Rabu, April 14, 2021

Situasi Jokowi: Anak Polah Bopo Kepradah

Mengawal Perjalanan Literasi Anak Sejak Dini

"Halo teman-teman, nama saya Kirana. Hari ini saya ingin membacakan buku berjudul Anduang karya Bunda Dewi ...." Seorang gadis kecil berbaju biru menyapa dengan sumringah. Kirana...

Jokowi, Putin, dan Islam di Mata Rusia

Indonesia dan Turki adalah dua negara Islam yang selalu mendapat perhatian khusus dari Rusia, dengan cara dan "kacamata" yang sangat berbeda. Bagi Rusia, sebagai...

Stigma dan Nasib Pengungsi Suriah di Eropa

Migran dari Suriah, Sulaiman Touba, 16 tahun, dan sepupunya Ali Khalil, 20 tahun, mendekorasi pohon Natal di ruang keluarga mereka di kamp pengungsi di...

Jokowi dan Nasib Masyarakat Adat

Hari Masyarakat Adat Internasional kembali dirayakan tiap 9 Agustus. Hari itu diperingati sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-Hak...
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Ketika tiba-tiba Gibran, anak sulung Jokowi berubah pikiran dan ingin terjun ke politik, tidak banyak yang tahu, Jokowi awalnya tidak setuju.

Jokowi berusaha mencegahnya. Ia bahkan mengutus seseorang yang dipercayainya untuk membujuk Gibran. Tujuannya agar sang anak membatalkan niatnya maju jadi Cawako Solo.

Jokowi orang yang berperasaan halus, merasa sungkan, dan tahu diri. Ia paham soal etika. Maka dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menetralkan suasana. Kalaupun Gibran mau mencalonkan diri, mungkin sesudah 2024 nanti.

Tetapi Gibran punya pendapat lain. Solo dikuasai oleh generasi lama. Pandangan-pandangan millenial tidak mendapat tempat. Solo memang berkembang. Tapi dengan cara pandang kuno. Padahal Solo bisa lebih hebat dari itu.

Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk menggeser kebiasaan: mewariskan kekuasaan pada orang-orang lama. Karena jika harus menunggu lima tahun lagi, bisa jadi ia tak punya kesempatan itu.

Gibran memberanikan diri untuk mengambil langkah maju.

Kemudian yang tersisa di belakang itu adalah buah simalakama. Jika Jokowi bersikeras melarang, hubungan ayah-anak tentu akan memburuk. Tapi sebaliknya, Jika Jokowi mendukung, maka orang-orang akan memberikan cap kepadanya, menyiapkan dinasti politik.

Maka sejauh ini Jokowi abstain. Ia tidak mengambil sikap mendukung atau melarang, setuju atau tidak setuju. Jokowi tidak memberikan bantuan, apalagi menjulurkan lengan kekuasaan untuk membantu anaknya. Ia juga tidak menghambat langkah anaknya itu.

Gibran telah mengambil keputusan. Maka langkah politik selanjutnya adalah urusan Gibran dan tim politiknya. Ia merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri.

Kondisi Jokowi itu mengingatkan kita pada pepatah Jawa, anak polah bopo kepradah, karena ulah sang anak, orang tua harus ikut terkena imbasnya. Dalam situasi ini, sebenarnya Jokowi tidak “kepradah” dalam arti menghalalkan segala cara untuk mendukung sang anak.

Atau dengan istilah lain, cancut taliwondo, berjuang habis-habisan untuk memberikan panggung. Seperti yang marak dilakukan oleh politikus lainnya.

Kepradah yang tepat dalam posisi Jokowi saat ini adalah terkena imbas, terseret dalam cercaan pendukungnya sendiri. Ia diragukan niat baiknya untuk berbakti pada negara ini.

Padahal selama ini apa yang tidak dilakukan Jokowi untuk bangsa ini? Ia telah menjauhkan keluarganya dari jangkauan kekuasaan sekian lama. Tidak memberikan fasilitas pada perusahaan anak-anaknya. Mereka tumbuh sebagaimana anak-anak dari orang tua biasa, yang tak mengandalkan orang tuanya.

Bahkan istrinya sendiri menolak titipan politikus. Ia memisahkan urusan pekerjaan presiden dengan posisinya sebagai istri.

Tapi seperti panas setahun yang hilang karena hujan sehari, semua itu lenyap hanya gara-gara anaknya berubah pikiran dan maju ke gelanggang politik. Usaha keras yang dia lakukan selama bertahun-tahun lamanya tidak dihitung sebagai prestasi.

Dalam kondisi kepradah itu, memangnya apa yang bisa dilakukan Jokowi? Apa yang bisa dilakukan oleh seluruh politikus modern di dunia ini?

Ia hanya akan mengunyah buah simalakama. Apapun pilihan Jokowi ia akan tetap disalahkan nanti.

Tidak mudah menjadi anak Jokowi. Dulu mereka dicibir karena tidak mau terjun ke politik. Dianggap egois dan hanya mementingkan kekayaan. Sementara nasib orang-orang miskin di sekitarnya tidak dipikirkan.

Sekarang ketika tantangan itu diambil, mereka juga mendapat cibiran. Dianggap menunggangi kekuasaan bapaknya. Padahal mereka tak mendapat bantuan politik apa-apa.

Berat memang menjadi anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang kebesaran orang tuanya. Terutama jika itu adalah anaknya Jokowi. Maju salah, mundur salah. Bahkan mungkin, diam saja mereka juga salah.

Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.