in

Haruskah Kita Memboikot Starbucks?


Seruan pemboikotan Starbucks sempat mengemuka setelah Fahira Idris mengajak Ormas keagamaan untuk tolak Starbucks. Muhammadiyah, salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia, menyambut ajakan tersebut dengan tangan terbuka. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas pun menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk mencabut ijin Starbucks di Indonesia.

Kehebohan ini terjadi secara tiba-tiba di tahun 2017, 5 tahun setelah Starbucks untuk pertama kalinya menyatakan dukungan pada hak-hak LGBT, termasuk dengan menyumbangkan sejumlah besar dana untuk gerakan legalisasi same-sex marriage di Amerika. Akhirnya banyak pihak menjadi bingung, ada apa? Kenapa sekarang tiba-tiba heboh sendiri?


Salah satunya kolumnis Geotimes, Jalal, menjabarkan dengan rinci hal-hal janggal dari seruan pemboikotan Starbucks ini melalui sebuah kolom yang berjudul Muhammadiyah versus StarbucksSaya setuju sekali dengan permasalahan yang dielaborasi dalam kolom tersebut.

Salah satunya adalah masalah keadilan dalam berpikir. Perusahaan yang ramah LGBT bukan hanya Starbucks. Microsoft, Amazon, dan Nike juga turut menyumbang dana bersama Starbucks untuk gerakan legalisasi same-sex marriage di Amerika.

Di samping itu, kini sudah terdapat hampir 400 perusahaan Amerika yang mendukung hak-hak LGBT, termasuk Facebook dan Apple. Jumlah itu belum ditambah dengan perusahaan Eropa.

Apakah kita siap memboikot semua perusahaan itu? Malah buat saya, yang lebih aneh lagi, kenapa pula kita harus memboikot mereka? Perusahaan dengan produk yang buruk akan mati dengan sendirinya tanpa harus diboikot. Sementara, kalau mereka tidak mati karena produknya bagus, maka pada akhirnya kita akan butuh juga produk mereka. Yakin mau memboikot?

Baca Juga :   Fahira Idris dan Fikih Minuman Keras

Perusahaan di seluruh dunia bergerak ke arah kemanusiaan yang lebih inklusif, maka tidak heran jika mereka menjadi ramah LGBT. Starbucks sendiri menunjukkan komitmennya yang tinggi pada kemanusiaan dalam kasus diskriminasi pengungsi Muslim di Amerika saat Trump memberlakukan pembatasan bagi Muslim untuk masuk ke negaranya (Muslim ban).

CEO Starbucks menjadi salah satu petinggi perusahaan pertama yang menolak kebijakan Trump dan menyatakan dukungan penuh untuk perlindungan hak-hak pengungsi Muslim, termasuk menyatakan siap mempekerjakan 10.000 pengungsi Muslim di perusahaannya.

Komitmen yang tinggi pada kemanusiaan mensyaratkan kemampuan untuk menjadi inklusif dan resisten terhadap diskriminasi. Nilai inilah yang dipraktikkan Starbucks dalam menjadi bagian dari peradaban.

Buat saya, tidak ada alasan untuk memboikot Starbucks. Kalau Anda mau menjadi anti Starbucks, itu merupakan kebebasan Anda. Tetapi, jangan pakai tangan Negara yang ditopang oleh seluruh pembayar pajak, tidak terkecuali saya dan mereka yang berkomitmen pada kemanusiaan, untuk mempertontonkan kebencian dan sikap diskriminasi yang menjadi antitesis terhadap kemanusiaan.


Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR