in

Ahok, Kartini, dan Kebangkitan Perempuan dalam Politik


Penulis saat menjadi saksi dalam sidang di Mahkamah Konstitusi terkait calon independen.

Ketika semua orang menulis soal Kartini di hari yang merayakan kisahnya, saya memutuskan menulis soal Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bukan karena tak peduli dengan hari yang menandai kebangkitan kaum perempuan, tapi karena Ahok merupakan salah satu sosok yang membangkitkan perempuan muda seperti saya agar mau berkontribusi lebih terhadap bangsanya.

Kemarin, saya menghabiskan waktu melihat foto-foto lama ketika magang di kantor gubernur. Waktu itu saya tidak banyak mengerti tentang politik praktis, apalagi tentang pemerintahan. Ahok mengajarkan itu semua. Ia memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman untuk bekerja dalam tim yang membantu perizinan. Kami jadi sering bertemu banyak PNS, berdiskusi dengan mereka, dan memahami cara kerja mereka.

Setiap rapat-rapat penting, Ahok mempersilakan kami untuk ikut. Di sana, saya banyak belajar tentang ketegasan dan keberanian. Ahok mengajarkan saya bahwa, meski ada ratusan kepentingan di negeri ini, kepentingan warga harus di atas segalanya. Terkadang ia suka marah-marah, tapi setiap kemarahannya itu karena kegemasannya atas kinerja tidak benar pejabat publik yang merugikan rakyat, baik secara waktu, uang, maupun tenaga.

Ahok adalah orang yang membuat saya berani pada usia 18 tahun pergi ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan menjadi saksi untuk meringankan calon independen. Alasan saya sederhana saja: saya ingin kepala daerah yang berprestasi maju. Ketika masuk ke dalam ruangan MK, keinginan agar Ahok tetap memimpin Jakarta menjadi pegangan kuat saya sehingga hantaman pertanyaan dari hakim MK pun tak membuat saya gentar.

Karena seorang Ahok, anak muda kuliahan seperti saya bisa magang selama empat bulan di kantor gubernur. Bukan hanya magang dan mengikuti kegiatannya secara normatif, tapi kami betul-betul diberi kesempatan bekerja dan berkontribusi. Selama itu bagus, Ahok tidak pernah meremehkan. Sebaliknya, ia justru memberi apresiasi.

Baca Juga :   Kelas Menengah Muslim dalam Pusaran Sentimen Identitas

Saya selalu ingat kata-katanya. “Kalau sudah selesai magang, balik ke daerah kalian. Lalu nyalon mulai dari DPRD tingkat dua,” kata Ahok. Yang magang bersamanya bukan hanya warga Jakarta, tapi banyak pula yang dari daerah di luar Jakarta, bahkan luar Jawa. Ahok mendorong banyak anak muda maju ke politik agar membawa perubahan bagi negerinya.

Tepat satu tahun lalu bulan April, periode magang saya bersama Ahok harus berakhir. Sedih rasanya. Masih ingin banyak belajar dari sosok gubernur yang begitu idealis. Memang empat bulan waktu yang singkat, tapi empat bulan itu adalah momen yang mengubah hidup saya selamanya. Jika tak berlebihan, saya ingin katakan, Ahok telah mengubah hidup saya sejak saya mengenalnya.


Setelah selesai magang bersama Ahok, begitu banyak tulisan mengalir. Saya tidak pernah bosan menceritakan pengalaman magang bersama Ahok yang singkat itu dalam tulisan-tulisan saya. Hingga akhirnya, 17 April lalu, saya berhasil menerbitkan buku pertama saya yang berisi kumpulan artikel. Dan dalam buku itu, ada satu bab khusus yang menceritakan sosok Ahok.

Tanpa Ahok, mungkin saya tidak akan bisa terinspirasi sejauh ini. Momen magang bersamanya adalah momen ketika saya memutuskan bahwa politik adalah sebuah keharusan. Sejak selesai magang dengannya, saya bukan hanya menulis tapi juga mendirikan LSM Perempuan Politik bersama teman-teman magang saya untuk membangkitkan kesadaran perempuan terhadap politik. Semuanya karena terinspirasi oleh Ahok.

Baca Juga :   Ironi Cabai dan Petualangan Rasa Pedas

Ahok membuat saya melakukan pemaknaan ulang atas politik. Jika dulu, bagi saya, politik adalah masalah perebutan kekuasaan yang kotor, hari ini saya mengatakan bahwa politik adalah kekuasaan untuk melayani rakyat. Ahok membuat saya menjadi saksi mata bagaimana segala kekuasaan yang ia miliki digunakan untuk melayani warganya. Ia menjamin warganya dari mulai lahir ke dunia hingga kembali ke liang lahat.

Maka, ketika saya membaca satu komentar di laman Facebook saya yang ditulis oleh Arief Rasyad untuk menyemangati saya agar terus berpolitik, saya sangat terharu dan bahkan akhirnya meneteskan air mata.

You’re an amazing young political activist, keep up the good work. Someday I will see you as the first female governor of Jakarta,” tulis Arief.

Saya tidak kuasa menahan air mata, karena saya ingat siapa tokoh yang membuat saya begitu ingin menjadi gubernur: Ahok!

Ahok yang membuat saya memiliki mimpi menjadi gubernur. Karena, saya ingin seperti Ahok. Saya ingin bisa memberikan jaminan kesehatan dan pendidikan bagi rakyat miskin. Saya ingin berani melawan oknum-oknum politisi dan birokrat yang mau mencolong uang rakyat. Saya ingin menjadi orang yang berada dalam garda terdepan melawan intoleransi. Pokoknya, saya ingin jadi gubernur seperti Ahok yang bisa menolong orang banyak dan merasa hidupnya sukacita karena itu.

Apalagi kini, ada pelajaran baru yang saya dapatkan ketika konferensi pers kekalahan Ahok Rabu lalu (19/4). Ahok terlihat tanpa beban. Mukanya santai, tidak terlihat sedikit pun kesedihan seperti yang saya dan banyak pendukungnya rasakan.

Baca Juga :   Ujian Berat Basuki

“Pendukung kami pasti sedih dan kecewa. Enggak apa-apa, percayalah kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan pula yang ambil,” kata Ahok seperti dikutip Kompas.com (19/04).

Kelihatan sekali bahwa Ahok tidak ngoyo dengan jabatan gubernur. Ahok begitu legowo menerima kekalahannya.

Ini membuat saya belajar mengenai pentingnya menjaga prinsip. Jika suatu saat nanti saya diamanahkan untuk menjadi pejabat publik, kebenaran akan selalu saya perjuangkan. Jangan pernah takut memperjuangkan yang benar hanya demi mempertahankan jabatan. Jabatan hanya sesaat, semuanya atas izin Yang Maha Kuasa. Tapi, kebenaran harus menjadi bagian dari prinsip yang kita pegang.

Memang, Ahok kalah dalam Pilkada Jakarta 2017. Tapi, ia sudah menjadi bagian dari sejarah besar negeri ini. Setiap orang bisa menjadi pejabat, tapi hanya sedikit dari mereka yang dikenang. Ahok sebentar lagi akan meninggalkan Balaikota, tapi ia telah memunculkan nilai-nilai yang akan diabadikan dalam sejarah. Nilai tentang toleransi, keadilan, keberanian, dan ketegasan.

Pak Ahok, terima kasih. Di Hari Kartini ini, saya ingin katakan, jika suatu hari nanti saya terjun ke politik, saya ingin menjadi seorang perempuan yang melanjutkan nilai dan prinsip yang selama ini Bapak pegang sebagai seorang pejabat.

Percayalah Pak Ahok, semuanya tidak akan sia-sia. Satu Ahok kalah, Seribu Ahok lahir!


Written by Tsamara Amany

Tsamara Amany

Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Pendiri LSM Perempuan Politik, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR