in

Ideologi Fulus di Balik SARA Center


Tiga tersangka kasus penyebaran ujaran kebencian lewat internet digiring polisi di Jakarta, Rabu [Foto: Tempo]

Sebuah kabar bahagia—tentu sekaligus menyedihkan—datang dari terbongkarnya salah satu industri penebar benci bernuansa SARA. Ketika kita sudah lama haus akan kedamaian, terbongkarnya industri brutal itu setidaknya membuat hasrat kita bisa agak terpuaskan.

Rabu (23/8), Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat berlabel Saracen alias SARA Center—pusatnya penggorengan isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan dengan ramuan bumbu yang cukup mengenaskan.

Bermodus sebagai penyedia jasa, Saracen jadi pusat jual-beli pesan-pesan provokatif. Ia jadi produsen konten-konten penipu (hoax), ujaran kebenciaan (hate speech), hingga fitnah dengan harga yang cukup fantastis, mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pesanan.

Guna melancarkan aksinya, Saracen tempatkan banyak anggotanya, disebar ke berbagai penjuru negeri. Ribuan akun media sosial sengaja mereka ternak sebagai medium utamanya. Perkiraan Polri, ada sekitar 800 ribu lebih akun ternak milik Saracen.

Ya, di samping ada akun yang fokus memojokkan Islam, juga ada akun yang hanya berkutat pada pendiskreditan umat-umat beragama lain, utamanya terhadap Yahudi dan Nasrani, juga terhadap kelompok-kelompok yang memang jadi pusat kebencian sang pemesan. Sebagian lainnya lagi, khusus untuk menyerang dan memfitnah jajaran pemerintah. Kerja-kerja buzzer begitu.

Untuk metode perekrutan anggotanya sendiri, unggahan-unggahan provokatif di linimasa sengaja disebar. Ini jadi senjata ampuh, disesuaikan pada trend di media sosial. Baik itu berupa kata-kata, narasi bergambar atau meme, semua tak terkecuali mereka produksi. Intinya, hanya untuk menggiring opini agar, misalnya, masyarakat tertarik dan ikut berpandangan negatif kepada kelompok yang jadi objek serangannya.

Beruntung kiranya Polri bisa bekerja dengan sangat baik. Dari hasil pembongkaran sindikat Saracen, tiga orang yang punya posisi strategis di dalamnya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Jasriadi (ketua sindikat), Muhammad Faizal Tonong (ketua bidang media informasi), dan Sri Rahayu (koordinator wilayah untuk Cianjur, Jawa Barat).

Tim siber Polri juga berhasil menelusuri sejumlah media-media yang Saracen gunakan sebagai kaki-tangannya. Ada Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennewscom, yang kesemuanya merupakan grup Facebook Saracen. Tak menutup kemungkinan, masih ada grup-grup lainnya yang belum terdeteksi.


Jelas ini kabar bahagia. Sebab, setidaknya kepolisian terbilang berhasil meminimalisasi tindak pidana yang memang selama ini banyak meruyakkan keutuhan berbangsa. Karenanya, untuk kerja-kerja kepolisian kita sejauh ini mesti dan patutlah kita beri apresiasi.

Hanya saja, kabar menyedihkannya tetap ada. Bahwa terbongkarnya Saracen, bukankah ini jadi bukti bahwa aspek moralitas bangsa kita ternyata nyaris masih sangat rapuh?

Lihat saja bagaimana kelakuan Saracen. Bermodal akun ternak sampai 800.000-an, grup ini jual jasa yang tak semestinya. Dalam bekerja, kebencian diproduksi secara rapi dan masif, dijadikan komoditas paling marketable. Terserah mau diarahkan ke mana, semua tergantung kepada sang pemesan konten.

