OUR NETWORK

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Kita berharap dia dan siapa pun yang dipandang—apalagi memandang dirinya—sebagai ustaz/ustazah berendah hati dan menyadari batas-batas kompetensinya dalam menyampaikan ajaran agama.

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV beberapa hari lalu). Toh dia sudah minta maaf dan mohon ampun. Tentu dia harus dikoreksi dan diingatkan agar tidak nekat lagi dalam berdakwah, apalagi menyampaikan ayat Al-Qur’an dan menafsirkannya untuk jamaah.

Bahkan dia perlu diingatkan tentang bagaimana seharusnya salat jama’ dan salat qashar dilaksanakan, yang dijelaskannya dalam pengajian itu. Kita berharap dia dan siapa pun yang dipandang—apalagi memandang dirinya—sebagai ustaz/ustazah berendah hati dan menyadari batas-batas kompetensinya dalam menyampaikan ajaran agama.

Bagaimanapun, Ustazah Nani Handayani adalah satu sisi wajah Islam Indonesia di era industri televisi mutakhir. Dia adalah fenomena lebih lanjut dari lahirnya ustaz/ustazah di era kian tingginya gairah keagamaan umat Islam dengan segala dinamika dan perubahannya.

Gairah keagamaan umat Islam tampak meningkat kira-kira dalam dua-tiga dasawarsa terakhir. Gairah kegamaan itu—yang antara lain ditandai dengan maraknya berbagai pengajian—membutuhkan lebih banyak ustaz. Menjamurnya majelis taklim membutuhkan lebih banyak ustazah. Pada titik itulah, khususnya di perkotaan, tampaknya kebutuhan terhadap ustaz/ustazah tidak bisa dipenuhi oleh sumber-sumber sosial tradisional yang menjamin kompetensi keilmuan seorang ustaz/ustazah.

Dalam pada itu, gairah keislaman yang meningkat cukup tajam di kalangan umat Islam tak syak lagi telah melahirkan ustaz-ustaz baru dari luar sumber-sumber tradisional. Demikianlah maka psikolog jadi mubalig; musisi jadi mubalig; pelawak jadi mubalig; mantan pemakè narkoba jadi mubalig; mantan gembong kriminal pun jadi mubalig. Para mubalig ini barangkali merupakan generasi pertama para ustaz—sebutan yang belakangan lebih populer untuk mubalig—yang lahir dari luar sumber sosial mubalig/ustad secara tradisional.

Gairah keagamaan umat Islam ini terus meningkat, ditandai antara lain dengan kian maraknya pengajian, peringatan hari besar Islam, menjamurnya taman pendidikan Al-Qur’an, dan lain-lain. Pada gilirannya, gairah keagamaan umat Islam mendorong umat Islam untuk memberikan kontribusi keagamaan: yang mengerti multimedia berdakwah dengan multimedia; musisi mengarang musik Islam; penulis menulis sastra Islami; desainer menciptakan jilbab (lalu belakangan hijab syar’i), muncul pula penggerak dan aktivis halaqah, dan seterusnya. Demikianlah, dalam gairah keagamaan yang tinggi, semua berkontribusi.

Karena kebutuhan terhadap ustaz/ustazah kian tinggi, sebagian dari mereka pun terdorong atau didorong untuk menjadi ustaz/ustazah (mubalig/mubaligah). Sebagian mereka mungkin memang terpanggil untuk menjadi ustaz/ustazah, mubalig/mubaligah, sebagai panggilan agama sekaligus sebagai ekspresi gairah keislaman mereka. Pada titik itulah muncul sumber-sumber sosial baru ustaz/ustazah, yang tidak lagi berbasis kompetensi keilmuan dan integritas Islam, melainkan lebih berbasis komitmen dan militansi keislaman. Lapisan baru ustaz/ustazah pun lahir memenuhi kebutuhan atau pasar dakwah yang kian luas ini. Inilah fenomena Islam kultural yang tampaknya telantar di tangan sumber-sumber sosial Islam lama.

Era industri televisi lalu menyambut perkembangan ini, dan hampir secara keseluruhan mengubah struktur sumber sosial ustaz/ustazah. Dengan sedikit pengecualian, kasus Ustazah Nani Handayani merupakan wajah industri (dakwah) Islam di televisi kita—dan secara umum merupakan wajah industri televisi kita. Sebagai industri, televisi tentu menjual siaran yang laku. Rating merupakan kata kunci sukses-tidaknya siara televisi. Maka, apa yang laku dijual alias mendongkrak rating itulah yang dijual. Laku lawak, jual lawak. Laku sinetron, jual sinetron. Laku dakwah, jual dakwah.

Bagi industri televisi, di tengah gairah keislaman yang terus meningkat, dakwah Islam tentulah merupakan komoditas yang seksi. Karenanya, televisi berbondong-bondong memproduksi program dakwah. Sejurus dengan itu, mereka pun mengorbitkan figur ustaz/ustazah sebagai komoditas baru. Bagi komuditas baru, tak penting kompetensi keilmuan dan integritas Islam. Tak penting mutu. Yang penting dia laku, dan sedikit lucu. Tidaklah mengherankan kalau muncul ustaz seleb dan ustaz muda “ada pesta seks di sorga” yang menghebohkan beberapa waktu lalu itu.

Industri (dakwah) Islam di televisi ini merupakan kelanjutan lebih ekstrem dari fenomena lahirnya ustaz/ustazah dari luar sumber-sumber sosial lama, yakni sumber yang tidak menggarisbawahi kompetensi keilmuan dan integritas Islam bagi seorang ustaz/ustazah. Diorbitkan televisi rupanya memberikan rasa percaya diri yang sangat tinggi bagi sang ustaz/ustazah.

Munculnya lapisan baru ustaz/ustazah yang lebih berbasis komitmen dan militansi keislaman ini hampir-hampir meruntuhkan kepercayaan bahwa ustaz/ustazah yang mumpuni hanya bisa dilahirkan oleh sumber-sumber sosial lama. Juga hampir-hampir meruntuhkan pentingnya kompetensi keilmuan dan integritas Islam bagi seorang ustaz/ustazah, bahkan juga di mata ustaz/ustazah sendiri. Demikianlah, jamaah pun tak peduli dengan kompetensi keilmuan ustaz/ustazah. Yang penting dia tampil percaya diri sebagai ustaz/ustazah, apalagi sang ustaz/ustazah dijajakan televisi.

Ustazah Nani Handayani yang nekat menulis ayat Al-Qur’an dengan rasa percara diri itu, meski salah, merupakan produk dari semua perkembangan ini. Ustazah Nani Handayani hanyalah korban yang tepat dari perkembangan dakwah yang keliru dan para penyokongnya.

Kolom terkait:

Saatnya Kita Menyelamatkan Para Mualaf

Akrobat Ustadz “Seleb” dan Gelinjang Media Sosial

Kenikmatan yang Melebihi Surga

Dakwah itu Merangkul, Bukan Memukul

Solidaritas untuk Rina Nose dan Perempuan yang Melepas Jilbab

Jamal D. Rahman

Penyair, esais, dan dosen sastra UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemimpin Redaksi “Jurnal Sajak”. Mantan pemimpin redaksi majalah sastra “Horison” (2003-2016). Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Bukunya yang akan segera terbit: Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern dan Secangkir Kopi Seorang Musafir (kumpulan esai). Penerima Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2016.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…