OUR NETWORK

Siapa Eksis Diterjang Wabah?

“Kebun bunga mawar banyak yang dibongkar dan dibakar karena tak mampu tanggung biaya perawatan”

Petani di simpang jalan, kini saatnya membincang pembangunan pertanian berbasis kebutuhan perut.

Saya pernah puji setinggi langit petani bunga: baik potong atau hias juga petani agribisnis lainnya yang kemudian saya sebut petani rasional (rational peasent).

Dan saya pernah merendahkan petani penanam padi, penanam jagung atau ketela sebagai petani tradisional yang sulit diajak berubah maju—(tradisional peasent).

Mungkin saya terpengaruh analisis James C. Scott tentang sukses ‘pemberontakan’ petani tradisional di Pattani. Sehingga saya mengagungkan petani rasional dan merendahkan petani tradisional.

Realitasnnya ‘petani rasional’ adalah petani paling ringkih dan mudah terpuruk di saat krisis—sekilas mungkin terlihat dinamis, modern dan cepat kaya. Tapi tak cukup punya daya imun ketika wabah atau situasi krisis menyerang. Mereka cepat oleng dan rawan bangkrut.

Terlalu naif jika klasifikasi rational peasent dan tradisional peasent di dasar atas jenis tanaman, seperti pernah digagas James C. Scott itu, saya justru tertarik dengan pola
pikir dan kebiasaan-kebiasaan petani ketika mengambil keputusan yang berdampak langsung terhadap perilaku petani.

Meski diakui menyasar prilaku petani tidaklah mudah, termasuk menjelaskan kebiasaan ‘savety first’ prinsip dahulukan selamat yang mengakar kuat dikalangan petani tradisional.

Prinsip ‘dahulukan selamat’ adalah kuat di tengah krisis. Sebab, orang tak akan membeli bunga atau tanaman hias lainnya di tengah krisis tapi mencari beras, ketela atau makanan pokok lainnya yang mengenyangkan.

Tradisional-peasent inilah yang nyata-nyata tangguh dan eksis, meski tak pernah mendapat perlakuan baik—kebijakan yang diskriminatif dan anggaran negara yang tidak berpihak bahkan cenderung diabaikan dan tidak dihitung.

Sementara, para petani tradisional tetap membalas dengan padi yang pulen, ketela yang medhug dan pisang yang manis. Mereka tak pernah merepotkan negara.

Bisa saja situasi wabah ini menjadi laboratorium untuk menguji : prospek petani macam apa yang tahan uji dan cepat recovery—-sebagai bahan evaluasi dan dasar pijakan pengambilan kebijakan pembangunan pertanian berbasis kebutuhan perut.

Saya mengelola lahan mawar dan bunga potong seluas 8 ribu m2. Bersama ratusan ribu kebun mawar petani lainnya, sudah tiga minggu tidak bisa operasional karena pasar kembang di Jakarta, Jogja, Bali, Solo, Semarang tutup total. Entah masih berapa bulan ke depan tidak ada kepastian. Kebun bunga mawar banyak yg dibongkar dan dibakar karena tak mampu tanggung biaya perawatan.

Peternak, petani sayur, petani buah juga sama, tak bisa jual produknya. Semua diam di tempat menunggu yang tidak pasti. Para petani kolaps, buruh tani dirumahkan tanpa gaji, tanpa perjanjian sama sekali!

Kriminalitas mulai meningkat. Di tempatku, 3 sepeda motor,  tiga ekor ayam dan 7 ekor kambing, beberapa tundun pisang, dan ketela mulai hilang, padahal sebelumnya sangat aman.

Rakyat sudah capek, lelah dan frustrasi, beri mereka harapan buat mereka tersenyum jangan berselisih dan bertengkar.

Rapatkan barisan, saling percaya. Insya Allah pertolongan sangat dekat.

Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…