Rabu, Januari 27, 2021

Identitas Sosial, Terorisme, dan Dendam

Hikayat Jonru: Dari Cerpenis hingga Peternak Kebencian (2-Habis)

Sebagai anti-Jokowi, Jonru tidak mudah lagi untuk menjadi fasilitator yang mengisi pelatihan kepenulisan. Ini karena agitasi politik kebencian yang ia pilih menggiringnya melakukan segmentasi...

Sumpah dan Menyumpahi Pemuda

  Portugis, Spanyol, Prancis, Inggris, dan Belanda, adalah musuh bebuyutan para pemuda Nusantara yang tak sudi negeri dan bangsanya direbut dan diinjak oleh orang-orang berkulit...

Merobek Kafan Patung Tuban

Agustus tahun ini barangkali menjadi bulan paling kelabu bagi umat Khonghucu Indonesia. Simbol agama mereka, Patung Kuan Sing Tee Koen, tengah dirundung percobaan penutupan...

Belajar dari Horor Brebes Exit (Bagian I)

Perjalanan mudik Lebaran 2016 ini ditandai dengan tragedi kematian 12 orang di Tol Brebes Timur atau yang populer disebut Brexit pada arus lalu lintas...
Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Mungkin ada banyak orang yang beranggapan bahwa identitas sosial hanyalah sebuah label. Ia sekadar berfungsi selayaknya alat bantu untuk memudahkan orang lain mengenali siapa dirinya. Tak heran karena di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau penanda identitas lainnya, kita selalu diminta untuk mencantumkan satu atau beberapa identitas sosial sekaligus. Apa jenis kelaminmu, apa profesimu, apa agamamu, dan lain sebagainya.

Namun, ratusan penelitian empiris di bidang psikologi sosial yang terakumulasi selama lebih dari setengah abad telah menunjukkan betapa identitas sosial sangat mempengaruhi banyak aspek dari mentalitas seseorang. Identitas sosial membentuk cara kita berfikir (kognitif), merasa (afektif), dan bagaimana kita bereaksi terhadap segala macam peristiwa di dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, saat seseorang mengadopsi sebuah identitas sosial, sebenarnya ia tak sekadar menempelkan label baru atas dirinya. Lebih dari itu, ia sedang melarutkan ke dalam sistem mentalnya segala macam kecenderungan (preferences), nilai-nilai, narasi sejarah, dan emosi yang melekat pada identitas tersebut (John C. Turner, dkk., 1987).  Semakin kuat seseorang manunggal dengan sebuah identitas sosial tertentu, semakin kuat pula pengaruh identitas itu menancap di dalam sistem mentalnya.

Adalah Reza (nama inisial), seorang remaja laki-laki yang baru saja lulus sekolah menengah. Ia berasal dari sebuah keluarga yang sangat sederhana yang tinggal di pinggiran sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Sebenarnya tak ada yang terlihat istimewa dari sosoknya.

Di sekolah, prestasi akademiknya terbilang biasa-biasa saja; di antara teman-teman sekelasnya dia terlihat tidak terlalu menonjol tapi juga tidak terlalu ketinggalan. Pembawaannya pun cenderung kalem. Reza memang sering ngariung bersama anak-anak sebayanya di kampung, tapi ia dikenal tak suka banyak ngomong.

Namun Reza berubah seratus delapan puluh derajat setelah ia bergabung ke dalam sebuah kelompok pengajian radikal. Awalnya, ia sekadar tertarik dengan kegiatan kerohanian Islam (Rohis) di sekolahnya. Tanpa dinyana, pertemanan Reza dengan sekelompok siswa di rohis menariknya ke jalan hidup yang sama sekali berbeda: menjadi seorang teroris. 

Sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, Religia Mujahidah (Universitas Sebelas Maret) dan saya berkesempatan melakukan studi kasus terhadap Reza. Pada saat itu ia belum lama keluar dari penjara setelah menjalani masa hukuman selama dua tahun dengan dakwaan ikut meledakkan bom-bom low explosive di beberapa lokasi di Jawa Tengah.

Di dalam studi kasus itu, kami berusaha menyelami latar sosio-psikologis mengapa seorang remaja yang berasal dari keluarga biasa saja secara ekonomi dan keagamaan, termotivasi untuk ikut kelompok radikal, dan terlibat dalam aksi terorisme. 

Ada banyak sisi kehidupan Reza yang menarik dan penting untuk dipelajari. Salah satunya tentang bagaimana identitas sosial sebagai seorang “jihadis” mampu menyuntikkan ke dalam diri Reza sejenis emosi yang sangat destruktif: dendam.

Reza tak pernah sekalipun mengujungi negara-negara yang sedang dilanda perang seperti Afghanishtan, Suriah, dan Irak. Ia juga tak memiliki pengalaman terlibat langsung di dalam konflik berdarah antar pemeluk agama seperti yang pernah terjadi di Poso dan Sambas. Namun, adanya jarak pengalaman itu tak menghalangi Reza untuk ikut merasakan kemarahan dan dendam yang meruap dari konflik-konflik itu.

“Saya pengen berjihad lagi… di sini kan mulai banyak menggelora dukungan-dukungan terhadap jihad-jihad internasional, di Syiria sana,” tuturnya.

Bagi seorang Reza dan para ekstremis lainnya, identitas sebagai bagian dari umat Islam global (pan-islamic identity) sepenuhnya mendefinisikan eksistensi diri mereka. Di dalam sistem mental mereka, identitas pan-islamis ini begitu dominan, bahkan menjadi identitas tunggal (mono identity) yang mengeliminasi segala macam identitas alternatif lainnya (misal identitas nasional, identitas etnik, atau identitas sebagai bagian dari umat manusia).

Maka, tak heran, setiap perang, konflik, dan kekerasan yang melibatkan orang-orang Muslim di belahan bumi mana pun secara otomatis mereka persepsi sebagai ancaman terhadap eksistensi diri mereka sendiri. Melalui identitas tunggal itu, kemarahan dan dendam yang awalnya meletup di lokasi-lokasi konflik bisa menjalar ke mana-mana, melewati batas-batas teritorial antarnegara. Dendam yang dirasakan oleh pasukan dan pendukung ISIS di Suriah terhadap Amerika, misalnya, juga dirasakan secara mendalam oleh Reza dan kawan-kawannya.

Identitas tunggal yang dominan itu, di sisi lain, membuat para ekstremis seperti Reza melihat realitas sosial secara rigid dan simplistik. Mereka cenderung mempersepsi dunia dari kacamata sempit kami atau mereka, dan menegasikan adanya kategori kita yang inklusif, yang dapat meretas petak-petak sosial yang plural (Fuad Hassan, 2002). Simak, misalnya, saat Reza menuturkan pandangannya tentang kaum Syiah di Indonesia.

“Langkah pertama (untuk menghadapi Syiah) adalah perundingan dulu. Kalau nggak mau (kembali) dengan Islam, nggak mau tunduk dengan syariat, itu baru bisa diperangi… (Menurut) hukum asalnya mereka sudah menyebarkan kesesatan sebagaimana nabi-nabi palsu.

(Jadi harus dibagaimanakan?)

“Dieksekusi”.

Orang-orang dengan pandangan radikal seperti Reza cenderung sulit menerima gagasan bahwa seseorang semestinya justru membangun identitas sosial yang majemuk. Dengan identitas yang majemuk, individu akan dengan mudah menemukan titik-titik temu dengan banyak orang yang berbeda-beda. Dengan demikian, potensi-potensi konflik dapat diredam sejak awal.

Sebagaimana Uskup Soegijapranata saat ditanya tentang loyalitasnya kepada Vatikan dan bangsanya, ia dengan mantap menjawab: “Saya 100% Katolik dan 100% Indonesia.” Orang-orang seperti Soegija paham betul bahwa, tak seperti batu kali, identitas sosial itu plastis dan elastis!

Kolom terkait:

“Dian” yang Harus Dipadamkan

Pendekatan “Baru” terhadap Ayat-Ayat Jihad

Memahami Kebangkitan Salafisme Jihadis

Jihad Versus Industri Senjata

ISIS dan Monopoli Narasi Jihadis Salafi di Suriah

Avatar
Moh. Abdul Hakim
Kandidat Doktor Psikologi Politik, Massey University, New Zealand Dosen Psikologi Sosial & Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.