Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Ideologi Fulus di Balik SARA Center

Kloning, Start Up Homo Deus?

Kita sudah pernah mendengar kabar keberhasilan kloning makhluk hidup pertama (rintisan) di dunia. Kita sama-sama tahu pula makhluk itu adalah seekor domba yang diberi...

Mengenang Kemerdekaan, Mengenang Franky

Mengenang kemerdekaan adalah mengenang musisi pejuang. Dia adalah Franklin Hubert Sahilatua yang populer disapa Franky Sahilatua. Ulang tahunnya berhimpitan dengan hari kemerdekaan, tentu itu...

Angka Satu, LGBT, dan Ironi ODOJ-ODOS

Entah disadari atau tidak, manusia sangat terobsesi dengan angka satu (one). ISIS yang doyan mengumbar kekerasan atas nama agama, menggunakan simbol satu (ahad), dengan...

Kisah Aming dan Bunda Dorce yang Tak Terungkap

Berita pernikahan Aming dan Evelyn terasa “seksi” karena dua hal. Pertama, Aming dikenal sebagai artis yang sedikit feminim. Kedua, istri Aming terlihat seperti laki-laki....
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tiga tersangka kasus penyebaran ujaran kebencian lewat internet digiring polisi di Jakarta, Rabu [Foto: Tempo]
 

Sebuah kabar bahagia—tentu sekaligus menyedihkan—datang dari terbongkarnya salah satu industri penebar benci bernuansa SARA. Ketika kita sudah lama haus akan kedamaian, terbongkarnya industri brutal itu setidaknya membuat hasrat kita bisa agak terpuaskan.

Rabu (23/8), Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat berlabel Saracen alias SARA Center—pusatnya penggorengan isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan dengan ramuan bumbu yang cukup mengenaskan.

Bermodus sebagai penyedia jasa, Saracen jadi pusat jual-beli pesan-pesan provokatif. Ia jadi produsen konten-konten penipu (hoax), ujaran kebenciaan (hate speech), hingga fitnah dengan harga yang cukup fantastis, mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pesanan.

Guna melancarkan aksinya, Saracen tempatkan banyak anggotanya, disebar ke berbagai penjuru negeri. Ribuan akun media sosial sengaja mereka ternak sebagai medium utamanya. Perkiraan Polri, ada sekitar 800 ribu lebih akun ternak milik Saracen.

Ya, di samping ada akun yang fokus memojokkan Islam, juga ada akun yang hanya berkutat pada pendiskreditan umat-umat beragama lain, utamanya terhadap Yahudi dan Nasrani, juga terhadap kelompok-kelompok yang memang jadi pusat kebencian sang pemesan. Sebagian lainnya lagi, khusus untuk menyerang dan memfitnah jajaran pemerintah. Kerja-kerja buzzer begitu.

Untuk metode perekrutan anggotanya sendiri, unggahan-unggahan provokatif di linimasa sengaja disebar. Ini jadi senjata ampuh, disesuaikan pada trend di media sosial. Baik itu berupa kata-kata, narasi bergambar atau meme, semua tak terkecuali mereka produksi. Intinya, hanya untuk menggiring opini agar, misalnya, masyarakat tertarik dan ikut berpandangan negatif kepada kelompok yang jadi objek serangannya.

Beruntung kiranya Polri bisa bekerja dengan sangat baik. Dari hasil pembongkaran sindikat Saracen, tiga orang yang punya posisi strategis di dalamnya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Jasriadi (ketua sindikat), Muhammad Faizal Tonong (ketua bidang media informasi), dan Sri Rahayu (koordinator wilayah untuk Cianjur, Jawa Barat).

Tim siber Polri juga berhasil menelusuri sejumlah media-media yang Saracen gunakan sebagai kaki-tangannya. Ada Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennewscom, yang kesemuanya merupakan grup Facebook Saracen. Tak menutup kemungkinan, masih ada grup-grup lainnya yang belum terdeteksi.

Jelas ini kabar bahagia. Sebab, setidaknya kepolisian terbilang berhasil meminimalisasi tindak pidana yang memang selama ini banyak meruyakkan keutuhan berbangsa. Karenanya, untuk kerja-kerja kepolisian kita sejauh ini mesti dan patutlah kita beri apresiasi.

Hanya saja, kabar menyedihkannya tetap ada. Bahwa terbongkarnya Saracen, bukankah ini jadi bukti bahwa aspek moralitas bangsa kita ternyata nyaris masih sangat rapuh?

Lihat saja bagaimana kelakuan Saracen. Bermodal akun ternak sampai 800.000-an, grup ini jual jasa yang tak semestinya. Dalam bekerja, kebencian diproduksi secara rapi dan masif, dijadikan komoditas paling marketable. Terserah mau diarahkan ke mana, semua tergantung kepada sang pemesan konten.

Jadi teringat salah satu lirik lagu dari Abiem Ngesti: uang slalu jadi rebutan… uang slalu jadi pikiran.. tapi jangan karena uang… menghalalkan segala cara.. (Abiem Ngesti, “Ini Jaman Uang”). Seperti motif Saracen, bukan? Segala tindak-lakunya karena uang. Demi uang, konflik dihadirkan. Demi uang, masyarakat dibiarkan bergejolak, dibiarkan berkelahi, sebab hanya karena itulah uang bisa ia timbun.

Berbahayanya lagi, Saracen termasuk kelompok nir-ideologi, bebas nilai. Siapa pun yang punya fulus (uang), tak peduli dari aliran dan isu apa yang dipesan, mereka senantiasa akan dilayani. Siapa kasih apa, dapat apa, yang penting menghasilkan uang. Ah, semua karena uang. Uang jadi ideologi. Inilah yang sangat berbahaya.

Ngomong-ngomong soal Saracen, dari penamaannya sebenarnya sudah bisa kita tebak dari dan mau ke mana sindikat ini akan tampil. Meski ada yang memaknainya sebagai “pencuri”, “perampok”, atau “perampas”, tapi yang jelas, istilah Saracen sendiri merujuk pada laskar Islam di Perang Salib.

Pun nama Saracen bisa kita telusuri dalam sejarah penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta anggota dan simpatisannya. Nama itu dipakai oleh Angkatan Darat untuk panser penyerangnya di masa-masa awal Orde Baru. Di Amerika, Inggris, Saracen juga dikenal beridentik demikian.

Hal ini semakin menguatkan ketika Saracen hanya menyasar orang-orang yang selama ini diasosiasikan bertentangan dengan Islam. Hanya menyerang mereka yang dinilai sebagai antek-antek komunis, Cina, kafir; mulai dari Jokowi, Ahok, TNI, Polri, bahkan juga menyasar pilar-pilar kebangsaan: Pancasila dan NKRI. Tak salah ketika Saracen dituding sebagai bagian dari ormas radikal Islam seperti HTI dan FPI.  

Yang lebih mengejutkan lagi bahwa beroperasinya sindikat penebar benci bernuansa SARA ini disokong penuh oleh orang-orang berduit. Tentu saja, yang masuk di antaranya adalah para pengusaha dan politisi. Sebagaimana terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, industri semacam ini memang begitu: tebar benci berbalut fitnah demi kekuasaan.

Maka, saya sepakat ketika Saracen orang kelompokkan sebagai sindikat pengkhianat bangsa. Bukankah hanya para pengkhinat saja yang tega dan rela mengobarkan konflik demi kepentingan pribadi dan golongannya? Bukankah hanya para pengkhinat bangsa saja yang menghendaki negeri ini hancur berkeping?

Terlepas dari itu, tetap saja ada hikmah di baliknya yang bisa kita petik, terutama bagi masyarakat yang gampang marah tersulut emosi. Bahwa eksistensi Saracen tidak lepas dari mudahnya masyarakat termakan isu, gampangnya masyarakat terbodohi, hingga beralih mendukung kelompok ini tanpa sadar—meski sebenarnya juga kebanyakan ada yang sadar.

Untuk itu, pengentasannya pun tidak lantas selesai hanya pada penangkapan orang-orangnya saja. Pun tak bisa selesai hanya dengan membuat regulasi seperti mendenda platform media sosial yang menyebarkan ujaran kebencian saja. Mesti ada gerakan penyadaran langsung ke masyarakat.

Tak bisa kita berpangku tangan hanya menunggu hasil dan kepastian dari pihak kepolisian. Harus ada gerakan bersama untuk menyelesaikan hal-hal mendesak semacam ini. Paling tidak, itu bisa kita upayakan melalui narasi tandingan di media sosial. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Eh, itu kata Prabowo ya. Maaf, hanya mencuplik.

Baca juga:

Vox Hoax Vox Dei

Demokrasi, Hoax, dan Media Sosial

Mengapa Kita Saling Membenci?

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.