OUR NETWORK

Imlek dan Delapan Perkara Lainnya

Tahun Baru Imlek kini bukan lagi semata-mata milik orang Tionghoa. Sebagian dari kita ikut merayakannya, atau setidaknya ikut menikmati hari liburnya dan nuansa kegembiraannya.

TIADA yang tahu kapan waktu bermula dan berakhir. Pun pada mulanya tidak ada yang tahu umur manusia. Sampai pada suatu ketika, suku-suku dan bangsa-bangsa di bumi berhasil menemukan rumusan untuk mempertemukan antara waktu dan usia. Temuan itulah yang kemudian dinamai almanak, kalender, atau penanggalan.

Dengan perhitungan itulah kemudian ditandai saat kelahiran dan kematian manusia, juga kejadian-kejadian penting di dunia. Cuaca dan musim berjumpa, siang dan malam tak lagi dirasakan terpisah atau memisahkan—melainkan silih berganti—dan kita menjadi semakin menyadari batas.


Sejak Konghucu diakui sebagai agama resmi pada masa pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid, dan warga keturunan Tionghoa di Indonesia bisa hidup lebih leluasa, perayaan tahun baru di negeri ini tidak lagi hanya Tahun Baru Hijriyah dan Masehi. Satu perayaan bertambah, yaitu Tahun Baru Imlek. Pada tahun 2018, tahun baru yang ditandai dengan shio anjing tanah ini dirayakan dengan libur resmi pada 16 Februari. Shio ini lekas mengingatkan saya pada Qitmir, anjing dalam Ashabul Kahfi. Juga Hachiko dan tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Dan kisah seekor anjing yang ditolong seorang pelacur dalam hadits Bukhari.

Tentu, masing-masing cerita mengenai anjing itu memiliki kedalaman makna dan pesan moral. Selain tentang kesetiaan, satu hal yang bisa kita pelajari dari anjing adalah harapan. Baik Qitmir, Hachiko, maupun anjing kehausan dalam hadits Nabi Muhammad Saw., masing-masing bertahan hidup dengan kekuatan asa. Lebih dari itu, satu tahun bagi seekor anjing tidaklah sama hitungan waktunya dengan satu tahun manusia, dalam hal umur. Dalam seven years theory, usia setahun anjing diperkirakan sebanding dengan usia tujuh tahun manusia. Belum lagi jika dihitung dengan rumus Monsieur LeBeau, dokter hewan asal Prancis.

Pada 1950, LeBau mengemukakan teori bahwa seekor anjing pada usia satu tahun mempunyai pubertas yang kurang lebih sama dengan manusia yang berusia 15 tahun. Tapi, hitungannya menjadi beda pada tahun kedua umur anjing, yang oleh LeBau disetarakan dengan manusia berusia 24 tahun. Lepas dari tahun kedua, setiap pertambahan satu tahun umur anjing disebandingkan dengan empat tahun umur manusia. Alangkah waktu laksana misteri, dan umur serupa rahasia di dalamnya. Kita menandai waktu dengan kalender, juga menandai kelahiran dan kematian, serta kejadian-kejadian penting untuk kita peringati dan/atau rayakan.

Namun, waktu tidak berdiri sendiri. Kita memasangkannya dengan ruang. Ya, ruang dan waktu. Kita mengenal delapan penjuru ruang sesuai arah mata angin, yaitu utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut. Kita tak terlampau mengenal delapan penjuru waktu—meski ada. Jika dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim disebutkan Rasulullah Saw. mendirikan salat witir pada awal, pertengahan, dan akhir malam, maka diperoleh petunjuk bahwa malam terdiri atas tiga waktu. Lima lainnya adalah fajar (sebelum matahari terbit), pagi, siang, sore, dan senja (sejak mentari terbenam). Genap delapan.

Tentu berlebihan dan tak pada tempatnya jika saya mengulas tanggal Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yaitu 17-08-1945, meski jika dijumlahkan sampai tuntas maka angka-angka pada tanggal keramat itu akan menghasilkan angka delapan. Lihat saja: 1 + 7 + 0 + 8 + 1 + 9 + 4 + 5 = 35, lalu 3 + 5 = 8. Bisa jadi, saya justru akan dianggap membawa nujum dalam obrolan ini. Namun, bukankah almanak, kalenderisasi, penanggalan, atau apa pun sebutannya, disertai pula dengan ramalan bintang, zodiak, shio, perwatakan berdasarkan weton, atau apa pun namanya? Yang jelas, angka delapan diyakini bermakna keberuntungan.

