Sabtu, Maret 6, 2021

Situasi Jokowi: Anak Polah Bopo Kepradah

Koperasi Pendidikan

Pendidikan merupakan hal penting dan mendasar untuk kemajuan suatu bangsa, menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita setiap negara di dunia. Pendidikan bagian proses...

Bagaimana Indonesia Jadi Budak Investor Asing

Jika kualitas pembangunan sumberdaya manusia menjadi ukuran kemakmuran, Indonesia jauh ketinggalan dari negeri-negeri Amerika Latin. (Lihat Tabel). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia kurang-lebih sama...

Freeport dan Ilusi Bela Negara

Program Kementerian Pertahanan di bawah Menteri Ryamizard Ryacudu tentang bela negara pada dasarnya mengajak kepada sesuatu yang penting. Bulan-bulan ini, setelah takluk dikepung asap,...

Mengekang Syahwat Senayan atas “Dana CSR”

Hari-hari ini banyak orang Indonesia yang mendalami keberlanjutan perusahaan seperti mengalami déjà vu, terlempar kembali ke Juli 2007. Ketika itu pertama kali terdengar rencana...
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Ketika tiba-tiba Gibran, anak sulung Jokowi berubah pikiran dan ingin terjun ke politik, tidak banyak yang tahu, Jokowi awalnya tidak setuju.

Jokowi berusaha mencegahnya. Ia bahkan mengutus seseorang yang dipercayainya untuk membujuk Gibran. Tujuannya agar sang anak membatalkan niatnya maju jadi Cawako Solo.

Jokowi orang yang berperasaan halus, merasa sungkan, dan tahu diri. Ia paham soal etika. Maka dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menetralkan suasana. Kalaupun Gibran mau mencalonkan diri, mungkin sesudah 2024 nanti.

Tetapi Gibran punya pendapat lain. Solo dikuasai oleh generasi lama. Pandangan-pandangan millenial tidak mendapat tempat. Solo memang berkembang. Tapi dengan cara pandang kuno. Padahal Solo bisa lebih hebat dari itu.

Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk menggeser kebiasaan: mewariskan kekuasaan pada orang-orang lama. Karena jika harus menunggu lima tahun lagi, bisa jadi ia tak punya kesempatan itu.

Gibran memberanikan diri untuk mengambil langkah maju.

Kemudian yang tersisa di belakang itu adalah buah simalakama. Jika Jokowi bersikeras melarang, hubungan ayah-anak tentu akan memburuk. Tapi sebaliknya, Jika Jokowi mendukung, maka orang-orang akan memberikan cap kepadanya, menyiapkan dinasti politik.

Maka sejauh ini Jokowi abstain. Ia tidak mengambil sikap mendukung atau melarang, setuju atau tidak setuju. Jokowi tidak memberikan bantuan, apalagi menjulurkan lengan kekuasaan untuk membantu anaknya. Ia juga tidak menghambat langkah anaknya itu.

Gibran telah mengambil keputusan. Maka langkah politik selanjutnya adalah urusan Gibran dan tim politiknya. Ia merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri.

Kondisi Jokowi itu mengingatkan kita pada pepatah Jawa, anak polah bopo kepradah, karena ulah sang anak, orang tua harus ikut terkena imbasnya. Dalam situasi ini, sebenarnya Jokowi tidak “kepradah” dalam arti menghalalkan segala cara untuk mendukung sang anak.

Atau dengan istilah lain, cancut taliwondo, berjuang habis-habisan untuk memberikan panggung. Seperti yang marak dilakukan oleh politikus lainnya.

Kepradah yang tepat dalam posisi Jokowi saat ini adalah terkena imbas, terseret dalam cercaan pendukungnya sendiri. Ia diragukan niat baiknya untuk berbakti pada negara ini.

Padahal selama ini apa yang tidak dilakukan Jokowi untuk bangsa ini? Ia telah menjauhkan keluarganya dari jangkauan kekuasaan sekian lama. Tidak memberikan fasilitas pada perusahaan anak-anaknya. Mereka tumbuh sebagaimana anak-anak dari orang tua biasa, yang tak mengandalkan orang tuanya.

Bahkan istrinya sendiri menolak titipan politikus. Ia memisahkan urusan pekerjaan presiden dengan posisinya sebagai istri.

Tapi seperti panas setahun yang hilang karena hujan sehari, semua itu lenyap hanya gara-gara anaknya berubah pikiran dan maju ke gelanggang politik. Usaha keras yang dia lakukan selama bertahun-tahun lamanya tidak dihitung sebagai prestasi.

Dalam kondisi kepradah itu, memangnya apa yang bisa dilakukan Jokowi? Apa yang bisa dilakukan oleh seluruh politikus modern di dunia ini?

Ia hanya akan mengunyah buah simalakama. Apapun pilihan Jokowi ia akan tetap disalahkan nanti.

Tidak mudah menjadi anak Jokowi. Dulu mereka dicibir karena tidak mau terjun ke politik. Dianggap egois dan hanya mementingkan kekayaan. Sementara nasib orang-orang miskin di sekitarnya tidak dipikirkan.

Sekarang ketika tantangan itu diambil, mereka juga mendapat cibiran. Dianggap menunggangi kekuasaan bapaknya. Padahal mereka tak mendapat bantuan politik apa-apa.

Berat memang menjadi anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang kebesaran orang tuanya. Terutama jika itu adalah anaknya Jokowi. Maju salah, mundur salah. Bahkan mungkin, diam saja mereka juga salah.

Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.