Jumat, Desember 4, 2020

Siapa Suruh Gabung ISIS?

Yang Berantakan, yang Punya Persoalan

Di tepi lapangan Wembley yang berlubang-lubang, oleh pertandingan-pertandingan internasional Liga Antarnegara Eropa yang tak jelas untuk apa itu, juga oleh rasa senang para pendukung...

Barang Berharga yang Tak Laku

Banyak teori dan penelitian serta survey yang dilakukan di Negara maju tentang faktor penyebab seseorang bisa sukses atau faktor utama sebuah Negara menjadi adil...

Pintu-Pintu Menuju Buya

Setelah menjalani operasi, kondisi kesehatan tokoh umat yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Syafii Maarif, mulai membaik. Pasca operasi batu ginjal,...

Natal dan Spirit Kemuliaan

Natal adalah ritus keagamaan yang hendak memuliakan Yesus Kritus yang telah berjasa mengantarkan umat Kristiani ke jalan kehidupan yang penuh kasih dan damai. Kemuliaan...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

Kisah tentang ratusan orang Indonesia di Suriah menimbulkan rasa duka sekaligus dilema bagi publik dalam menyikapi masalah ini; dilema antara memilih aspek kemanusiaan atau keamanan. Di antara mereka ada anak-anak, perempuan atau janda yang ditinggalkan suaminya yang dulu bergabung dengan militan Negara Islam Irak dan Syria (ISIS).

ISIS telah dikalahkan pada Maret lalu oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF), dan saat ini keluarga ISIS asal Indonesia tersebut ditampung di selter pengungsian milik lembaga kemanusiaan internasional di Al Hawl, Suriah. Sementara itu, kaum laki-lakinya ditahan di penjara. Tidak ada angka pasti berapa jumlah mereka, Majalah Tempo baru-baru ini melaporkan—dari pengakuan salah satu perempuan ISIS penghuni kamp saat wawancara—bahwa ada sekitar 200 orang Indonesia di kamp Hawl. Bila angka tersebut valid, artinya itu masih belum termasuk jumlah laki-laki yang ada di penjara SDF.

SDF saat ini merupakan penguasa de facto di Suriah utara. Sebagai “aktor non-negara” dalam konflik Suriah, sebenarnya Pemerintah Republik Indonesia tidak memiliki akses langsung dengan SDF, bahkan banyak pihak melabelinya sebagai kelompok pemberontak atau separatis Kurdi.

Pihak SDF jauh hari telah memohon kepada dunia internasional agar negara-negara asal keluarga ISIS memulangkannya. Seorang keluarga teroris asal Indonesia yang diwawancarai Tempo  itu pun berharap kemungkinan dirinya bisa kembali ke tanah air.

Sekarang keputusan ada di tangan pemerintah. Kabar terkini tersiar ada sinyal bahwa Pemerintah RI akan membantu kepulangan keluarga ISIS tersebut. Dan langkah ini rupanya juga mendapat dukungan dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), Komnas HAM, dan ormas Islam.

Terus terang saya punya pandangan berbeda, pemerintah lebih baik mengabaikan permintaan mereka pulang ke Indonesia. Mereka telah membuat keputusan secara sadar untuk melakukan perjalanan ke sana dan bergabung dengan teroris. Apalagi semua kaum laki-laki yang sedang ditahan di penjara adalah para kombatan, biarlah otoritas penegak hukum setempat mengadili mereka menurut hukum yang berlaku di sana.

ISIS mungkin telah kehilangan negara khilafah, namun belum tentu kehilangan kesetiaan. Siapa pun yang menyaksikan tayangan video di media nasional maupun internasional yang mewawancarai keluarga ISIS tahu dan bisa menilai bahwa sama sekali tidak ada penyesalan atau rasa bersalah, mereka hanya mengasihani diri mereka sendiri, apalagi kalau bukan karena situasi mereka saat ini di penampungan.

Jadi, untuk apa repot-repot membantu kepulangannya, mereka ini bukan returnis, orang-orang yang membelot dari ISIS yang kabur lalu menyerahkan diri, meminta pertolongan—seperti kasus-kasus sebelumnya yang pernah ditangani pemerintah—di mana saat itu ISIS masih berkuasa di kota-kota Suriah dan Irak. Kejadian kali ini sama sekali berbeda.

Mereka ini bukan pula deportan, yakni orang-orang yang belum sempat merasakan hidup bersama ISIS di Suriah, tak punya pengalaman jadi kombatan,  karena keburu tertangkap di tengah perjalanan, lantas dideportasi kembali ke Indonesia.

Tapi, mereka ini adalah orang-orang yang telah hidup bersama teroris selama bertahun-tahun. Selama berkuasa ISIS menanamkan keyakinan ketat yang disebutnya syariah, menggambarkan syariah yang ketat merupakan satu-satunya cara memerintah masyarakat untuk  menghilangkan penindasan yang sesuai perintah Tuhan. Orang-orang Indonesia yang bergabung ISIS meyakini sedang berjuang untuk ini.

Jadi, mereka ini bukan orang yang main-main ke Suriah. Demi pergi ke sana mereka telah menjual aset harta, melakukan ikrar setia mengkhianati ideologi bangsa, dan memang sudah berniat bertempur di Suriah yang tingkat kekerasannya tinggi.

Maka, apabila pemerintah, misalnya, masih mau mengindentifikasi atau memverifikasi apakah mereka terlibat teroris atau tidak, itu konyol namanya. Di mata saya, mereka bukan sekadar “Alumni Suriah”, tapi lebih tepatnya “Alumni Teroris”.

Terlebih lagi orang-orang ini sebenarnya dalam kondisi marah, setelah proyek negara khilafah impiannya di sana sirna. Namun, andaikata di antara mereka sekarang berubah pikiran, saya ingin bilang, siapa suruh gabung ISIS?

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.