Namun, apalah keberuntungan jika di dalamnya tidak terkandung pelajaran tentang hidup dan kehidupan? Bahkan, penyair W.S. Rendra pernah bersajak, ”ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.” Bahwa peruntungan adalah hasil dari ikhtiar manusia, semoga kita setuju. Siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh, ia layak untuk berhasil, man jadda wa jada. Namun, keberuntungan bukanlah hasil dari usaha manusia. Keberuntungan itu sebagian dari anugerah Tuhan yang Dia rahasiakan dalam misteri kehidupan. Ini yang lalu berusaha diteropong dalam astrologi, dalam hitungan yang cermat.

Agamalah yang mengingatkan kita bahwa ada golongan manusia yang beruntung dan ada pula yang tak beruntung. Dalam ajaran Islam, dijelaskan delapan golongan manusia yang berhak menerima zakat fitrah. Ya, delapan. Mereka adalah fakir, miskin, amil zakat, mualaf, hamba sahaya atau budak, orang yang menanggung utang, mujahid fii sabilillah, dan musafir. Derajat kedelapannya tidak lebih rendah dari golongan manusia lain. Sebab, yang mulia bagi Allah adalah ketakwaan. Itulah hakikat keberuntungan. Falsafah Jawa, yakni seberuntung-beruntungnya orang lupa masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada, menjadi relevan.

Petuah itu termaktub dalam Ramalan Jayabaya, yang berbunyi sabegja-begjane wong kang lali isih luwih bedja wong kang eling lan waspada. Namun, sekali lagi, hidup bukan hanya soal keberuntungan atau kebahagiaan. Di dalamnya juga ada sial, bencana, musibah, dan penderitaan. Bahkan, Buddha Gautama menilai, hidup adalah penderitaan. Setiap manusia mengalami samsara. Dilahirkan, lantas mengalami lapar dan letih, sakit, tua, dan mati. Demi terlepas dari penderitaan itu—agar mencapai moksa, Buddha pun menempuh Dharma melalui ajaran Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Kebenaran. Ya, lagi-lagi delapan.

Delapan Jalan Kebenaran dalam ajaran Buddha Gautama itu meliputi Samma-Ditthi, Samma-Sankappa, Samma-Vaca, Samma-Kammanta, Samma-Ajiva, Samma-Vayama, Samma-Sati, dan Samma-Samadhi. Yaitu pengetahuan, keputusan, perkataan, perbuatan, penghidupan, perjuangan, pemusatan, dan penyempurnaan yang seluruhnya diikhtiarkan dengan baik dan benar. Asta Sanghika Marga inilah yang diyakini diadaptasi oleh Sunan Kudus, salah seorang Wali Sanga, dalam dakwahnya. Dan delapan ajaran ini diabadikan putra Sunan Ngudung itu dalam wujud delapan pancuran air wudhu di Masjid Kudus.


Saya memang tidak sedang khusus membahas Tahun Baru Imlek dan shio anjing tanah. Lebih dari itu, saya sedang mengingatkan diri sendiri betapa bencana dan keberuntungan tidak terpisahkan. Bahkan, ketika mengalami musibah, kita diajari untuk menyadari hakikat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali padaNya. Waktu ternyata tidak benar-benar seiring sejalan dengan usia. Meski dikepung dengan almanak, waktu gagal ditangkap. Meski dirayu dengan perayaan, waktu tetap memberi kesedihan dan renungan. Meski dijaring dengan rasi bintang, waktu melesat—dan kitalah yang terkena ajal.

Tahun Baru Imlek kini bukan lagi semata-mata milik orang Tionghoa. Sebagian dari kita ikut merayakannya, atau setidaknya ikut menikmati hari liburnya dan nuansa kegembiraannya. Saya menulis ini karena teringat Sunan Kudus, yang berguru pula pada seorang Tionghoa, yaitu Kiai The Ling Sing. Lalu, saya teringat pancuran delapan. Kemudian, saya tersadar, jika dihitung dari masa kandungan, maka manusia juga menjalani delapan masa tumbuh kembang. Mulai zigot, embrio, fetus atau janin, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga manula. Ada apa sesungguhnya dengan delapan? Semoga tidak ada apa-apa, baik-baik saja.

Kolom terkait:

Siapa Merebus Sentimen Sosial Kita

Merayakan Imlek di Masa Ahok

Terang-Pudar Khonghucu di Indonesia

Menyembuhkan Luka: Melerai Dikotomi Pribumi-Nonpribumi

Refleksi Imlek: Kerjasama RI-Cina Terganggu Sentimen Rasial?

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…