Selasa, Maret 2, 2021

Siapkah Jakarta Dipimpin Perempuan?

Bocoran Pembagian Menteri Bukti Koalisi Prabowo-Sandiaga Bermasalah

Pengakuan Hashim Djojohadikusumo yang menyebut jatah menteri kabinet Prabowo-Sandiaga jika terpilih telah dibicarakan dengan komposisi tujuh menteri untuk PAN dan enam kursi menteri untuk...

Suara Milenial dalam Jaket Denim Jokowi

Yang harus di kritik dari Jokowi itu pilihan sepatunya, bukan jaket denimnya.

Yes We Scan: Perjuangan Edward Snowden dan Senjakala Kehidupan Privat

The Conversation (1974), Nineteen Eighty-Four (1984), Brazil (1985),  Enemy of the State (1998), Minority Report (2002), A Scanner Darkly (2006), The Lives of Others...

Imaji Perempuan dan Media Sosial

Memandang suatu isu sosial berskala besar tanpa mencermatinya melalui satu per satu realitas sederhana yang terjadi di sekitar kita adalah sebuah kealpaan, atau bisa...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

risma-perempuan
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) berbincang dengan sejumlah wali kota perempuan peserta PreCon III UN-Habitat pada pertemuan wali kota se Asia-Pasifik di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (24/7). ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Apa kesamaan Jakarta dan Amerika Serikat? Sama-sama belum pernah dipimpin perempuan. Untuk masalah presiden perempuan, Indonesia lebih unggul ketimbang Amerika, sebab sudah punya lebih dulu. Jakarta? Ibukota satu ini belum pernah sama sekali. Bahkan untuk jabatan wakil gubernur sekalipun.

Sempat terdengar nama Hasnaeni “Wanita Emas” Moein yang maju di Pilkada DKI Jakarta 2012, namun terjungkal manis.

Nama Tri Rismaharini alias Risma belakangan digadang sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Bukan wacana baru memang “menyeret” wanita tegas itu untuk membereskan Ibu Kota. Sepak terjang Risma sebagai Wali Kota Surabaya ternyata membuat sebagian warga Jakarta terpincut.

Mungkin bukan sepenuhnya aspirasi warga, ada pula kepentingan politik kalangan tertentu, mengingat sosok Risma yang sedemikian kuat. Ada Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengayunkan sinyal memasangkan Risma dengan Sandiaga Uno. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan PDI Perjuangan pun memasukkan nama Risma dalam rencana mereka berkoalisi, walau ada nama lain, Budi Waseso.

Ada pula organisasi Gerak Indonesia, yang sudah 16 kali melancarkan deklarasi dukungan pada Risma untuk maju di Pilkada DKI. Kelompok lain, Jaklovers (Jakarta Love Risma), bahkan sampai rela melobi Risma ke Surabaya. Belum lama ini lahir deklarasi kelompok yang mengklaim bernama Persatuan Rakyat untuk Risma (Praktis).

Popularitas Risma sebagai pemimpin daerah memang menonjol. Bersama Ahok dan Ridwan Kamil, Risma disebut sebagai nama yang potensial dalam Pilkada Jakarta, setidaknya menurut survei Pusat Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia.

Pertanyaannya adalah, apakah Jakarta benar-benar sudah siap memiliki gubernur perempuan?

Sejak dipimpin gubernur pada 1945, DKI Jakarta belum sekalipun dipimpin wanita. Sebanyak 17 gubernur DKI 100% pria, juga wakilnya. Kendati kota metropolitan itu majemuk, sulit dipungkiri bahwa Jakarta merupakan kota yang masih patriarkis. Pertama kali Jakarta punya wali kota perempuan baru terjadi pada 2008, Sylviana Murni, yang memimpin Jakarta Pusat.

Jabatan camat atau lurah pun hanya segelintir saja yang dipegang kaum hawa. Dari sini tergambar bahwa semodern-modernnya Jakarta tetap saja ada aroma patriarkis. Jangan lupakan fakta bahwa Jakarta merupakan markas sejumlah organisasi kemasyarakatan yang dikenal anti terhadap pemimpin wanita.

Hal itu mengingatkan kita pada Amerika Serikat. Seliberal-liberalnya negara itu, tetap saja belum punya presiden wanita terpilih. Ini tak dapat lepas dari kuatnya pengaruh kelompok fundamentalis di sana, yang masih menganggap wanita tak layak memimpin negara. Pertarungan antara Donald Trump melawan Hillary Clinton sekarang ini menjadi semacam babak penentu apakah Amerika Serikat sudah mampu menerima pemimpin perempuan.

Sedikit berandai-andai, apabila Risma maju di Pilkada DKI Jakarta, itu pun menjadi penentu apakah warga Jakarta benar-benar ikhlas dipimpin seorang perempuan.

Risma bukan wanita kebanyakan, memang. Surabaya yang identik dengan suasana panas, arek-arek lugas, cocok dengan karakter Risma yang tegas, keras, dan ceplas-ceplos. Risma bukan tipikal pejabat perempuan yang gemar berdandan, tampil glamour, berperilaku remah gemulai. Dia lebih seperti perempuan tomboi yang perkasa, gesit, dan tidak suka basa-basi.

Tanpa tedeng aling-aling Risma menutup lokalisasi Dolly, yang belum pernah dilakukan wali kota sebelumnya. Dia pun tak segan melakukan razia ke tempat-tempat hiburan malam untuk menjemput pulang anak-anak di bawah umur. Mengaku memulai aktivitas sejak usai salat subuh, Risma dapat dikatakan menghabiskan waktu dan energinya bagi kota yang dipimpinnya. Bagaikan ibu yang galak, tegas, penuh kasih, itulah Risma bagi Surabaya.

Apa benar Jakarta siap dipimpin wanita? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab warga Jakarta. Bukan partai atau kelompok lain yang sekadar punya kepentingan politik atau bisnis.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.