in

Becermin dari Rohingnya, Melihat Wajah Sendiri


Sejumlah Biksu mengikuti aksi “Jabar Peduli Rohingya” di depan Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/9). Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama ormas dan perwakilan lintas agama, menggelar aksi penggalangan dana sebagai bentuk kepedulian terhadap kasus kemanusiaan yang terjadi di Rakhine State Myanmar. ANTARA FOTO/Agus Bebeng

Rohingnya. Saya belum pernah ke sana. Tapi, saya termasuk yang tidak percaya sentimen agama menjadi latar belakang genosida di Myanmar itu. Paling tidak, saya masih percaya Buddha agama baik yang tidak akan mengajarkan keburukan, apalagi pembantaian manusia. Pun saya tak pernah percaya perang-perang yang mengatasnamakan agama benar-benar menunjukkan wajah agama itu. Pikiran saya sederhana saja: setiap agama tak bertujuan lain selain mengajak umatnya untuk hidup damai dan bahagia. Tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Jika pun ada kekerasan yang membawa-bawa agama,  itu adalah aksi kekerasan antara orang-orang beragama. Bisa dari satu agama yang sama namun berbeda aliran atau pemahaman. Bisa pula dari orang-orang yang berbeda agama. Tapi, sekali lagi, menurut saya, itu tetap tidak bisa disebut perang antar-agama. Saya tetap pada keyakinan, jika nabi-nabi dan rasul-rasul hidup dalam satu masa, satu dan lainnya akan saling menghormati dan hidup berdampingan. Namun, bisa jadi Anda akan menyebutnya angan-angan. Tapi, bukankah itu harapan surgawi kita?

Banyak pihak yang mengeluarkan data dan fakta tentang Rohingnya. Ada pula yang membanding-bandingkan dengan konflik di Palestina. Atau, tak perlu jauh-jauh, kita pun bisa melihat kehidupan di negeri sendiri yang dialami oleh golongan minoritas semisal Syiah dan Ahmadiyah. Juga yang masih terus memperjuangkan agama lokal warisan kepercayaan leluhur. Semua data, yang bahkan membela kaum yang tertindas, itu tentu beragam versi. Tapi, jika boleh jujur, tidak banyak yang bisa bersikap terbuka dan menghormati keberagaman dalam keberagamaan.

Padahal, jika ditarik benang merah, aksi kekerasan mengatasnamakan agama itu nyaris selalu terjadi karena sikap tidak menghormati perbedaan agama. Sumbu bisa digesek oleh hal-hal remeh-temeh, memang. Tapi kemudian memercikkan isu agama dan api merembet ke mana-mana. Dari lahan mata pencaharian sampai hal-hal mengenai tanah air dan kepribumian. Kekerasan dan pemaksaan kehendak akan terus terjadi di mana pun jika para penganut agama tak mampu meyakini kebenaran agamanya sendiri tanpa menyalahkan agama orang lain.

Baca Juga :   Ketika Anak Bertanya Dalil Mencintai Ibu

Apalagi jika konflik antara orang-orang beragama di negara lain memicu konflik di negeri sendiri. Semisal, rencana kepung Candi Borobudur sebagai aksi balasan atas aksi bantai terhadap Muslim etnis Rohingya. Bukankah itu justru menyulut api yang tak perlu? Umat Islam dan umat Buddha di tanah air baik-baik saja selama ini. Kita, misalnya, bisa belajar dari ikhtiar yang baik dan terus menerus masyarakat Magelang dan sekitarnya yang mayoritas Muslim. Mereka rajut kerukunan dengan masyarakat yang berbeda agama dan keyakinan lewat jalan kesenian.


Kita tentu mengutuk genosida terhadap Rohingnya. Kita berduka. Tapi, alangkah lebih baik kemarahan tak membabibuta. Aksi membela Rohingnya bisa dilakukan sesuai keadaan kita masing-masing, tak perlu merendahkan satu sama lain. Bisa seperti yang kini sedang digalang oleh para sastrawan, yaitu menyusun sebuah buku antologi puisi untuk Rohingnya. Ini tindakan mulia. Marah, sedih, mengutuk, mawas diri, mengambil hikmah, atau apa pun perasaan yang berkecamuk, ditulis dengan puisi yang telah diendapkan dulu dalam perenungan batin penyair.

