Senin, Januari 18, 2021

Harga Diri Caesar dan Seni Memberi

Ahok, Rizieq, dan Bencana Kata-kata

Sidang Ahok dalam kasus penistaan agama yang disangkakan kepadanya, juga pemeriksaan terhadap Rizieq atas berbagai aduan kepada dirinya, membuka banyak hal tentang kehidupan kita....

Merayakan Imlek di Masa Ahok

Sabtu, 28 Januari 2017, adalah Hari Raya Imlek. Hari ini biasa dirayakan besar-besaran oleh orang-orang Tionghoa, karena hari ini menandai tahun baru mereka, salah...

Telkomsel Dibajak: Suara Hacker, Suara Rakyat!

Jum'at, 28 April 2017, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan pembajakan yang dialami Telkomsel di situs resminya. Sang hacker melampiaskan amarahnya di laman utama situs Telkomsel lantaran tarif...

NU dan Luapan Emosionalisme Kaffah

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi sosial-keagamaan yang didirikan oleh para kiai pesantren di Surabaya tahun 1926 silam, pada 31 Januari 2018 ini memasuki usia ke-92....
Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta

Pejoget Caesar (kiri) dan Caesar sesudah “hijrah” (kanan).

Kembalinya Caesar bergoyang di layar kaca memicu berbagai reaksi yang intinya menyayangkan usaha “hijrah” penari itu harus gagal di tengah jalan. Kurang jelas apa yang dimaksud “hijrah” itu. Apakah meninggalkan dunia hiburan yang—mungkin—dipandang sebagai dunia gemilang dosa ke kehidupan spiritualitas yang menjanjikan ketenangan dan kedamaian hati; tidak mengejar materi dan terus mendekatkan diri kepada Ilahi agar kelak berbahagia di akhirat nanti.

“Hijrah” dan Sumbangan

Tentu hak seseorang dalam menentukan nasib dan pilihan hidupnya sendiri. Dan tulisan ini tidak ditujukan untuk menghujat pandangan “berhijrah”. Saya hanya ingin menyentuh reaksi sebagian masyarakat yang mencoba mencegah Caesar “berdosa” lagi. Karenanya, tidak hanya doa yang dipanjatkan, tetapi juga nasihat baik dari kalangan artis yang sudah “berhijrah” agar Caesar tidak berjoget lagi di televisi.

Dalam perkembangannya, para netizen menggalang dana untuk mencegah Caesar kembali ke jalan yang salah karena ada laporan penari itu sedang kesulitan uang. Mereka memperoleh berita bahwa usaha Caesar dagang cilok, tahu, dan ayam kremes tidak sebagus yang diberitakan.

Sementara itu, ada kebutuhan dana yang mendesak hingga Caesar menyetujui ajakan stasiun TV untuk berjoget lagi. Caesar dikabarkan memerlukan dana besar untuk istrinya yang sakit.

Para pendukung kehidupan ”berhijrah” bahkan bertekad akan mengumpulkan dana berapa pun yang Caesar butuhkan, termasuk membayar pinalti yang mungkin ada dalam perjanjian kontrak Caesar dengan stasiun televisi. Mereka berikrar sumbangan yang digalang melalui online bisa tembus  Rp 100 juta untuk menunjukkan betapa serius usaha mereka agar Caesar tetap “berhijrah”.

Tapi belakangan informasi ini ternyata salah. Istri Caesar bilang dia tidak menderita sakit serius. Ini berkebalikan dengan pernyataan dia sendiri setahun lalu bahwa dia mengidap penyakit kulit langka; kulit yang menebal membuat persendian seperti terkunci hingga sakitnya minta ampun.

Informasi bahwa Caesar membutuhkan dana untuk mengobati istrinya juga dibantah oleh penari itu sendiri. Penggalangan dana yang, konon, mencapai Rp 30 juta telah diserahkan Caesar kepada saudaranya yang sakit. Tidak jelas siapa saudaranya itu. Sedikit pun Caesar tidak mengambil dana tersebut.

Baik Caesar dan istrinya nampaknya dengan halus menolak bantuan dana yang dikumpulkan oleh para simpatisan. Meskipun sang istri keberatan dengan keputusan Caesar, dia juga menolak dibantu. Dia mengatakan sebaiknya penggalangan dana itu disalurkan untuk membantu rakyat Palestina saja.

Seni Memberi

Reaksi para simpatisan dalam berbagai postingan mereka menunjukkan ada kekecewaan dari sebagian mereka akan sikap Caesar dan istrinya itu. “Kok, tidak tahu terima kasih. Sudah didukung habis-habisan kok menolak.” Mungkin itu yang terbersit dalam benak mereka. Mereka sangat berharap Caesar membatalkan kontraknya di sebuah stasiun TV. Namun, sampai sekarang Caesar tidak memberikan keterangan apakah dia terus berjoget atau mengikuti seruan para mereka agar terus “hijrah”.

Dari sini nampak ada blunder yang membuat semua pihak terkunci. Blunder pertama, penggalangan dana nampaknya dilakukan tanpa persetujuan yang bersangkutan dan tidak disertai data dan informasi latar belakang yang akurat. Pengalangan dana nampaknya karena “komporan” segelintir orang yang nyinyir bilang, ”jangan cuma doa atau hujatan saja dong. Bantu dia. Galang Dana.”

Rupanya “komporan” itu manjur hingga penggalangan dana dilakukan.

Blunder kedua adalah sifat penggalangan dana untuk Caesar nampaknya lebih didasarkan pada faktor emosi ketimbang fakta di lapangan. Para simpatisan nampaknya melupakan perasaan orang yang ingin dibantu. Bahkan tanpa sadar mereka yang tujuannya baik sebenarnya telah melukai perasaan orang yang ingin ditolongnya.

Psikolog dari California, Leon F. Seltzer, Ph. D yang banyak menulis buku dan artikel , mengatakan setidaknya ada empat penyebab mengapa orang menolak bantuan. Yang pertama, gengsi. Kedua, pendidikan keluarga sejak kecil bahwa seseorang harus mandiri dan tidak boleh menerima bantuan, meski menderita karena itu sebuah kekalahan.

Yang ketiga, seseorang menolak bantuan karena merasa bantuan yang diberikan itu justru mengekang dirinya untuk bertindak sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Yang bersangkutan menolak karena merasa ada kewajiban yang harus dijalankan jika menerima bantuan itu.

Yang keempat, dan ini terkait dengan penyebab nomor tiga, yakni yang bersangkutan khawatir pemberian bantuan itu justru akan membuat dirinya terpojok di masa mendatang sekiranya dia berbuat sesuatu yang menurut para penyumbangnya bertindak tidak layak.

Nampaknya Caesar tidak suka dibantu dengan cara gembar-gembor seperti sekarang ini. Bagaimanapun dia adalah “mantan orang besar” di dunia hiburan. Ada gengsi tersendiri untuk menerima donasi seolah-olah dia sedang dalam kesulitan keuangan yang akut dan darurat. Lagi pula sebagai pribadi mungkin dia tersinggung dengan cara-cara penggalangan dana seperti ini yang seolah melecehkan kemandiriannya dalam mencari nafkah.

Ini yang mungkin dilupakan. Niatnya baik tapi caranya salah dan hasilnya salah.
Caesar adalah manusia dewasa yang punya cara tersendiri dalam mengartikan dan menempuh kehidupan dan penghidupannya. Dia punya harga diri yang seharusnya juga dihormati, apa pun pilihan hidup yang ditempuhnya nanti.

Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.