Jumat, Desember 4, 2020

Serangan Bertubi pada Basuki

Kami Membaca Draf UU Keamanan Siber dan Tidak Menemukan Akal Sehat di Dalamnya

Setelah ramai kontroversi pengesahan Revisi UU KPK dani Revisi KUHP, ada kejutan lain dari Senayan yang diam-diam masuk program legislasi nasional (prolegnas) dan berencana...

Menuntut Pertanggungjawaban Presiden

Asap adalah bencana di republik ini. Akibat pemerintah yang tidak mampu menemukan solusi pembakaran hutan, asap telah melumpuhkan puluhan kota, menyebabkan ratusan orang menderita...

Argentina yang Salah yang Kita Bayangkan

Orang bilang, proyek timnas Argentina bersama Jorge Sampaoli telah gagal bahkan sebelum dimulai. Pertama, karena Sampaoli muncul di waktu yang salah. Krisis sepakbola Argentina...

Ide Khilafah, Ujian Kita Berdemokrasi

Anggota Banser NU menolak khilafah dan radikalisme. Dok. singindo.com Bagaimana kita merespons ide khilafah adalah cara sederhana untuk menguji seberapa demokratis kita. Baru-baru ini, Barisan...

ahok-hanuraGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto seusai deklarasi Partai Hanura untuk mendukung Ahok sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta di Jakarta, Sabtu (26/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Di satu sisi ada glorifikasi, di sisi lain ada serangan bertubi-tubi. Itulah yang mewarnai fenomena kemunculan Basuki Tjahaja Purnama di pentas politik Pemilihan Kepala Daaerah (Pilkada) DKI Jakarta.

Glorifikasi dilakukan oleh para pendukung fanatiknya, sedangkan serangan bertubi-tubi dilakukan oleh para pembencinya. Dan para pembenci Basuki sekarang punya organisasi tanpa bentuk yang disebut Abas (Asal Bukan Basuki). Para aktivis Abas punya kesibukan yang luar biasa, tiap hari ada saja yang mereka lakukan untuk menyerang Basuki.

Jika diklasifikasi, serangan terhadap Basuki ada tiga macam: pertama, menyangkut kebijakan; kedua, soal tuduhan korupsi; dan ketiga soal ras dan agama. Serangan-serangan ini, terutama disebarkan melalui media sosial dengan menampilkan tulisan-tulisan yang insinuatif dan penuh hasutan, di samping tentu saja melalui aksi-aksi nyata di lapangan.

Yang menyangkut kebijakan, misalnya, dengan merujuk pada fakta minimnya penyerapan anggaran belanja daerah (APBD) DKI Jakarta yang kemudian diarahkan pada kesimpulan bahwa Basuki tidak berhasil. Sejumlah hasil survei yang menunjukkan kepuasan publik terhadap kinerja Basuki dianggap sebagai pesanan untuk menutup-nutupi ketidakberhasilan. Itu yang pertama.

Kedua soal tuduhan korupsi. Meskipun sudah ada penjelasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tentang posisi Basuki pada kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, para aktivis Abas tidak mempercayainya dan tetap bersikukuh pada keyakinan keterlibatan Basuki sehingga mereka terus-menerus melakukan mobilisasi aksi yang menyasar pada KPK.

Pada Senin (4/4/2016), misalnya, mereka berbondong-bondong menuju kantor KPK di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tujuannya mendesak agar komisi antirasuah ini segera menangkap Basuki. Tuduhan yang sesungguhnya sudah menjadi lagu lama yang terus diputar ulang dan bahkan direproduksi untuk ditawarkan kepada semua warga Jakarta agar bisa terpengaruh.

Lagu lama yang dimaksud adalah dengan merujuk temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa terdapat kesalahan prosedur dan merugikan negara hingga ratusan miliar dalam proses pengadaan lahan RS Sumber Waras.

Selain kasus RS Sumber Waras—pasca operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Muhammad Sanusi—yang juga diarahkan pada Basuki adalah kasus reklamasi pantai utara Jakarta. Kasus inilah yang mengantarkan Sanusi ke rutan KPK, yang juga menyeret Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja, dan menyebabkan Bos Agung Sedayu Group, SugiantoKusuma alias Aguan, dan orang dekat Basuki, Sunny Tanuwijaya, dicekal (dicegah) KPK ke luar negeri.

Mungkin para aktivis Abas kesal karena, alih-alih menangkap Basuki, KPK malah menangkap Muhammad Sanusi yang nota bene salah satu tokoh yang dinominasikan untuk mengalahkan Basuki dalam Pilkada DKI Jakarta. Sanusi adalah Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Partai Gerindra yang merupakan adik kandung Muhammad Taufik, Ketua Partai GerindraDKI Jakarta.

Yang menarik, salah satu misi Sanusi jika berhasil menduduki jabatan Gubernur DKI Jakarta adalah ingin memberlakukan syariat Islam di DKI Jakarta. Misi ini unik—untuk tidak dikatakan lucu—karena korupsi yang membuatnya ditangkap KPK merupakan tindakan haram yang sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Dalam kasus reklamasi pantai utara Jakarta, Basuki dibawa-bawa lantaran dianggap menandatangani izin reklamasi. Padahal, yang benar Basuki hanya memperpanjang apa yang sudah dilakukan oleh Gubernur sebelumnya (sebelum Jokowi), yakni Fauzi Bowo.

Adapun suap yang menjerat Sanusi terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi DKI Jakarta 2015-2035 dan Raperda tentang Rencana Kawasan Tata Ruang Kawasan Strategi Pantai Jakarta Utara yang diajukan DPRD DKI Jakarta. Terutama pasal yang menyangkut kewajiban pengembang reklamasi, Basuki menginginkan 15%, sedangkan DPRD hanya 5%.

Ketiga, serangan paling gencar tentu saja menyangkut agama dan ras. Ayat-ayat al-Quran yang secara eksplisit melarang pengangkatan pemimpin kafir terus-menerus dieksploitasi dengan menafikan penafsiran-penafsiran kontekstual yang lebih melihat pada substansi makna kafir sebagai bentuk penyimpangan-penyimpangan kekuasaan. Artinya, pelarangan yang dimaksud sejatinya tidak berlaku bagi pemimpin yang sudah terbukti tidakmelakukan penyimpangan.

Sedangkan yang menyangkut ras, lebih diarahkan terutama pada karakter Basuki yang dianggap kasar dan sombong sehingga dianggap berpotensi memicu kebencian terhadap Cina (suku Tionghoa) yang di negeri ini sudah memiliki sejarah panjang. Tragedi kelam 8 Oktober 1740 yang membakar kurang lebih 6-7 ribu rumah sekaligus membantai penghuninya sehingga (diperkirakan) ratusan orang Tionghoa menjadi korban pun diputar ulang. Begitu juga dengan tragedi Mei 1998 yang juga dikabarkan membawa korban (tak terhitung) warga Tionghoa.

Di antara saksi-saksi sejarah yang merasa menjadi korban kebencian terhadap Tionghoa seperti Jaya Suprana dan Lius Sungkharisma pun bersuara keras mengingatkan Basuki agar berhenti dan mundur dari panggung politik yang sejatinya tidak memiliki alasan kuat selain dari adanya trauma (sindrom) yang justru seyogianya dilawan dengan membuktikan keberhasilan Basuki di panggung politik.

Efektifkah serangan bertubi pada Basuki? Yang terjadi malah sebaliknya. Gelombang simpati pada Basuki semakin tak terbendung. Militansi para pendukungnya pun semakin menguat sehingga kemungkinan Basuki memenangkan Pilkada Jakarta semakin membesar.

Kolom Terkait:

Hentikan Glorifikasi Basuki

Eksperimen Politik Basuki

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.