in

Doa dan Puisi untuk Palestina


Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, itu akan diisi oleh 20 lebih tokoh masyarakat, penyair, dan seniman.

Mereka antara lain Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. A. Syafii Maarif, dan Prof. Dr. Mahfud Md. Dari kalangan penyair: Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Fatin Hamama, dll. Seniman lainnya: Slamet Rahardjo, Jose Rizal Manua, Butet Kartaredjasa, Renny Djajoesman, Anis Shaleh Ba’asyin, Ratih Sanggarwati, Inaya Wahid, dll. Ada pula Group Gambus Laila Majnun dari Semarang dan Kumpulan Bunyi Sunya dari Jakarta.

Sejumlah tamu undangan dikonfirmasi akan hadir. Di antaranya Duta Besar Palestina untuk Indonesia dan Duta Besar negara-negara Arab lainnya, seperti Irak, Uni Emirat Arab, Qatar, Yaman, Oman, Mesir, dan Yordania. Juga Duta Besar Australia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Akan hadir pula sejumah pejabat dari beberapa kementerian.

Demikian juga sejumlah tokoh dari beberapa ormas Islam dan tokoh masyarakat lainnya. Acara ini terbuka untuk umum, dengan reservasi. Melihat animo masyarakat yang akan menghadiri acara ini, panitia mengantisipasi kemungkinan 812 kursi yang tersedia di gedung tak memadai. Karenanya, panitia menyediakan layar di luar gedung bagi penonton yang tak kebagian kursi.

Para pengisi acara akan membacakan puisi terjemahan karya penyair-penyair Arab/Palestina, seperti Mahmoud Darwisy, Fadwa Tuqan, Samih Al-Qasim, Jehan Bseiso, Harun Hashim Rasyid, Salma Khadra Jayusi, Rashid Husain, Jabra Ibrahim Jabra, Fauzi Makluf, Mikhail Nu’aymah, Khalil Mardam Bey, Ilya Abu Madi, Muhammad Al-Maghut, Tawfiq Sayigh, Elias Abu Syabaki, Nizar Qabbani, dan Salah Labaki. Puisi-puisi mereka telah diterjemahkan oleh Taufiq Ismail, Abdul Hadi WM, Leon Agusta (almarhum), dan Ulil Abshar-Abdalla. Ulil Abshar-Abdalla sendiri akan tampil membacakan puisi penyair Palestina dalam bahasa Arab.

Baca Juga :   Sentimen Anti-Komunisme, Dagelan yang Kian Tak Lucu

Setidaknya sejak 1982, acara semacam ini—katakanlah solidaritas sastra untuk Palestina— sudah beberapa kali digelar di Indonesia. Namun acara kali ini memiliki arti penting tersendiri. Pertama, ini adalah bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Pada 17 Agustus lalu kita merayakan kemerdekaan kita dengan meriah, dari kota-kota besar sampai desa-desa. Sementara di sana di Palestina, saudara-saudara kita masih berada di bawah terali penjajahan Israel. Alangkah ironis bahwa sebuah negara merayakan hari kemerdekan, sementara ada negara lain belum bisa meraih kemerdekaan, dan entah kapan mereka akan merayakan kemerdekaan.

Kedua, menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus lalu, orang-orang Palestina di Gaza mengirimkan ucapan selamat merayakan kemerdekaan untuk Indonesia, melalui media sosial. Mereka—orang-orang tua, remaja, dan anak-anak—berkumpul, menyanyikan “Indonesia Raya”, mengibarkan bendera merah putih dan bendera Palestina. Alangkah lebih ironis lagi bahwa bangsa Palestina yang belum merdeka itu mengucapkan selamat merayakan kemerdekaan bagi Indonesia yang sudah merdeka. Dan alangkah mengharukan pula.

Maka, acara “Doa untuk Palestina” yang diselenggarakan pada Agustus ini adalah suatu penegasan kembali atas pernyataan Presiden Soekarno di tahun 1962: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri manantang penjajahan Israel.” Ini adalah komitmen negara dan bangsa Indonesia bagi kemerdekaan Palestina, termasuk pembebasan Al-Quds Al-Syarif, kota suci umat Islam di Palestina itu.

Baca Juga :   Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Hubungan Indonesia dan Palestina memang begitu dalam. Palestina yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta. Pada September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso menjanjikan kemerdekaan negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia. Tak lama kemudian, Imam Besar Yerussalem waktu itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mengakui kemerdekaan Indonesia.

Al-Husaini adalah penentang imperialisme Inggris terutama atas Yerussalem dan Palestina, dan menentang migrasi Yahudi ke Palestina. Pria itu wafat di Beirut pada 1974. Dalam konteks itu, dukungan Indonesia terhadap Palestina tentu merupakan keharusan.

Hubungan Indonesia dan Palestina yang sangat dalam mengemuka pula dalam puisi. Hubungan Indonesia dengan Palestina dalam puisi paling tidak sudah muncul di tahun 1939. Penyair Indonesia pertama yang menulis puisi tentang Palestina adalah A Hasjmy, generasi Pujangga Baru. Penyair yang juga ulama asal Aceh ini menulis puisi berjudul “Oh Palestina”, dimuat dalam Poedjangga Baroe, Juni 1939. Puisi itu dengan tegas mengemukakan solidaritas untuk Palestina. Petikannya:

Terlayang kabar di angin selayang
Berita tabahmu Baitalmuqaddis
Kami mendengar cemas dan bimbang
Hati di dalam kembang kempis

Tampak bayangan di awan petang
Gambaran nasibmu, Palestina
Kami memandang hiba dan sayang
Semangat di dalam bergelora

Kami merasa nan Tuan rasa
Kami menanggung yang Tuan tanggung
Kita besaudara dalam agama
Kita senasib kita seuntung
….
Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah puisi, yang saya tulis di tahun 2014, sebagai doa untuk saudara-saudara kita di Palestina:

Baca Juga :   Fahira Idris dan Fikih Minuman Keras

MENANGIS, MENANGISLAH, PALESTINA

Menangis, menangislah, Palestina. Menangislah dengan isakan paling kekal. Sebab, dari tangismu jua, sungai-sungai sorga tercipta. Siapakah berkecipak di sungai itu, memainkan ricik-ricik air bagai suara gerimis yang turun meggugurkan segala luka? Para nabi yang tak henti-henti menyebut namamu.
Masjidil Aqsha
       Palestina
             Gaza

―Izinkan kiranya sungai-sungai itu bermuara di hatiku.

Menangis, menangislah, Palestina. Menangislah dengan raungan paling baka. Sebab, dari tangismu jua, kebun-kebun sorga tercipta. Siapakah memandang pepohonan yang rimbun di kebun itu, memetik bebuahan yang ranum beraroma anggur? Para nabi yang selalu mengingatmu.
Masjidil Aqsha
       Palestina
              Gaza

―Izinkan kiranya kebun-kebun itu beroma anggur dalam doaku.

Langit pun menangis, Palestina. Bulan pun menangis. Bintang-bintang menangis. Sebab, mereka tahu: burung-burung yang tercipta dari tangismu telah tiba di sorga. 


Written by Jamal D. Rahman

Jamal D. Rahman

Penyair, esais, dan dosen sastra UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemimpin Redaksi "Jurnal Sajak". Mantan pemimpin redaksi majalah sastra "Horison" (2003-2016). Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Bukunya yang akan segera terbit: Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern dan Secangkir Kopi Seorang Musafir (kumpulan esai). Penerima Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2016.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR