Sabtu, Maret 6, 2021

Soal Katolik dan Anjing itu

Mencegah Internasionalisasi Kasus Ahok

Keputusan Presiden Joko Widodo membatalkan kunjungannya ke Australia, Sabtu pekan lalu, bisa dipandang sebagai upaya mencegah internasionalisasi kasus Ahok. Sudah bisa dipastikan kedatangan Presiden...

Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita

Apa yang hilang dari kita? Kita, umat Islam di Indonesia saat ini. Bagi Quraish Shihab adalah "akhlak". Yang Hilang dari Kita: Akhlak, judul karya...

Intoleransi atau Ketidakadilan?

Sehari sebelum aksi 4 November lalu, Ian Wilson menulis "Making enemies out of friends" (New Mandala). Dia mempertanyakan dugaan bahwa peristiwa itu hanya didorong...

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

  Paus Fransiskus mencium kaki sejumlah pengungsi, termasuk tiga pria Muslim, saat ritual pencucian-kaki di pusat pengungsi Castelnuovo di Porto dekat Roma, Italia, Kamis (24/3)....
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Akhir-akhir ini saya melihat demikian banyak posting tentang perempuan Katolik yang bersepatu dan membawa anjing masuk ke masjid. Kabarnya, dia diberitahu bahwa suaminya sudah menjadi mualaf dan akan menikah di masjid itu. Jadilah, dia datang ke masjid itu dan marah-marah.

Ada orang yang membuat video kejadian itu. Seorang penceramah agama kabarnya menggaraminya sehingga sempurna sudah kejadian ini menjadi huru-hara di media sosial. Orang berdebat kiri dan kanan.

Semua dalil agama dikemukakan — tentang najisnya anjing. Tentang perempuan yang tidak melepas sepatunya. Tentang tidak tolerannya si perempuan Katolik ini. Tentang perasaan teraniaya yang dimunculkan oleh para pengipas (provocateur).

Kemudian ada kabar tambahan. Perempuan itu ternyata menderita depresi. Tapi itu tidak menghentikan perdebatan.

“Di jaman Jokowi ini,” demikian sekilas saya baca komentar seseorang, “semakin banyak orang menderita depresi.” Untuk saya, tidak terlalu sulit menebak siapa sesungguhnya yang menderita depresi di jaman Jokowi ini.

Mengapa ini terjadi? Mengapa bahkan kita perlu berdebat atau memperdebatkan soal seperti ini? Sebagian orang membuatnya menjadi sangat penting seolah-olah ini persoalan hidup dan mati. Dan jadilah dia berwujud penghinaan dan pencemaran agama. Polisi pun dilibatkan. Perempuan depresi yang membawa anjing kemana-mana itu akhirnya masuk dalam tahanan.

Untuk saya kejadian ini menyedihkan. Saya melihat dengan masygul orang-orang yang terbakar oleh bahan-bahan yang disiarkan oleh beberapa penceramah agama. Di media sosial, orang-orang mengeroyok seorang kawan, yang saya tahu sangat dalam ilmu agamanya. Para pengeroyoknya justru menuduhnya tidak punya ilmu agama.

Saya kira, ini adalah sebuah simptom dari sebuah penyakit sosial yang sudah sangat mendalam. Ini adalah tanda-tanda masyarakat yang terbelah kepribadiannya. Masyarakat schizophrenic. Masyarakat yang diharuskan menjadi saleh, sesaleh-salehnya untuk meraih hidup surgawi sesudah mati. Namun pada saat yang bersamaan juga diiming-imingi kesejahteraan hidup yang luar biasa di dunia. Keduanya tidak bisa dipegang. Ke surga mensyaratkan mati. Hidup berkelimpahan di dunia mensyaratkan tidak saja kerja keras tapi juga kecerdasan, ketangguhan, dan keuletan.

Kepribadian ini dengan sangat mudah dieksploitasi. Tiupkanlah sedikit harapan, maka orang menjadi bergetar. Tiupkanlah sedikit kabar yang samar-samar, orang akan mengamuk. Bicaralah dengan kelembutan yang plastis, orang akan menangis tersedu-sedu. Orang menjadi sangat gampang terharu, marah, jengkel, benci, dan mengamuk.

Dan lihatlah ada industri yang sudah tumbuh untuk mewadahi schizophrenia ini. Ada motivator-motivator untuk mendampingi orang-orang bimbang. Mereka mengajarkan menjadi kaya; sekali pun mereka sendirilah yang kaya. Ada penceramah-penceramah agama yang tidak perlu belajar agama dalam-dalam. Asalkan bisa memberi jalan keluar dari kegalauan, maka dia akan ditahbiskan menjadi agamawan.

Itulah sesungguhnya terjadi mengapa perempuan depresi dengan seekor anjing di masjid memancing kemarahan yang luar biasa. Persoalan sederhana dikipas kencang-kencang hingga menghidupkan bara schizophrenic itu menjadi api.

Di tengah kemasgyulan saya itu, tiba-tiba seorang kawan menuliskan statusnya yang menurut saya sangat jernih. Mengapa ketika ada orang membawa bom ke gereja, tidak ada kehebohan seperti ini? Saya terus terang tertegun dengan ingatan itu. Banyak orang mati, luka, dan cacat seumur hidup karenanya. Tidak itu saja. Banyak orang menderita trauma seumur hidupnya karena bom itu.

Schizophrenia menghilangkan nurani. Itulah yang agaknya tidak ada kehebohan perempuan Katolik depresi yang bersepatu dan membawa anjing masuk ke dalam masjid.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.