OUR NETWORK

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Konversi ke Islam bukan satu-satunya jalan keselamatan. Siapa saja yang tulus mencari kebenaran bisa mendapat rahmat Tuhan.

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim” bisa selamat dan masuk surga?

Selamat atau tidak memang masalah teologis, tapi ini punya dampak terkait sikap seorang Muslim terhadap non-Muslim dan pergaulan di masyarakat majemuk, nyata ataupun virtual. Kita tahu, pendapat mayoritas ulama dan awam pada umumnya: hanya Muslim pengikut Nabi Muhammad hingga akhir zaman yang akan selamat dan masuk surga, dengan mengutip beberapa ayat yang menyebut kata Islam dan hadits-hadits tertentu.

Mari kita baca ayat 62 Surat Al-Baqarah ini: “Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiun, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan berbuat baik, maka mereka akan mendapat ganjaran dari Allah, dan tidak perlu sedih dan khawatir”.

Para ulama umumnya menafsirkan, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Shabiun yang disebut ayat ini, hanya mereka yang hidup sebelum datangnya Nabi Muhammad. Pertanyaannya: kalau demikian, orang-orang beriman yang disebut di atas, hanya orang-orang beriman pada masa Nabi Muhammad saja?

Pertanyaan lain: jika kita yakin Al-Qur’an berlaku sepanjang zaman, mengapa kita tidak yakin orang-orang yang disebut ini termasuk orang-orang tulus beriman adanya Tuhan dan berbuat baik setelah Nabi Muhammad?

Para ulama pun memiliki pandangan yang kaya dan penting disebarkan secara luas. Seperti dibahas Mohammad Hassan Khalil dalam buku Islam and the Fate of Others: The Salvation Question (Oxford, 2012) dan artikel-artikel terkait. Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Taimiyyah, dan Muhammad Rashid Rida menyediakan pemahaman inklusif, yang membuka ruang pemahaman bagi adanya pintu-pintu keselamatan bagi setiap manusia yang tulus dan berbuat baik kapan dan di mana pun.

Mereka berpendapat bahwa pesan Nabi Muhammad sebagai konfirmasi ajaran-ajaran dasar dan benar dari para pendahulunya, tapi juga membuka pintu kasih sayang (rahmat) Allah bagi siapa saja sampai akhir zaman.

Bagi Al-Ghazali, prinsipnya kasih sayang Tuhan, sedangkan kutukan Tuhan itu pengecualian. Rahmat Allah lebih luas untuk semua ciptaan-Nya. Al-Ghazali membuat kriteria “non-Muslim” dalam beberapa kategori.

Pertama, orang yang tidak pernah dengar Nabi Muhammad. Kedua, orang kafir yang menolak Nabi Muhammad setelah mengetahui kebenaran dan kebaikan ajarannya. Ketiga, setiap orang pencari kebenaran yang tulus. Menurut Al-Ghazali, non-Muslim kategori pertama dan kategori ketiga dimaafkan Tuhan dan rahmat-Nya mencakup mereka.

Bagi Al-Ghazali, konversi ke Islam bukan satu-satunya jalan keselamatan. Siapa saja yang tulus mencari kebenaran bisa mendapat rahmat Tuhan. Al-Ghazali membuka pintu harapan keselamatan bagi non-monoteis tertentu, seperti bangsa Turks yang berada di luar jangkauan kenabian Muhammad.

Masih menurut Al-Ghazali, kasih sayang dan hukuman Tuhan seperti orang tua menghukum anaknya. Tuhan menghukum bukan semata-mata menghukum. Hukuman bersifat pendidikan dan tidak berarti Tuhan tidak sayang sama ciptaan-Nya.

Al-Ghazali mengutip hadits qudsi yang menyebut Tuhan berfirman: “Kasih sayang-Ku melampaui marah-Ku.” Bagi Al-Ghazali, sebagian besar manusia pada akhirnya akan selamat dan bahagia.

Menurut Ibnu Arabi (w. 1240), seperti dibahas dalam buku di atas, ada banyak jalan menuju pada Tuhan Pencipta yang sama. Semua jalan yang tulus menuju Tuhan Maha Pengasih dan Mulia. Semua manusia pada akhirnya akan berbahagia. Menurut Ibn Arabi, Tuhan adalah semua. Semua yang ada, yang partikular adalah perwujudan Nama-Nama Tuhan yang indah (asma husna). Segala sesuatu kembali kepada Tuhan, mengutip ayat Al-Qur’an 57:5, dan “semua perjalanan menuju kepada-Nya (Surat 5:18).