Gerakan Kwartir Nasional Pramuka yang telah menembus Rakhine menyalurkan bantuan kemanusian juga layak dipuji. Mereka bergerak memang bukan untuk langsung turut memadamkan api, tapi bukan pula untuk semakin mengobarkan api itu sendiri. Pramuka memilih fokus pada menolong korban. Yang membantu di dapur umum tidak lebih rendah dari prajurit yang menghunus senjata di garda paling depan. Masing-masing memiliki kecakapannya. Tentu kita berharap jumlah yang cakap mengepulkan asap kebencian dan permusuhan tak bertambah banyak.

Baca Juga :   Dari Buthaina untuk yang Menutup Mata pada Yaman

Ya, inilah yang menyedihkan. Tak sedikit yang justru mengepulkan asap kebencian dan permusuhan di Indonesia meminjam api yang membumihanguskan Rakhine. Tidak perlu waktu lama, kabar-kabar dan gambar-gambar dusta betebaran di sini, disertai sentimen terhadap pemerintah yang dianggap lambat bersikap. Ladang genosida di Myanmar justru dijadikan lahan pembunuhan karakter di negeri ini. Konflik politik yang belum juga reda sejak pemilihan kepala negara justru seperti mendapat momentum untuk dibesarkan lagi. Politik memang tak kenal lelah.

Bahkan, diwarnai pula dengan pemolisian jurnalis karena membandingkan Suu Kyi dengan Megawati. Mengapa konflik di Myanmar justru mulai memakan korban di Indonesia? Salah apa kita? Lagi-lagi, saya sulit mempercayai konflik yang membawa-bawa nama agama itu memang konflik agama. Saya lebih menduga itu konflik politik, sosial, atau ekonomi. Konflik yang menjalar ke sumber daya manusia layak diduga disulut oleh konflik atas sumber daya alam. Itu juga yang terjadi di Aceh, Papua, dan belahan bumi lain. Bukan kaki yang diributkan, tapi tanah yang diinjak.

Kalau boleh jujur, kita tidak pernah benar-benar berkelahi demi sepetak tanah yang dijanjikan, yang disebut surga. Kita mudah terpicu untuk marah, membenci, bahkan memusuhi, ketika sepetak tanah di bumi yang kita punyai–atau yang ingin kita punyai–dikuasai orang lain. Ironisnya, agama sering dijadikan tameng, bahkan ujung tombak, untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi langkah kita itu. Isu penistaan agama pun semakin sering kita dengar dijadikan alat menyerang atau menyerang balik lawan. Lupa diri telah menyebabkan kita hilang akal dan tega.

Baca Juga :   92 Tahun Pramoedya: Yang Abadi dan Mengabadikan

Myanmar adalah wajah lain dari negara yang bisa tega pada kelompok manusia yang dianggapnya bukan pribumi, bukan pula warga negara. Rohingnya adalah wajah manusia yang dihilangkan jejak bumi tumpah darahnya dan kini seperti hendak dipunahkan dari bumi dengan menumpahkan darah mereka. Keadaan takkan membaik jika pertolongan pada Rohingnya terhalang konflik kita sendiri, yang membawa-bawa agama pula dalam tindakan yang seyogyanya atas nama kemanusiaan. Becermin dari Myanmar, mari kita melihat wajah sendiri: wajah Indonesia.

Kita pun sebaiknya tidak luput membaca bahwa Persatuan Bangsa-Bangsa bukan sama dengan persatuan negara-negara. Mengharapkan bangsa-bangsa bersatu memang sama sulitnya dengan berharap negara-negara bersatu. Kemanusiaan masih belum di atas kepentingan lain di dunia ini. Masih saja perebutan wilayah dan kekuasaan mengorbankan manusia. Sehebat-hebat teknologi robot yang menggantikan fungsi manusia tak akan bisa menggantikan satu nyawa yang hilang. Akankah lambat-laun manusia memusnahkan peradabannya sendiri?

Baca juga:

Kenapa Rohingya Lebih Menarik dari Yaman?

Rohingya dan Komoditas Politik Domestik

Politisasi Agama: Dari Rohingya, Palestina, sampai ISIS

Suu Kyi, Kejahatan atas Rohingya, dan Rekomendasi Kofi Annan


Written by Candra Malik

Candra Malik

Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR