in

Jokowi dan Mimpi Petani Berdasi


Presiden Joko Widodo bersama Rektor IPB Herry Suhardiyanto (kedua kanan) melambaikan tangan kepada mahasiswa saat sidang terbuka di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/9). Sidang terbuka dalam rangka Dies Natalis IPB ke-54 mengangkat tema Pengarusutamaan Pertanian untuk Kedaulatan Pangan Indonesia. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Kata Pak Jokowi, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), lulusan fakultas pertanian, banyak duduk manis di perbankan, industri, bahkan dunia yang jauh dari pertanian, dan tidak ada anak muda yang berniat jadi petani. Pak Jokowi keliru. Siapa bilang yang muda tidak mau bertani? Saya buktinya, Pak.

Saya menikmati setiap hari menjadi petani wortel, gandum, jagung, dan lain-lain. Semuanya begitu mudah dilakukan. Tidak sampai sehari, lahan pertanian saya sudah siap panen. Lahan tersedia begitu luasnya. Saya bisa membeli sebanyak yang saya mau. Saya mengolah hasil pertanian menjadi bahan pakan ternak ayam, sapi, domba, babi. Pertanian saya melimpah ruah. Pembeli berdatangan tanpa diminta. Pada level tertentu, saya menjadi petani kaya raya.

Namun, semua hal tentang pertanian yang saya ceritakan ini hanya sebatas permainan di hay day games. Meski sudah ada sejak 2012, permainan ini masih gemar saya mainkan di waktu luang. Lantas, saya berpikir andai bertani semudah ini, andai bertani senikmat ini, andai bertani, ah…sudahlah.

Pikiran paling liar soal pertanian adalah apakah anak cucu saya nantinya akan bisa mengenal tanaman padi sebelum jadi beras, pematang sawah sebelum dibangun hotel mewah, atau bahkan generasi milenial selanjutnya tidak akan pernah tahu bagaimana bentuk jagung sebelum diolah sweet corn, jasuke (jagung, susu keju), serta olahan jagung lainnya dengan nama yang susah diucapkan lidah orang Indonesia.

Sungguh, pertanian memang sedang dalam keadaan kritis. Sayangnya, sudah ribuan kali kita melihat keadaan ini, keadaan pertanian yang tidak pernah membaik, namun, kita enggan berbenah. Semua saling menyalahkan. Katanya, tidak ada lahan, masyarakat yang sembarangan menjual tanah, anak muda yang gengsi jadi petani, petani pekerjaan kotor dan berpeluh, serta ribuan hal klasik yang sama sekali tak bersolusi.

Pernah suatu masa, saya berkunjung ke desa Kintamani Bali. Saya berkesempatan menikmati menjadi petani, meski hanya dalam sehari. Kawan saya yang ayahnya petani juga ikut ke ladang pagi itu. Betapa kagetnya saya, ketika sang ayah membentak begitu kerasnya.

Ngapain panas-panasan, nak? Sana pulang, kerjakan tugasmu supaya cepat lulus.”
“Saya mau membantu memanen jeruk, Pak”
“Untuk apa? Bapak kuliahkan kamu untuk jadi pegawai, paling tidak PNS dan menjabat”

Ayah dua anak yang sudah 30 tahun bertani ini lantas mengusir kami. Katanya yang begitu tegas menyatakan jika ladang ini terlalu panas, pekerjaan bertani terlalu berat, dan hasilnya tak pernah memuaskan. Menjadi petani dan harus menguliahkan 3 orang anak, itu semua katanya pertolongan Tuhan, sama sekali bukan karena pertanian itu. Bayangkan saja, seorang petani pun tidak mau anaknya menjadi petani. Sebab, mereka sadar bahwa pertanian tak pernah menjanjikan.

Jika pun harus bertani, tak ada tanah warisan atau ladang kosong yang tersisa ke depannya yang sudi digarap setengah mati. Lirikan investor lebih menjanjikan, lalu menukar lahan pertanian itu dengan limpahan uang yang mungkin tak bisa mereka miliki dalam sekejap.

Di Bali Selatan, tepatnya di Gianyar, saya pernah menemui petani idealis. Ia satu-satunya yang paling bertahan. Sama sekali tak tergiur tawaran mahal penjualan tanah maupun sawah di jalur baypass Ida Bagus Mantra. Pundi-pundi rupiah tak mengalahkannya, meski rekan-rekan sejawatnya telah duduk dalam Pajero mahal yang, konon, didapat dari menjual sawah.

Alasannya cukup mengejutkan. Yang ia tahu inilah cara merawat warisan leluhur, caranya bersyukur, caranya untuk menjadi manusia budaya sesungguhnya. Jika ia mengikuti hasrat petani kekinian, siapa lagi yang akan menjaga tanah Bali ini, katanya. Namun, ia juga tetap realistis. Cukup hanya dirinya dan istrinya yang bertani. Kelima anaknya bisa menuntut ilmu dan menjadi apa yang mereka mau, kecuali jadi petani. Jika anaknya tetap memaksa, jadilah petani sambilan, katanya.


