Rabu, Januari 20, 2021

Ketika Artis Kembali Nyandu Narkoba

Terang-Pudar Khonghucu di Indonesia

"Jangan ragu mengaku sebagai umat Khonghucu." Begitu seruan Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu (Matakin) Uung Sendana di situs Youtube.com berjudul "KTP Khonghucu". Tayangan...

Valentine dan Tafsir Sosial atas Kenyataan

Semangat dan gegap gempita kehidupan kaum urban terus mewarnai hari-hari bersama sepaket riuh rendahnya dunia. Penanggalan Masehi kini memasuki bulan kedua dan tepat pada...

Perlukah Satgas Anti-SARA?

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian berencana membentuk satuan tugas (satgas) anti-SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) untuk mengantisipasi kemungkinan ketegangan sosial jelang Pemilihan Kepala...

Menguji Salib LGBTI di Gereja Kristen

GKI kepanjangan dari Gereja Kristen Indonesia, salah satu denominasi Kristen Protestan yang telah mengindonesia. Saya katakan demikian karena gereja ini awalnya tumbuh dari gereja...
Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

Keterlibatan artis dalam praktik penyalahgunaan narkoba sudah bukan lagi hal yang menggagetkan. Setelah sederetan artis dilaporkan tertangkap tangan mengkonsumsi narkoba, yang terbaru kini giliran Jennifer Dunn yang dilaporkan ditangkap aparat kepolisian karena narkoba.

Artis yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik karena dilabrak remaja yang disinyalir menggoda ayahnya hingga meninggalkan ibunya ini, kini kembali menjadi berita karena terlibat penyalahgunaan narkoba. Ini adalah kasus ketigakalinya Jennifer Dunn tertangkap tangan mengkonsumsi sabu-sabu. Pada tahun 2009, Jennifer pernah ditangkap polisi karena memiliki tujuh butir ekstasi.

Sama seperti Tio Pakusadewo, Rhido Rhoma, Fariz RM, Roy Marten, dan para artis lain yang sebelumnya ditangkap aparat karena kembali terjerumus mengkonsumsi narkoba, Jennifer Dunn juga seorang pecandu narkoba yang kesekian kalinya kambuh dan kembali terjerumus penjadi pecandu narkoba.

Jennifer yang sejak usia 15 tahun sudah terlibat dalam penyalahgunaan narkoba bukannya belajar dari kesalahan yang dilakukan, tetapi justru ia kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama. Apa sebetulnya yang menyebabkan seseorang kembali terjerumus dalam praktik penyalahgunaan narkoba?

Proses Kecanduan

Proses awal seseorang berkenalan dan kemudian terlibat dalam praktik penyalagunaan narkoba acapkali bukan hanya didorong pertimbangan dan motif pribadi korban, tetapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya pengaruh peer-group dan sikap pro-aktif para bandar atau pengedar narkoba. Biasanya, ketika pertama kali berkenalan dengan narkoba, dalih utama korban adalah bermula dari sekadar ikut-ikutan teman, dan juga karena adanya keinginan yang kuat dari korban itu sendiri untuk merasakan hal yang baru.

Dalam banyak kasus, orang-orang yang terjerumus dalam praktik penyalahgunaan narkoba termasuk ke dalam tipe experimental use, yaitu pemakai narkoba yang tujuan awalnya ingin mencoba, sekadar memenuhi rasa ingin tahu, tetapi sebagian kemudian meneruskan hingga menjadi social use.

Social use atau yang sering juga disebut recreational use adalah praktik penggunaan narkoba pada waktu resepsi atau untuk mengisi waktu senggang. Sebagian besar mereka yang tergolong social use kemudian menjadi situational use. Situational use adalah penggunaan narkoba pada seseorang saat mengalami ketegangan, kekecewaan, kesedihan dan sebagainya dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.

Dalam kenyataan, sering terjadi seseorang yang mula-mula hanya mencoba-coba lama-kelamaan dapat terjerumus menjadi pecandu kronis, karena secara fisik dan/atau psikologis terus terobsesi oleh kenikmatan-kenikmatan sesaat yang ditawarkan dan dibayangkan akan dapat diperoleh kembali jika mengkonsumsi narkoba. Pada taraf kecanduan ini, biasanya korban akan memilih dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang mereka inginkan.

Sebagian mungkin melakukan praktik penipuan kecil-kecilan, tetapi tak sedikit akhirnya yang memilih melakukan cara-cara kriminal dan melanggar norma susila untuk memperoleh apa yang mereka inginkan (Yatim, 2000).

Bagi para pengedar narkoba, sikap warga urban yang cenderung permisif, khususnya kehidupan para artis yang terbiasa dengan kehidupan malam dan dunia remang-remang, tentu merupakan peluang besar. Maka, jangan heran jika mereka kemudian berusaha melebarkan pangsa pasar di kalangan artis melalui berbagai cara. Selama ini sudah bukan rahasia lagi jika sejumlah artis memiliki jalur pemasok khusus untuk memenuhi hasrat mereka mengkonsumsi narkoba.

Tersangka kasus narkoba yang juga aktor senior Tio Pakusadewo (tengah) dihadirkan saat rilis kasus narkoba, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (22/12). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye/17

Sebagai bagian dari bisnis yang sangat menguntungkan, narkoba dewasa ini tidak lagi sebagai sarana pelarian bagi orang-orang yang berasal dari keluarga broken home, melainkan telah dikonstruksi sebagai simbol modernitas masyarakat urban dan bagian dari gaya hidup populer. Tidak sedikit artis yang dengan sadar menggunakan narkoba karena merasa hal itu adalah bagian dari identitas sosialnya sebagai figur yang populer di masyarakat.

Banyak studi telah menemukan bahwa keinginan para pecandu narkoba untuk bertobat bukannya tidak ada. Studi yang dilakukan penulis menemukan, hampir semua korban narkoba sesungguhnya di hati kecil mereka berkeinginan sadar dan lepas dari cengkeraman narkoba. Namun, untuk keluar begitu saja dari perangkap narkoba ternyata bukan hal yang mudah.

Bagi para pecandu narkoba, keinginan mereka untuk bebas dari cengkeraman pengaruh napza ternyata tidaklah mudah dan sesederhana seperti proses penyembuhan seseorang yang terserang penyakit demam berdarah, liver, atau yang lain. Kajian yang telah dilakukan menemukan paling-tidak ada lima faktor yang menyebabkan proses rehabilitasi pecandu narkoba seolah berputar seperti siklus.

Kelima faktor itu adalah: (1) pengaruh teman dan iman yang lemah, (2) jika keinginan korban untuk sadar tidak didukung oleh sikap akomodatif keluarga, khususnya orangtua, (3) jika korban telah memiliki sumber penghasilan sendiri, (4) jika korban pecandu narkoba sudah masuk dalam lingkaran jaringan mafia pengedar narkoba, dan (5) karena proses stigmatisasi yang berkembang di masyarakat.

Kesulitan yang dihadapi orang-orang seperti Jennifer Dunn untuk memutus hubungan dengan narkoba, persoalan utamanya bukan pada bagaimana mereka mau menjalani rehabilitasi dan bagaimana menghapus racun narkoba dari dalam tubuh melalui proses detoksifikasi. Dalam praktik, sering terjadi keinginan para pecandu untuk keluar dari cengkeraman narkoba terbentur oleh penolakan lingkungan, stigma masyarakat, ancaman mafia narkoba, pengaruh peer-group, dan sebagainya—yang seolah-olah membelit kuat laksana gurita raksasa.

Tidak jarang terjadi, proses seorang pecandu narkoba untuk keluar dari ketergantungan yang dialaminya terpaksa dilakukan berulang kali—kendati mungkin keluarga korban sudah mengeluarkan dana besar dan waktu yang lama, serta energi dan kesabaran yang luar biasa besar.

Para pecandu yang kronis dan sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk keluar dari pengaruh narkoba dapat dikategorikan sebagai condemnation of the condemnesr, yaitu kelompok pecandu yang beranggapan bahwa orang yang mengutuk perbuatan mereka adalah orang yang munafik, hipokrit atau pelaku kejahatan terselubung. Pecandu yang sudah pada tahap seperti ini niscaya sulit untuk dapat keluar dari pengaruh buruk narkoba yang sebetulnya merusak diri mereka. Jennifer Dunn boleh jadi adalah pecandu yang masuk dalam kategori ini.

Kolom terkait:

Jennifer Dunn, Narkoba, dan Refleksi tentang Sakit

Menyebar Dukungan Untuk ODHA

Penyalahgunaan Psikotropika apa penyebabnya?

Guru Spiritual dan Candu Popularitas

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.