasilan sendiri, (4) jika korban pecandu narkoba sudah masuk dalam lingkaran jaringan mafia pengedar narkoba, dan (5) karena proses stigmatisasi yang berkembang di masyarakat.

Kesulitan yang dihadapi orang-orang seperti Jennifer Dunn untuk memutus hubungan dengan narkoba, persoalan utamanya bukan pada bagaimana mereka mau menjalani rehabilitasi dan bagaimana menghapus racun narkoba dari dalam tubuh melalui proses detoksifikasi. Dalam praktik, sering terjadi keinginan para pecandu untuk keluar dari cengkeraman narkoba terbentur oleh penolakan lingkungan, stigma masyarakat, ancaman mafia narkoba, pengaruh peer-group, dan sebagainya—yang seolah-olah membelit kuat laksana gurita raksasa.

Tidak jarang terjadi, proses seorang pecandu narkoba untuk keluar dari ketergantungan yang dialaminya terpaksa dilakukan berulang kali—kendati mungkin keluarga korban sudah mengeluarkan dana besar dan waktu yang lama, serta energi dan kesabaran yang luar biasa besar.

Para pecandu yang kronis dan sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk keluar dari pengaruh narkoba dapat dikategorikan sebagai condemnation of the condemnesr, yaitu kelompok pecandu yang beranggapan bahwa orang yang mengutuk perbuatan mereka adalah orang yang munafik, hipokrit atau pelaku kejahatan terselubung. Pecandu yang sudah pada tahap seperti ini niscaya sulit untuk dapat keluar dari pengaruh buruk narkoba yang sebetulnya merusak diri mereka. Jennifer Dunn boleh jadi adalah pecandu yang masuk dalam kategori ini.

Kolom terkait:

Jennifer Dunn, Narkoba, dan Refleksi tentang Sakit

Menyebar Dukungan Untuk ODHA

Penyalahgunaan Psikotropika apa penyebabnya?

Guru Spiritual dan Candu Popularitas

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…