Begitu muramnya dunia pertanian di Indonesia, sehingga anak muda yang ayah atau ibunya petani, menginginkan agar ayah dan ibunya bisa pensiun dini. Anak muda ini tak kuat melihat ayah ibunya diterpa sinar mentari, lumpur menyelimuti kaki hingga bada, dengan harga jual pakan yang tak seberapa. Belum lagi petani yang merugi, keriput yang lebih cepat muncul sebab sinar matahari yang tak lagi bersahabat, wajar jika anak-anak ini menginginkan orangtuanya pensiun dini.

Masalah orasi yang disampaikan Presiden Jokowi saat Sidang Terbuka Dies Natalis Institut Pertanian Bogor (IPB) yang ke-54 sungguh mengingatkan. Siapa yang mau jadi petani? Adakah anak muda kita bisa mewujudkan mimpi petani berdasi di Indonesia? Benarkan pertanian ini akan punah atau lambat berbenah?

Dalam sensus pertanian 2013, struktur usia petani didominasi oleh petani tua dengan tingkat pendidikan rendah. Data tersebut menyebutkan, sebanyak 60,8 persen usia petani di atas 45 tahun dengan 73,97 persen berpendidikan setingkat SD dan akses terhadap teknologi rendah. Data itu sejalan dengan hasil survei Struktur Ongkos Usaha Tani (SOUT) tanaman pangan pada 2011.

Survei itu menyebut, sebagian besar petani tanaman pangan (96,45 persen) berusia 30 tahun ke atas. Hanya 3,35 persen saja yang berusia di bawah 30 tahun.

Tampaknya, profesi petani bukan profesi turun temurun. Kedaulatan Pangan (KRKP) pada 2016 menuliskan, 50 petani padi dan 73 persen petani holtikultura menyatakan tak ingin anaknya menjadi petani. Hasil survei tersebut menyatakan hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Hanya terdapat sekitar 4% pemuda usia 15-35 tahun yang bekerja dan berminat untuk menjadi petani. Sisanya sebagian besar tergiring industrialisasi.

Jika anak mudanya tidak mau jadi petani, apakah itu sepenuhnya salah anak mudanya? Apakah lulusan pertanian justru salah jurusan? Lahan yang mana yang bisa digarap jika semua sudah jadi beton? Apakah padi ke depan akan bisa tumbuh pada lahan beton?

“Lantas yang ingin jadi petani siapa?” tanya Presiden Jokowi dengan nada retorik kepada seluruh wisudawan IPB kala itu. Riuh tawa makin banyak terdengar ketika Presiden menyebut justru lulusan IPB banyak menjadi dirut perbankan, manajer bank, dan posisi strategis lainnya yang sama sekali berbeda dengan pertanian. Ahli pertanian, peneliti pertanian, juga masyarakat Indonesia yang dikenal agraris, akan membiarkan pertanian menjadi mata pencaharian yang tinggal sejarah?

Petani di Jepang.

Pemuda, pendidikan, pemerintah, dan masyarakat harus mendukung setiap langkah positif memajukan sektor pertanian. Dari kampus juga diharapkan berkembang riset-riset berkualitas untuk menghasilkan teknologi pertanian modern yang bisa meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sektor agraris ini.

Akan tetapi, pada saat yang sama, pemerintah juga perlu introspeksi bahwa pihaknya harus memberikan regulasi yang jelas tentang pengembangan lahan pertanian dan bagaimana pemasaran prosuk pertanian, termasuk di dalamnya masa depan bagi pekerja-pekerja di pertanian. Sehingga, tidak mustahil petani berdasi bisa ditemukan di Indonesia dan jumlahnya ribuan, melebihi para pengantri tes CPNS.

Meski agak terlambat, Indonesia bisa memulai mengemas pertanian jauh lebih menarik minat anak mudanya. Salah satunya bisa meniru petani viral di Jepang. Foto seorang pria menggunakan menjadi viral di media sosial Jepang. Biasanya jas hanya digunakan di pesta ataupun jamuan kenegaraaan, namun pria berjas ini menjadi viral karena ia menggunakan jasnya di area persawahan.

Pria tersebut adalah Kiyoto Saito, seorang petani yang tinggal di Prefektur Yamagata, Jepang. Setiap kali ia akan pergi ke sawah tempatnya bekerja, ia selalu mengenakan pakaian formal seperti jas ataupun tuxedo lengkap dengan dasi beserta alat-alat pertanian seperti cangkul ataupun mesin pestisida untuk hama. Ia bekerja di sawah menggunakan jas untuk merubah persepsi orang-orang terhadap profesi petani.

Ide tersebut awalnya hanya candaan adiknya. Berkat candaan itu Kiyoto mulai menggunakan baju formal tersebut ketika ia bercocok tanam. Berkat pakaian jas yang selalu ia kenakan, kini Kiyoto menjadi petani paling terkenal di Jepang. Ia menjadi berita utama di beberapa media seperti koran, tabloid, dan televisi.

Dengan melengkapi petani-petani ini kostum yang “bergengsi”, 5 atau 10 tahun ke depan, profesi petani bisa menjadi buruan anak muda. Jika tidak, negeri yang katanya agraris ini akan diburu orang-orangan sawah berdasi.

Kolom terkait:

Jokowi dan Nasib Pertanian 2015

Menikam Papua dengan Beras

Duka Nawa Cita Jokowi-JK


Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul “Mimpi Itu Gratis” (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR