Sabtu, Maret 6, 2021

Jokowi, Kecintaan pada Literasi, dan Tragedi YLBHI

Menteri Khofifah, Seks Bebas, dan Asrama tanpa Pintu

Menarik sekali melihat tingkah laku pejabat publik yang semakin hari semakin canggih. Sabtu, 29 Oktober 2016 lalu, Ibu Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa tiba-tiba membuat...

Entropi Ramadhan: dari Selfie, Riya’ hingga Citra

Puasa hakikatnya adalah masa dan cara bagi seseorang untuk belajar menahan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga untuk belajar berempati terhadap kehidupan dan kesengsaraan...

Dari MUI untuk Media Sosial yang Barbar

Sepertinya saran Najwa Shihab dalam perbincangan di program "INI Talkshow" patut direnungkan. Menonaktifkan pemberitahuan di media sosial, apa pun jenisnya, bisa jadi pilihan satu-satunya...

Pre Sweet 17 Tahun dan “Kegilaan” Remaja Lainnya

  Kesukaan remaja saat ini memang unik. Di antara yang unik itu, ada yang mengejutkan, membuat terbahak, ada pula yang menginspirasi. Setelah heboh profesi blogger,...
Avatar
Aura Asmaradana
Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, "Solo Eksibisi" - Kumpulan Cerita Pendek (2015)

Aparat kepolisian menjaga sekelompok massa yang mengepung dan melakukan orasi di depan kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Minggu (17/9) malam, yang menggelar acara “Asik Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi”. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

Peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia oleh Presiden Joko Widodo (Kamis, 14/9) menerangi Indonesia dengan harapan tentang berkembangnya ilmu pengetahuan. Empat juta koleksi buku, majalah, rekaman suara, hingga naskah kuno tersedia di bangunan 24 lantai yang ramah anak dan penyandang disabilitas itu. Ternyata, selain menerjemahkan secara konkret ide tentang penyaluran ilmu pengetahuan, perpustakaan baru kita juga sangat humanis.

Adanya perpustakaan itu seakan menguatkan kembali ide yang sama—tentang pentingnya buku—dalam program pengiriman buku gratis di Kantor Pos Indonesia tanggal 17 setiap bulan. Tentu menyenangkan berada di negara yang begitu menghargai ilmu pengetahuan dan secara nyata mengembangkan budaya literasi. 

Kepala Perpustakaan Nasional Syarif Bando sepertinya amat senang dengan apa yang telah dicapainya dengan pembangunan perpustakaan. Beliau mengatakan, “Dasar pemikirannya, jika ingin melihat kemajuan suatu bangsa, maka bisa dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan.”

Literasi memang tonggak peradaban. Maka, kita tentu sama-sama berharap perpustakaan baru itu tak sekadar tembok-tembok; tak sekadar simbol. Selain karena cita-cita luhur membangun perpustakaan sudah ada sejak Soekarno-Hatta sedang menata ibu kota, Indonesia harus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak membuat gentar. Sebab apa ilmu pengetahuan bisa membuat gentar? Sebab oleh komunisme! 

Komunisme adalah isu seram yang datang dari masa lalu. Hantu itu beberapa kali coba untuk dikubur dalam-dalam, tapi masih saja datang dan dianggap mengganggu. Maka, aparat keamanan—Sabtu, 16 September 2017—melarang Seminar Sejarah 1965 dengan tema “Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966” demi memberangus hantu itu. Mirisnya lagi, pelarangan diskusi di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) itu ditengarai disebabkan oleh menyebarnya berita hoaks. 

Hoaks yang tersebar menyebutkan bahwa acara di YLBHI merupakan sebuah upaya kebangkitan kembali komunisme. Tindak lanjut terhadap berita hoaks itu menyebabkan keadaan yang chaos—terutama secara ideologis.

Secara ideologis, hoaks sudah diperangi pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Informasi dan banyak tokoh sejak lama, bahkan sebelum para penggerak Saracen yang fenomenal itu ditangkap. Perlawanan terhadap hoaks adalah upaya meningkatkan budaya literasi yang sehat di masyarakat—seperti pula pengembangan perpustakaan nasional dan pengiriman buku gratis.

Maka, tentu saja pelarangan diskusi (juga pengepungan YLBHI sesudah acara “Asik Asik Aksi” Minggu, 17 September, malam) adalah sebuah alur yang inkonsisten.

Tragedi di YLBHI pun memunculkan tanda tanya besar: adakah kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang digembor-gemborkan selama ini hanya pura-pura? Atau justru pelarangan diskusi di YLBHI adalah sebuah kesilapan belaka?

Sesungguhnya, budaya literasi bukan hanya perkara lembar-lembar buku. Literasi juga mencakup pertukaran gagasan yang sehat. Tentang “sehat”, di Kamus Besar Bahasa Indonesia Anda dapat temukan dengan mudah maknanya. Sehat adalah ketika hal-hal itu mendatangkan kebaikan, boleh dipercaya atau masuk akal, dijalankan dengan hati-hati dan baik-baik. Sehat sama sekali tidak mengandung tetek-bengek pemberangusan gagasan dan diskriminasi.

Budaya literasi juga mencakup ruang sebagai media yang terbuka untuk manusia menemukan musuhnya, lantas kemudian mengerti tentang humanisasi. Apalagi kita perlu ingat bahwa peradaban lahir dari ide-ide kecil. Peradaban tumbuh besar dari perjumpaan satu individu dengan yang lainnya.

Maka, tentangan—bahkan paksaan bubar dan kutukan yang diteriakkan—dari berbagai pihak terhadap diskusi pelanggaran HAM ’65 sesungguhnya telah meruntuhkan cita-cita agung tentang “ikon peradaban”. Sayang seribu sayang, berkat kesewenang-wenangan, ikon peradaban yang dengan gagah diajukan para pendiri bangsa, kemudian dijayakan secara simbolik oleh program-program literasi kekinian luluh lantak dalam waktu singkat.

Kolom terkait:

Negeri Sekarat Demokrasi

Literasi Rendah, Indonesia Hancur…

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Avatar
Aura Asmaradana
Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, "Solo Eksibisi" - Kumpulan Cerita Pendek (2015)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.