OUR NETWORK

Angka Satu, LGBT, dan Ironi ODOJ-ODOS

lgbt-la
Foto: latimes.com

Entah disadari atau tidak, manusia sangat terobsesi dengan angka satu (one). ISIS yang doyan mengumbar kekerasan atas nama agama, menggunakan simbol satu (ahad), dengan cara mengacungkan telunjuknya.

Monoteisme (satu tuhan) begitu kukuh diagungkan oleh agama langit seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam. Begitu fanatik mereka mengimaninya sampai begitu tega melibas kepercayaan pagan-politeis yang dituding bid’ah lagi sesat. Konversi agama kemudian menjadi isu sentral dalam setiap ekspansi.

Bahkan yang lucu, di antara anggota agama langit pun sulit akur. Lihatlah, hanya karena salah memahami trinitas, ada ratusan juta umat Islam yang hingga kini masih memendam kejengkelan mahahebat kepada saudaranya, Kristen. Agama ini dituduh bertuhan tiga, “Tuhan, kok, punya anak”.

Dalam skala mikro, hampir tidak ada satu pun istri/suami yang rela diduakan. Menjadi “yang satu” adalah idaman. Halimah, mantan istri Bambang Triatmodjo bin Suharto, pernah sampai merusak properti Mayangsari, penyanyi terkenal era 9-0an. Halimah tak rela diduakan suaminya dengan Mayangsari. Baginya, perkawinan ideal adalah satu (monogami), bukan selain satu.

Angka satu juga menginspirasi One Day One Juz (disingkat ODOJ).

Jangan salah paham, ODOJ tidak berkaitan dengan Car Free Day, meski sama-sama memungut kata “day”. Atau, tak perlu repot mencari koneksinya dengan  boyband One Direction, meski sama-sama mengusung diksi “One”. Sungguh mereka tidak punya hubungan.

ODOJ adalah gerakan massal kontemporer semi-sistematis yang mengajak umat Islam membaca al-Qur’an, di mana pun tempatnya. Mereka biasanya menggunakan layanan private chat seperti Whatsapp untuk mengontrol anggota grup. Yang telah selesai melahap 1 juz (bagian) melapor ke grup, “Kholash, Sis,” ketik istri saya yang secara tak sengaja terlihat.

ODOJ begitu menginspirasi follower-nya, misalnya Ricky Ricarvy Irawan (31), lelaki asal Bandung yang memiliki warteg. Dia menggratiskan makanan bagi siapa saja yang mau mengaji dua juz di warungnya.

Gerakan literasi kitab suci seperti ODOJ layak kita apresiasi, sebab dari sanalah pemeluknya bisa mengaisi ajaran-ajaran suci yang terkandung. Tentu dengan syarat kita harus terlebih dahulu memahami apa yang kita baca.

Perlu kita akui, begitu banyak umat Islam kerap membaca al-Qur’an, bahkan tidak sedikit yang sanggup menghafal ratusan lembar kitab tersebut. Namun, jika boleh jujur, berapa persen dari mereka yang memahami 5 persen saja dari yang mereka baca? Ini problem krusial yang selalu membuat banyak orang tidak nyaman mengakuinya.

Logika “yang penting baca dulu, urusan paham belakangan” senyatanya membuat banyak orang Islam nyaris seperti lelucon. Misalnya, sudah berapa puluh juta kali QS. Al-Nur 31 dibaca umat Islam, namun pernahkah kita menyadari bahwa Allah menyebut entitas unik di ayat tersebut?

Ya, entitas unik, yakni laki-laki yang tidak punya hasrat seksual terhadap perempuan (ghayru uli al-irba min al-rijalikum). Lelaki gay bisa dimasukkan kategori ini, terlepas kita suka atau tidak.

Dalam realitasnya, orang-orang ini selalu hadir berdampingan sejak menit pertama sejarah manusia dimulai, termasuk dalan peradaban Islam. Arno Schmitt, intelektual Jerman, mendedikasikan hidupnya meneliti masalah ini. Salah satu masterpiece-nya yang dapat kita baca adalah Bio- Bibliography of Male – Male Sexuality and Eroticism in Muslim Societies, terbit pada 1995. Di sana, kita bisa menemukan deretan tokoh Muslim laki-laki kaliber tinggi yang suka sesama jenis.

Keengganan menelisik arti tersurat dan tersirat ayat yang kerap kita susuri menyebabkan kita juga abai QS. 24:60. Di ayat tersebut, yang juga berkait dengan dua ayat sebelumnya yakni 24:58-59, Allah nampak serius memunculkan keniscayaan adanya sosok perempuan yang tidak berketurunan (bisa karena mandul atau pilihan), dan yang tidak berhasrat menikah (dengan laki-laki). Tentu ada banyak varian perempuan dalam kriteria ini, dari yang takut kawin hingga tidak yang paling ekstrim; lesbian!

Percayalah, bukanlah hal yang rumit bagi tuhan untuk menciptakan perempuan yang lebih tertarik secara seksual dengan perempuan. Kita saja yang terkadang agak kurang ajar mereduksi kekuasaan-Nya dengan cara berfikir Dia tidak mampu dan/atau tidak mau menciptakan entitas non-heteroseksual.

Bagi saya, dua ayat di atas adalah remah tekstual (naqly) yang sifatnya subtil dan definitif (qath’iy) akan eksistensi seseorang yang berbeda dari kebanyakan. Oleh karenanya, kalau mau jujur, kita seharusnya tidak lagi sembrono menggebyah uyah dengan mengatakan “setiap laki-laki pasti suka perempuan” atau “setiap perempuan tidak mungkin tidak suka laki-laki”, atau bahkan “menikah heteroseksual adalah wajib dan satu-satunya bentuk”.

Dua ayat tersebut, sekali lagi, merupakan landasan teologis yang bisa diacu untuk mengembangkan teori queer yang bertujuan mengeksplorasi rahasia Tuhan dalam urusan seksualitas dan ketubuhan.

Namun, tentu saja, saya sadar tidak semua orang bisa dan berani mengakui hal ini. Tuhan sendiri telah mengingatkan jauh-jauh hari; “hanya orang-orang yang disucikan saja yang mampu menyentuh al-Qur’an” (la yamassuhu illa al-muthahharun).

Di tangan orang yang kalap hati dan pikirannya, al-Qur’an justru berpotensi digunakan sebagai instrumen menindas kelompok minoritas seksual, sebagaimana yang tampak nyata dalam beberapa bulan terakhir ini. Mereka memaksakan kehendak, bahkan hingga meminta bantuan Mahkamah Konstitusi dan juga Majelis Ulama Indonesia.

Kita harus tahu, setiap hari jutaan orang non-heteroseksual, atau kerap disebut lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, and questioning  (LGBTIQ) berjuang mati-matian agar bisa diperlakukan setara sebagaimana yang lain. Di beberapa tempat, mereka diburu layaknya binatang untuk dijebloskan ke penjara atau dihukum mati.

Pada 9 November lalu kelompok LGBTIQ menggandeng banyak orang dalam jaringan One Day One Struggle (ODOS). Mereka secara lantang meneriakkan kesetaraan dan kemanusiaan tanpa sekat perbedaan identitas gender dan seksual.

Mayoritas pengusung ODOS sangat mungkin tidak rajin membaca kitab suci layaknya ODOJ. Namun, komitmen mereka membela yang tertindas dalam urusan seksualitas tak terbantahkan. Saya terkadang mikir, jangan-jangan merekalah yang masuk kategori al-muthahharun sebagaimana disinggung dalam QS. 56:79. Wallahu a’lam.

Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…