Jalan Nabi Muhammad, menurut Ibnu Arabi, laksana cahaya Matahari, sedangkan jalan-jalan lain laksana cahaya bintang-bintang. Puisi Ibnu Arabi begini: “Hatiku mampu menjadi setiap bentuk; Hatiku adalah tempat bagi rusa-rusa, tapi juga ruang bagi pendeta-pendeta Nasrani, candi bagi berhala-berhala, bagi para penziarah Ka’bah, tablet-tablet Taurat dan kitab Al-Qur’an. Aku mengikuti agama cinta: apa pun jalan yang diambil unta-unta cinta, itulah agama dan imanku.”

Ibnu Arabi menafsirkan Islam sebagai sikap ketundukan kepada Tuhan, dan bentuk-bentuk ketundukan ini bermacam-macam. Ada banyak surga (jannat), sebagiannya untuk pengikut Nabi Muhammad yang tunduk pada Tuhan, sebagian lain untuk mereka yang juga tunduk pada Tuhan dengan mengikuti jalan-jalan lain.

Neraka, menurut Ibnu Arabi, adalah tempat bagi mereka yang sombong (mutakabbirun), musyrikun, dan munafiqun. Khususnya mereka yang pernah mendapat nabi-nabi pengingat dan penegur. Tidak ada hukuman bagi manusia yang tidak pernah mendapat utusan Tuhan.

Seperti Al-Ghazali, Ibnu Arabi menafsirkan ayat kasih sayang Tuhan meliputi segala sesuatu (7:156) dan hadits qudsi tentang kasih sayang Tuhan. Ia juga merujuk pada ayat 7:151 Tuhan sebagai “Yang paling kasih di antara para pengasih (arham al-rahimin)”.

Ibnu Arabi menafsirkan, Tuhan akan senang kepada semua dan semua akan senang kepada-Nya. Karena kasih sayang Tuhan mencakup semua tanpa kecuali, maka menurut Ibnu Arabi, hukuman, termasuk neraka, bisa ditinggalkan mereka yang mencari. Ibnu Arabi lebih menekankan makna batin daripada makna zahir. Kasih sayang Tuhan mengatasi semuanya, termasuk mereka yang secara fisik masuk neraka.

Pendapat Ibnu Taimiyah (w. 1328) tentang keselamatan cukup berlapis dan kompleks. Prinsipnya, kenabian dan akal sehat tidak harus bertentangan. Dalam Al-Qur’an, menurut Ibnu Taimiyyah, nasib beberapa manusia seperti pembangkang Abu Lahab dijelaskan, tapi nasib kebanyakan manusia tidak dan karena itu menjadi hak Tuhan semata. Tuhan saja yang menentukan siapa yang selamat dan siapa yang tidak. Yang tidak selamat pun macam-macam dan tetap mendapat rahmat Tuhan.

Bagi Ibnu Taimiyyah, Surat Al-Baqarah:62 disebut di atas, berlaku sepanjang zaman. Menurutnya, neraka memang sangat lama (abadan) tapi tidak selamanya, dengan merujuk Al-Qur’an 6:128; 11:106-108, dan 78:23.  Neraka bagi manusia yang berdosa menurut Tuhan. Surga juga akan ditempati mantan penghuni neraka.

Adapun surga, sebagai wujud kasih sayangnya kepada semua manusia, bersifat selamanya. Itu karena karakter Tuhan adalah pengasih dan penyayang. Marahnya Tuhan terjadi secara situasional. Karena Tuhan Maha Kuasa dan Maha Adil, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki, secara adil: tidak ada ciptaan-Nya yang bisa menghentikan-Nya untuk memasukkan semua manusia ke Surga pada akhirnya.

Ibn Qayyim (w. 1350) pun berpendapat, esensi Tuhan adalah Maha Pengasih. Marah-Nya bersifat temporal. Karena itu, surga abadi, dan neraka tidak abadi. Ibn Qayyim, seperti dikutip Hassan Khalil, menulis: “Memaafkan lebih disukai Allah daripada mendendam. Kasih-Nya lebih disukai dari hukuman-Nya. Sayang-Nya lebih disukai daripada keadilan-Nya.” Ia pun mengutip ayat: “Kasih sayang-Ku melingkupi segala sesuatu.” Meskipun Tuhan keras hukuman-Nya, tapi Tuhan bukan yang Maha Penghukum. Dia Maha Pengasih.