Jadi teringat salah satu lirik lagu dari Abiem Ngesti: uang slalu jadi rebutan… uang slalu jadi pikiran.. tapi jangan karena uang… menghalalkan segala cara.. (Abiem Ngesti, “Ini Jaman Uang”). Seperti motif Saracen, bukan? Segala tindak-lakunya karena uang. Demi uang, konflik dihadirkan. Demi uang, masyarakat dibiarkan bergejolak, dibiarkan berkelahi, sebab hanya karena itulah uang bisa ia timbun.

Berbahayanya lagi, Saracen termasuk kelompok nir-ideologi, bebas nilai. Siapa pun yang punya fulus (uang), tak peduli dari aliran dan isu apa yang dipesan, mereka senantiasa akan dilayani. Siapa kasih apa, dapat apa, yang penting menghasilkan uang. Ah, semua karena uang. Uang jadi ideologi. Inilah yang sangat berbahaya.

Ngomong-ngomong soal Saracen, dari penamaannya sebenarnya sudah bisa kita tebak dari dan mau ke mana sindikat ini akan tampil. Meski ada yang memaknainya sebagai “pencuri”, “perampok”, atau “perampas”, tapi yang jelas, istilah Saracen sendiri merujuk pada laskar Islam di Perang Salib.

Pun nama Saracen bisa kita telusuri dalam sejarah penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta anggota dan simpatisannya. Nama itu dipakai oleh Angkatan Darat untuk panser penyerangnya di masa-masa awal Orde Baru. Di Amerika, Inggris, Saracen juga dikenal beridentik demikian.

Hal ini semakin menguatkan ketika Saracen hanya menyasar orang-orang yang selama ini diasosiasikan bertentangan dengan Islam. Hanya menyerang mereka yang dinilai sebagai antek-antek komunis, Cina, kafir; mulai dari Jokowi, Ahok, TNI, Polri, bahkan juga menyasar pilar-pilar kebangsaan: Pancasila dan NKRI. Tak salah ketika Saracen dituding sebagai bagian dari ormas radikal Islam seperti HTI dan FPI.  

Yang lebih mengejutkan lagi bahwa beroperasinya sindikat penebar benci bernuansa SARA ini disokong penuh oleh orang-orang berduit. Tentu saja, yang masuk di antaranya adalah para pengusaha dan politisi. Sebagaimana terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, industri semacam ini memang begitu: tebar benci berbalut fitnah demi kekuasaan.

Maka, saya sepakat ketika Saracen orang kelompokkan sebagai sindikat pengkhianat bangsa. Bukankah hanya para pengkhinat saja yang tega dan rela mengobarkan konflik demi kepentingan pribadi dan golongannya? Bukankah hanya para pengkhinat bangsa saja yang menghendaki negeri ini hancur berkeping?

Terlepas dari itu, tetap saja ada hikmah di baliknya yang bisa kita petik, terutama bagi masyarakat yang gampang marah tersulut emosi. Bahwa eksistensi Saracen tidak lepas dari mudahnya masyarakat termakan isu, gampangnya masyarakat terbodohi, hingga beralih mendukung kelompok ini tanpa sadar—meski sebenarnya juga kebanyakan ada yang sadar.

Untuk itu, pengentasannya pun tidak lantas selesai hanya pada penangkapan orang-orangnya saja. Pun tak bisa selesai hanya dengan membuat regulasi seperti mendenda platform media sosial yang menyebarkan ujaran kebencian saja. Mesti ada gerakan penyadaran langsung ke masyarakat.

Tak bisa kita berpangku tangan hanya menunggu hasil dan kepastian dari pihak kepolisian. Harus ada gerakan bersama untuk menyelesaikan hal-hal mendesak semacam ini. Paling tidak, itu bisa kita upayakan melalui narasi tandingan di media sosial. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? Eh, itu kata Prabowo ya. Maaf, hanya mencuplik.

Baca juga:

Vox Hoax Vox Dei

Demokrasi, Hoax, dan Media Sosial

Mengapa Kita Saling Membenci?


Written by Maman Suratman

Maman Suratman

Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR