Jumat, Januari 22, 2021

Siapa Suruh Gabung ISIS?

Yes We Scan: Perjuangan Edward Snowden dan Senjakala Kehidupan Privat

The Conversation (1974), Nineteen Eighty-Four (1984), Brazil (1985),  Enemy of the State (1998), Minority Report (2002), A Scanner Darkly (2006), The Lives of Others...

Mengkudeta Presiden Jokowi?

Salah satu dampak kudeta yang gagal di Turki, banyak kalangan—terutama para "pembenci" Presiden Joko Widodo (Jokowi haters)—yang menjadikannya momentum untuk melakukan testing the water...

Hari AIDS Sedunia, Kondom, dan Kemunafikan Kita

1 Desember adalah Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) dan tahun ini adalah peringatan yang ke-28. Tema yang diusung WHO tahun ini adalah "Hands...

Big Data, Simultan Melawan Corona

Virus Corona menjadi perhatian serius di hampir semua negara, terkhusus yang masuk kategori zona merah, yang tentu memerlukan upaya penanganan yang ekstra ordinary. Penularan...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Kisah tentang ratusan orang Indonesia di Suriah menimbulkan rasa duka sekaligus dilema bagi publik dalam menyikapi masalah ini; dilema antara memilih aspek kemanusiaan atau keamanan. Di antara mereka ada anak-anak, perempuan atau janda yang ditinggalkan suaminya yang dulu bergabung dengan militan Negara Islam Irak dan Syria (ISIS).

ISIS telah dikalahkan pada Maret lalu oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), dan saat ini keluarga ISIS asal Indonesia tersebut ditampung di selter pengungsian milik lembaga kemanusiaan internasional di Al Hawl, Suriah. Sementara itu, kaum laki-lakinya ditahan di penjara. Tidak ada angka pasti berapa jumlah mereka, Majalah Tempo baru-baru ini melaporkan—dari pengakuan salah satu perempuan ISIS penghuni kamp saat wawancara—bahwa ada sekitar 200 orang Indonesia di kamp Hawl. Bila angka tersebut valid, artinya itu masih belum termasuk jumlah laki-laki yang ada di penjara SDF.

SDF saat ini merupakan penguasa de facto di Suriah utara. Sebagai “aktor non-negara” dalam konflik Suriah, sebenarnya Pemerintah Republik Indonesia tidak memiliki akses langsung dengan SDF, bahkan banyak pihak melabelinya sebagai kelompok pemberontak atau separatis Kurdi.

Pihak SDF jauh hari telah memohon kepada dunia internasional agar negara-negara asal keluarga ISIS memulangkannya. Seorang keluarga teroris asal Indonesia yang diwawancarai Tempo  itu pun berharap kemungkinan dirinya bisa kembali ke tanah air.

Sekarang keputusan ada di tangan pemerintah. Kabar terkini tersiar ada sinyal bahwa Pemerintah RI akan membantu kepulangan keluarga ISIS tersebut. Dan langkah ini rupanya juga mendapat dukungan dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), Komnas HAM, dan ormas Islam.

Terus terang saya punya pandangan berbeda, pemerintah lebih baik mengabaikan permintaan mereka pulang ke Indonesia. Mereka telah membuat keputusan secara sadar untuk melakukan perjalanan ke sana dan bergabung dengan teroris. Apalagi semua kaum laki-laki yang sedang ditahan di penjara adalah para kombatan, biarlah otoritas penegak hukum setempat mengadili mereka menurut hukum yang berlaku di sana.

ISIS mungkin telah kehilangan negara khilafah, namun belum tentu kehilangan kesetiaan. Siapa pun yang menyaksikan tayangan video di media nasional maupun internasional yang mewawancarai keluarga ISIS tahu dan bisa menilai bahwa sama sekali tidak ada penyesalan atau rasa bersalah, mereka hanya mengasihani diri mereka sendiri, apalagi kalau bukan karena situasi mereka saat ini di penampungan.

Jadi, untuk apa repot-repot membantu kepulangannya, mereka ini bukan returnis, orang-orang yang membelot dari ISIS yang kabur lalu menyerahkan diri, meminta pertolongan—seperti kasus-kasus sebelumnya yang pernah ditangani pemerintah—di mana saat itu ISIS masih berkuasa di kota-kota Suriah dan Irak. Kejadian kali ini sama sekali berbeda.

Mereka ini bukan pula deportan, yakni orang-orang yang belum sempat merasakan hidup bersama ISIS di Suriah, tak punya pengalaman jadi kombatan,  karena keburu tertangkap di tengah perjalanan, lantas dideportasi kembali ke Indonesia.

Tapi, mereka ini adalah orang-orang yang telah hidup bersama teroris selama bertahun-tahun. Selama berkuasa ISIS menanamkan keyakinan ketat yang disebutnya syariah, menggambarkan syariah yang ketat merupakan satu-satunya cara memerintah masyarakat untuk  menghilangkan penindasan yang sesuai perintah Tuhan. Orang-orang Indonesia yang bergabung ISIS meyakini sedang berjuang untuk ini.

Jadi, mereka ini bukan orang yang main-main ke Suriah. Demi pergi ke sana mereka telah menjual aset harta, melakukan ikrar setia mengkhianati ideologi bangsa, dan memang sudah berniat bertempur di Suriah yang tingkat kekerasannya tinggi.

Maka, apabila pemerintah, misalnya, masih mau mengindentifikasi atau memverifikasi apakah mereka terlibat teroris atau tidak, itu konyol namanya. Di mata saya, mereka bukan sekadar “Alumni Suriah”, tapi lebih tepatnya “Alumni Teroris”.

Terlebih lagi orang-orang ini sebenarnya dalam kondisi marah, setelah proyek negara khilafah impiannya di sana sirna. Namun, andaikata di antara mereka sekarang berubah pikiran, saya ingin bilang, siapa suruh gabung ISIS?

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.