Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Haruskah Kita Memboikot Starbucks?

Komunitas LGBT: Terdakwa atau Korban?

Bisa dipastikan tidak ada satu pun umat manusia yang berkeinginan atau berencana menjadi bagian dari kelompok liyan (the others) seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual,...

Membeli Pengalaman, Membeli Kebahagiaan

Ketika harus memutuskan membeli smartphone model terbaru atau membeli satu perangkat lukis cat air, saya tidak ragu memilih yang kedua. Saya tak piawai melukis,...

Biarkan NU Tetap Bengkok

Hari ini, 31 Januari, Nahdlatul Ulama, salah satu ormas terbesar di dunia, memperingati hari lahirnya yang ke-92. Selama kurun waktu tersebut orang pasti bertanya-tanya,...

Alexis dan Bisnis Prostitusi yang tak Pernah Mati

Menutup hotel mesum atau membongkar kompleks lokalisasi bukan jaminan praktik prostitusi yang ada di dalamnya otomatis ikut tutup. Di DKI Jakarta, hasil investigasi majalah...
Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

Seruan pemboikotan Starbucks sempat mengemuka setelah Fahira Idris mengajak Ormas keagamaan untuk tolak Starbucks. Muhammadiyah, salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia, menyambut ajakan tersebut dengan tangan terbuka. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas pun menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk mencabut ijin Starbucks di Indonesia.

Kehebohan ini terjadi secara tiba-tiba di tahun 2017, 5 tahun setelah Starbucks untuk pertama kalinya menyatakan dukungan pada hak-hak LGBT, termasuk dengan menyumbangkan sejumlah besar dana untuk gerakan legalisasi same-sex marriage di Amerika. Akhirnya banyak pihak menjadi bingung, ada apa? Kenapa sekarang tiba-tiba heboh sendiri?

Salah satunya kolumnis Geotimes, Jalal, menjabarkan dengan rinci hal-hal janggal dari seruan pemboikotan Starbucks ini melalui sebuah kolom yang berjudul Muhammadiyah versus StarbucksSaya setuju sekali dengan permasalahan yang dielaborasi dalam kolom tersebut.

Salah satunya adalah masalah keadilan dalam berpikir. Perusahaan yang ramah LGBT bukan hanya Starbucks. Microsoft, Amazon, dan Nike juga turut menyumbang dana bersama Starbucks untuk gerakan legalisasi same-sex marriage di Amerika.

Di samping itu, kini sudah terdapat hampir 400 perusahaan Amerika yang mendukung hak-hak LGBT, termasuk Facebook dan Apple. Jumlah itu belum ditambah dengan perusahaan Eropa.

Apakah kita siap memboikot semua perusahaan itu? Malah buat saya, yang lebih aneh lagi, kenapa pula kita harus memboikot mereka? Perusahaan dengan produk yang buruk akan mati dengan sendirinya tanpa harus diboikot. Sementara, kalau mereka tidak mati karena produknya bagus, maka pada akhirnya kita akan butuh juga produk mereka. Yakin mau memboikot?

Perusahaan di seluruh dunia bergerak ke arah kemanusiaan yang lebih inklusif, maka tidak heran jika mereka menjadi ramah LGBT. Starbucks sendiri menunjukkan komitmennya yang tinggi pada kemanusiaan dalam kasus diskriminasi pengungsi Muslim di Amerika saat Trump memberlakukan pembatasan bagi Muslim untuk masuk ke negaranya (Muslim ban).

CEO Starbucks menjadi salah satu petinggi perusahaan pertama yang menolak kebijakan Trump dan menyatakan dukungan penuh untuk perlindungan hak-hak pengungsi Muslim, termasuk menyatakan siap mempekerjakan 10.000 pengungsi Muslim di perusahaannya.

Komitmen yang tinggi pada kemanusiaan mensyaratkan kemampuan untuk menjadi inklusif dan resisten terhadap diskriminasi. Nilai inilah yang dipraktikkan Starbucks dalam menjadi bagian dari peradaban.

Buat saya, tidak ada alasan untuk memboikot Starbucks. Kalau Anda mau menjadi anti Starbucks, itu merupakan kebebasan Anda. Tetapi, jangan pakai tangan Negara yang ditopang oleh seluruh pembayar pajak, tidak terkecuali saya dan mereka yang berkomitmen pada kemanusiaan, untuk mempertontonkan kebencian dan sikap diskriminasi yang menjadi antitesis terhadap kemanusiaan.

Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.