Minggu, April 11, 2021

Australia Darurat Pelecehan Seksual Anak

Menggusur Motor dari Jalan-jalan Protokol

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memperluas pelarangan operasional sepeda motor di jalan-jalan protokol di Jakarta. Setelah pelarangan operasional sepeda motor di Jalan Thamrin hingga...

Jangan Ganggu Banci

Saya marah dan terkejut atas razia yang dilakukan oleh Pemerintah Lhoksukon dan Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, terhadap waria dan anak punk...

Pendulum Intoleransi dan Keadilan Sosial

Di sebuah rumah makan dengan hidangan sop ikan yang lezat di Kota Makassar, perhatian dan mata saya tertumbuk pada ulasan teman-teman muda dari Palopo. Mereka...

Upaya Meneguhkan Toleransi

Upaya meneguhkan toleransi merupakan tindak lanjut dari proses membangun kebersamaan dan kesetiakawanan di antara umat beragama yang memiliki perbedaan keyakinan dan cara pandang satu...
Avatar
Nadia Egalita
Alumnus Program Magister Communication and Media Studies Monash University. Kini tinggal dan bekerja di Melbourne, Australia.

Kejahatan seksual terhadap anak-anak tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Australia. Hasil investigasi yang dilakukan Royal Commission into Institution Responses to Child Sexual Abuse Australia (RCIRCSA) berhasil membongkar ribuan kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak di Australia. Dari 41.770 kasus pelecehan seksual yang diselidiki, sekitar 4.000 kasus terjadi di institusi Katolik, seperti di sekolah Katolik atau di asrama sekolah, panti asuhan, gereja, dan lain-lain.

Data yang diungkap Royal Commission pekan lalu ini tentu sangat memiriskan hati. Maka, wajar jika masyarakat Australia terkejut, sebab di negara mereka ternyata terdapat puluhan ribu anak-anak yang mengalami pelecehan seksual. Dalam laporan hasil investigasi diungkap, lebih dari 1.800 orang terduga sebagai pelaku pelecehan seksual dengan usia rata-rata usia korban 10,5 tahun untuk anak perempuan dan 11,5 tahun untuk anak laki-laki.

Keberanian Royal Commission mengungkap secara terbuka hasil investigasinya ini menuai apresiasi dari banyak pihak. Selain dinilai berhasil membongkar “gunung es” kasus pelecehan seksual terhadap anak di Australia yang sangat besar jumlahnya, komisi tersebut juga berani menyingkap sisi gelap institusi keagamaan yang selama ini cenderung disakralkan.

Tidak hanya di Australia, di negara mana pun ketika kasus pelecehan seksual terjadi di lembaga keagamaan, banyak pihak cenderung menutup-nutupinya. Tidak ada keberanian untuk mengungkap secara terbuka, karena akan merusak reputasi lembaga keagamaan. Tetapi yang dilakukan Royal Commission kali ini benar-benar di luar dugaan.

Dengan jumlah saksi korban yang diwawancarai sebanyak 8.000 lebih dan masa penyelidikan sekitar 5 tahun, yang ditemukan Royal Commission tentu bisa dipertanggungjawabkan. Hasil investigasi ini sulit dibantah, karena datanya komprehensif dan dilengkapi dengan contoh-contoh kasus pelecehan seksual yang ditemukan di lapangan.

Masyarakat awam, apalagi umat beragama yang diekspose, mungkin sulit menerima kenyataan bahwa ada orang-orang yang mereka hormati, tokoh agama, dan lain-lain terlibat dalam praktik pelecehan seksual, tetapi laporan Royal Commission membuktikan sebaliknya. Seorang pastor, misalnya yang ditempatkan sebagai sosok yang dihormati dan dipandang tidak mungkin terlibat dalam perbuatan amoral, ternyata dari laporan itu terungkap bahwa mereka pun seperti manusia kebanyakan yang lain, yang kadang khilaf, dan kemudian terjerumus melakukan tindakan pelecehan seksual.

Layaknya laki-laki normal, seorang pastor, atau orang yang dihormati umatnya, juga memiliki dorongan libido, hasrat seksual, dan sejenisnya–yang pada titik-titik tertentu bukan tidak mungkin sulit dikendalikan. Bagi orang-orang yang seharusnya menjaga mertabatnya, namun pada suatu ketika lalai dan tidak kuat menahan hasrat seksualnya, bisa saja kemudian lepas kendali. Melakukan percabulan bahkan pemerkosaan mungkin saja terjadi, ketika tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Di tampilan luar atau di front stage memang bisa saja seorang tokoh agama memperlihatkan dan membangun kesan sebagai orang suci, orang yang bisa dipercaya karena penguasaannya yang mendalam tentang ajaran agama. Tetapi, di wilayah dalam (back stage), bisa saja mereka adalah manusia biasa yang punya nafsu, libido yang tak tertahan, dan sanggup memaksa mereka untuk mencari pelepasan–walau dengan cara yang salah dan merugikan masa depan anak-anak.

In this photo provided by the Australian Government Royal Commission, the volumes of the Final Report of the Royal Commission into Institutional Responses to Child Sexual Abuse sit on a table at Government House, in Canberra, Dec. 15, 2017. The commission delivered its final 17-volume report and 189 recommendations following a wide-ranging investigation. (Jeremy Piper/Australian Government Royal Commission via AP)

Dalam laporan akhirnya, Royal Commission salah satunya dengan berani telah mengajukan rekomendasi kepada Vatikan agar tidak mewajibkan semua pastor hidup selibat alias tidak menikah. Rekomendasi ini dikeluarkan, selain karena 62% institusi yang terlibat dalam kasus pelecehan seksual adalah institusi Katolik, juga karena salah satu faktor yang menjadi penyebab pastor melakukan tindak pelecehan seksual kepada anak-anak adalah karena mereka dinilai tidak kuat terus-menerus hidup selibat.

Bagi lembaga gereja Katolik, rekomendasi yang dikeluarkan Royal Commission mungkin saja dinilai berlebihan dan menabrak pakem yang sudah berabad-abad diyakini benar. Tetapi, sebagai sebuah usulan yang melawan arus, keberanian komisi ini untuk mengeluarkan rekomendasi yang kontroversional itu sesungguhnya adalah salah satu bentuk dekonstruksi terhadap nilai-nilai mapan yang status quo.

Presiden Konferensi Uskup Katolik Australia Uskup Agung Denis Hart telah menyatakan bahwa ia akan meneruskan rekomendasi tentang hidup selibat kepada Paus Fransiskus di Vatikan. Bagaimana reaksi Paus nantinya tentu masih harus menunggu perkembangan dan pertimbangan bijak Paus sebagai pimpinan tertinggi umat Katolik.

Apa pun keputusan Gereja Katolik di Vatikan nanti terhadap rekomendasi yang diajukan, dan bagaimana mereka menyikapi isi laporan Royal Commission tentu akan sangat bijak jika bertumpu dan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak-anak (best interest of the child).

Bagi lembaga agama mana pun, ketika di sana terbongkar bahwa institusi mereka terlibat dalam praktik pelecehan seksual terhadap anak, tentu itu akan menjadi sesuatu yang menampar, bahkan aib. Apa yang terjadi di Australia tentu bukan mewakili dan refleksi dari apa yang terjadi di jajaran gereja Katolik secara keseluruhan. Namun, keberanian Royal Commission Australia membongkar aib yang memalukan ini, bagaimanapun, sebuah pelajaran yang berharga bahwa siapa pun ternyata bisa menjadi pemangsa anak.

Kita semua wajib waspada terhadap semua kemungkinan dan peluang terjadinya kasus pelecehan seksual terhadap anak–tak terkecuali pelakunya adalah orang-orang yang dianggap terhormat dan sakral.

Kolom terkait:

Tokoh Agama dalam Kasus Kriminal: Kardinal Pell dan Rizieq Shihab

Ulama-Ulama Homoseksual

Hari Santri: Pelecehan Seksual dan Wajah Layu Santri

Belajar dari Kasus Pelecehan Seksual oleh Oknum Polisi

Kekerasan Seksual, Seutuh-utuhnya Teror

Avatar
Nadia Egalita
Alumnus Program Magister Communication and Media Studies Monash University. Kini tinggal dan bekerja di Melbourne, Australia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.