Sarjana Muslim di era modern, Muhammad Rasyid Rida (w. 1935) mengakui keselamatan melampaui afiliasi dan identitas agama. Rasyid Rida menambah contoh kategori Al-Ghazali, “mereka yang tidak pernah mendengar Nabi Muhammad”. Ridha berpendapat, Tuhan memaafkan manusia yang tulus mencari kebenaran, meskipun mereka tidak sampai mengikuti cara Nabi Muhammad secara khusus.

Menurut Yusuf Qardhawi, ketika menafsirkan ayat 17:15 dan 4:115, meskipun prinsip umum Islam adalah syarat keselamatan, Tuhan memaafkan mereka yang tidak memahami. Tuhan juga memaafkan mereka yang tidak masuk agama Nabi Muhammad karena berbagai halangan, bukan karena keangkuhan. Manusia dihukum Tuhan, menurut Qardawi, lebih karena kesombongannya, bukan sekadar keyakinannya.

Pendapat ulama tersebut di atas berbeda dengan pendapat Sayyid Qutb (w. 1966). Qutb menolak ada keselamatan di luar agama Muhammad. Qutb sejalan dengan Abul Ala Maududi dan belakangan Zakir Naik. Bagi mereka, Islam Nabi Muhammad adalah satu-satunya jalan keselamatan. Zakir Naik berpendapat, kebaikan apa pun yang Ibu Teresa perbuat, dia akan masuk neraka.

Tapi, sarjana Farid Esack dari Afrika Selatan berpendapat lain. Din itu satu dan menjelma dalam agama-agama yang majemuk. Kufr, menurut Esack, dari tafsiran Al-Qur’an, adalah sikap sadar, sengaja, dan aktif angkuh menolak Tuhan dan ajaran-ajaran kebaikan-Nya. Menurut Esack, kecaman Al-Qur’an terhadap syirik harus dibaca secara historis dan kontekstual, terkait praktik sosio-ekonomi dan ketidakadilan para pemuka orang Arab waktu itu.

Syirk, menurut Esack, merupakan sikap dan praktik penindasan sosial: yang musyrik ketika itu adalah kaum kaya karena menguasai berhala dan sosial-ekonomi kota Mekkah. Implikasi syirk di kota Mekkah ketika itu dalam bentuk ketidakadilan sosial ekonomi dan politik.

Sarjana-sarjana kontemporer lain, Abdulaziz Sachedina, berpendapat bahwa kriteria keselamatan adalah iman dan kebajikan, tidak hanya para pengikut Nabi Muhammad.

Menurut Profesor Mahmoud Ayoub, umat Kristiani  sangat dekat dengan pengikut Nabi Muhammad; mereka juga beribadah dan tidaklah sombong. Al-Qur’an mengkritik semua orang, termasuk yang beriman dan mengaku Muslim.

Profesor Fazlur Rahman menekankan konsep sikap takwa sebagai pembeda umat manusia di mata Tuhan, dan prinsip takwa bersifat universal, tidak terkait langsung dengan afiliasi keagamaan, bangsa, suku, jender, dan sebagainya. Menurut Rahman, yang Al-Qur’an kritik adalah eksklusifisme sebagian Yahudi dan sebagian Nasrani yang mengklaim keselamatan hanya untuk mereka. Al-Qur’an tidak mengkritik bahwa mereka tidak akan selamat.

Ulama-ulama dan cendekiawan yang dikutip sekilas di atas berbeda-beda dalam memahami Islam, namun secara umum menekankan kasih sayang Tuhan yang membuka jalan-jalan keselamatan yang luas dan lapang bagi semua manusia dan bahkan alam semesta ciptaan-Nya.

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad menitikberatkan kasih sayang (Rahman dan Rahim) Tuhan sebagai Nama dan Sifat fundamental-Nya. Perlu diakui ada ambiguitas di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tampaknya berbeda. Menurut Hassan Khalil, ambiguitas itu membuat kita semua bersikap tawadhu dalam beragama dan membuka harapan kasih sayang Tuhan bagi sebanyak-banyaknya ciptaan-Nya sendiri. (Bersambung)

Kolom terkait

“Agama-Agama Ibrahim; Makhluk Apakah Itu?

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Orang Kristen Bukan Musyrik dan Kafir?

Siapakah Orang Kafir Itu? Telaah Kronologi dan Semantik Al-Qur’an

Silakan Tuding Kristen Syirik!

Muhamad Ali
Associate Professor, Religious Studies Department & Chair, Middle East and Islamic Studies Program, University of California, Riverside.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…