Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Menyambut Hari Kemerdekaan Kami Berlomba Menjadi yang Paling Seragam

Irma Bule dan Teologi Kontra Kemiskinan

Kita sering menghukum asap, tanpa melihat–apalagi menghukum–api. Allah memang sejak awal menyindir kita sebagai makhluk yang berkecenderungan tergesa-gesa (QS. Al Isra’: 11). Itulah yang kita...

Debat Capres Ke-4: Pemahaman Usang Polugri dan Nasionalisme Semu Prabowo

Pak Prabowo memang tidak kelasnya melawan Pak Jokowi dalam adu gagasan. Pandangannya masih mengawang-awang, retoris dan lawas, sementara Pak Jokowi sangat maju dan taktis...

Beragama dengan Akal

Tulisan saudara Fathorrahman Ghufron, "Melawan Jebakan Indoktrinasi" (Geotimes, 6/8/206), sangat menarik. Setidaknya, lewat tulisan itu, saya menyimpulkan kalau kami memiliki keresahan yang sama. Cara...

Menafsir Ridwan Kamil dan Suratnya ‘Ke Jakarta Tidak Ke Jakarta’

Yang terbaca meski tak tertulis.  Apa hal pertama yang harus saya acungi jempol saat membaca postingan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil alias Kang Emil...
Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.

Bila anda bersekolah pada masa Orde Baru, obsesi terhadap keseragaman akan terasa seperti udara yang anda hirup. Melalui seluruh saluran yang tersedia, dengan kata-kata maupun kenyataan sehari-hari, mereka senantiasa berusaha membuat kami percaya bahwa pakaian seragam bisa membuat seseorang menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi pusat kuasa. Bahwa seragam bisa mengangkat seseorang menjadi bagian terhormat di masyarakat. Bahwa kami sebaiknya bercita-cita menjadi orang dewasa yang mengenakan satu dari sekian seragam terhormat.

Mereka bahkan mengadakan perlombaan keseragaman badaniah dalam berbagai macam bentuk. Lomba gerak jalan, salah satunya. Lomba-lomba itu menjadi satu dari sekian parade di mana keseragaman tampak paling lengkap dan diarak keliling kota dan desa. Bukan hanya lomba keseragaman pakaian dan aksesoris, acara itu juga mempertandingkan keseragaman gerak tubuh dan suara yang ditimbulkannya.

Masing-masing tim memancang tujuan yang seragam pula, yaitu mencapai keseragaman sempurna. Seluruh tim dinilai dari kemampuan mereka mempertunjukkan keseragam dalam sebanyak mungkin aspek. Semakin seragam-dalam-segala-hal, semakin dekat mereka ke podium juara. Dalam perhelatan itu, keseragaman badaniah yang sempurna menjadi cita-cita, sebuah keadaan ideal yang didambakan.

Lomba gerak jalan juga adalah ritual, praktik yang diselenggarakan pada jadwal tertentu. Dan kami, anak-anak sekolah Orde Baru, berlomba menjadi yang paling seragam untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Karena berlangsung cukup lama, ritual itu kemudian membentuk tradisi, bahkan menjadi sesuatu yang alamiah. Waktu kecil saya membayangkan ritual itu sebagai sesuatu yang abadi—pasti ada setiap tahun sebagaimana lebaran.

Menggambarkan masa kecilnya, Umberto Eco mengungkap pengalaman serupa.

“Itu masa yang aneh. Mussolini sangat karismatik, dan sebagaimana banyak anak sekolah Italia pada masa itu, saya mendaftarkan diri pada gerakan pemuda Fasis. Kami semua diwajibkan mengenakan seragam bergaya militer dan menghadiri demonstrasi pada hari Sabtu, dan kami merasa sangat bahagia melakukannya […] Bagi kami anak-anak, seluruh tindakan itu terasa sangat alami, seperti salju pada musim dingin dan hawa panas pada musim panas. Kami tak dapat membayangkan ada cara lain untuk menjalani hidup.” (Paris Review 2008)

Tapi upaya menjadikan keseragaman sebagai cita-cita tak hanya diajarkan dalam ritual gerak jalan—yang kini sudah lenyap di banyak tempat. Pendisiplinan bukan hanya dilakukan pada tubuh-tubuh kami.

***

AWAL 1997, saya berdiri di hadapan murid kelas lima sekolah dasar di satu desa di kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Guru mereka tak datang dan saya menawarkan diri menggantikan perannya. Saat itu jam pelajaran Bahasa Indonesia. Mengingat tak banyak yang bisa saya lakukan untuk mengisi kurikulum berjalan, saya mengambil jalan pintas dengan meminta mereka menerapkan salah satu keterampilan berbahasa yang saya asumsikan berlaku dalam pengajaran bahasa di mana pun. Saya mengajak mereka mengarang.

Agar mereka tak memulai tulisan dengan formula seragam, “Pada suatu hari”, merujuk pada pengalaman dan cerita kawan-kawan dari berbagai penjuru di Indonesia, saya meminta mereka menceritakan apa yang mereka lakukan pada hari sebelumnya. Mereka pun menulis.

Sekitar dua puluh menit berlalu, saya meminta mereka berhenti menulis. Tulisan tidak harus selesai, kata saya ketika melihat mereka ragu. Saya lalu meminta salah satu gadis kecil membacakan hasil karangannya. Dia membaca pelan, “Pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka .…” Saya tercekat. Dengan berusaha tetap sopan, saya memintanya berhenti membaca, lalu meminta seorang bocah pria membacakan hasil karyanya.

“Pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka .…”

Setiap anak yang saya minta membacakan hasil karangan mengulang syair yang sama. Tak sanggup lagi mendengar ulangan lagu itu, saya berhenti meminta setelah empat atau lima anak membacakan karangan. Rupanya, saya memang berhasil menghindarkan mereka memulai dengan menulis “pada suatu hari …”, tetapi saya gagal membuat mereka menulis pengalaman pribadi yang tentu berbeda. Dan kebetulan hari itu Senin.

Kata “mengarang”, dalam arti menggubah sesuatu dengan bebas dalam bentuk tulisan, rupanya belum berlaku bagi mereka.

Tragedi yang saya alami dalam kelas mengarang itu mewakili pendisiplinan pada level selanjutnya, pendisiplinan cara berpikir. Saya dan banyak orang lain mengalami proses serupa.

Sejak kecil kami ditempa untuk berpikir seragam. Kami diajar dengan buku ajar yang seragam, oleh guru yang menggunakan kurikulum yang dalam banyak hal seragam, dengan cara yang nyaris seragam pula. Para guru kami pun diajar dengan cara mereka mengajar kami—atau setidaknya begitu harapan rezim: keseragaman harus berlangsung antargenerasi dan merentang ke seluruh penjuru negeri. Cita-cita masa depan kami pun diseragamkan, pekerjaan-pekerjaan kerah putih.

Duduk di kelas mata pelajaran kesenian kami selalu mulai dengan menggambar dua gunung, lalu seruas jalan di bawahnya dan matahari bulat di atasnya. Semua hal yang indah, yang benar, yang ideal, sudah ditentukan sebelumnya.

Setiap tahun kami melewati dua sampai tiga ujian pilihan ganda. Di sana sudah ada satu solusi bagi setiap soal, kami hanya perlu memilihnya. Semua telah disediakan. Bila kami memilih jawaban yang keliru, itu selalu berarti bahwa kami tidak mengikuti pelajaran dengan patuh sehingga gagal menghafalkan buku pelajaran, yang di dalamnya semua kunci jawaban sudah tersedia. Di sini tak ada telaah. Guru tak pernah dan tak perlu tahu mengapa kami tiba pada pilihan jawaban A dan bukan B, atau C atau D yang sudah ditetapkan sebagai jawaban yang betul—entah di mana dan oleh siapa.

Pelan-pelan kami diajak berpikir bahwa satu jalur penalaran sudah ditetapkan dan kami tak boleh melenceng. Kami cuma perlu menghafalkan jalur itu agar bisa selamat melewati ujian demi ujian. Kami tak perlu repot-repot berpikir untuk membuat jalul alternatif. Dalam piliihan ganda, hanya ada satu solusi yang betul bagi setiap persoalan. Jawaban selain itu pasti keliru. Tak ada diskusi. Di sekolah, kami tak dilatih berpikir, apalagi berpikir beda.

Dengan begitu, bagi rezim Orde Baru, baju seragam hanyalah “bagian dari keseluruhan lingkungan yang harus diatur (sebagaimana penjara, asrama, atau [barak] militer), di mana penampilan, bahasa, perilaku, dan gerak tubuh juga menjadi sasaran bagi pengendalian yang bersifat hierarkis dalam dosis yang tinggi.”

***

TAPI, sebagaimana di tempat lain, kerja pendisiplinan semacam itu selalu gagal bekerja sempurna. Kami yang sepanjang masa sekolah dibimbing oleh ideologi Orde Baru mungkin kini telah berhadapan dengan kenyataan hidup yang beraneka ragam—yang timpang dalam banyak perkara. Ketika dewasa, kami menyaksikan betapa berlomba menuju keseragaman sungguh tak selalu membuat kami mendapatkan apa yang dijanjikan ketika kami kecil (setelah dewasa Umberto Eco pun tak lagi menganggap parade keseragaman pada kurun Mussolini sebagai “salju pada musim dingin”).

Bahkan, ketika kerja pendisiplinan itu tengah diterapkan kepada kami nyaris setiap hari, perlawanan-perlawanan kecil senantiasa berlangsung dalam beraneka bentuk. Kami memotong dan menyempitkan ujung celana. Kami melipat lengan baju dan membuka satu dua kancing paling atas. Kami membebaskan ujung bawah kemeja dari bekapan ikat pinggang. Kami melewatkan satu dua kelas dan pekerjaan rumah, sambil diam-diam membentuk bayangan akan masa depan kami sendiri, dan puncaknya kami membuat parade pembangkangan dengan berkeliling kota mengenakan baju seragam yang bertabur mural dan sobekan pada hari kelulusan.

Dari waktu ke waktu, banyak dari kami memilih untuk tidak patuh—sebagaimana terjadi pada anak sekolah di tempat dan masa berbeda. Meskipun akhirnya nyaris seluruh perlawanan itu diganjar hukuman, perlawanan tak pernah pupus. Sebab tindakan melawan itu sendiri punya sensasi luar biasa. Sensasi yang mencapai puncaknya ketika kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri rezim itu akhirnya tumbang.

Namun di balik seluruh sensasi itu dan hal-hal baik yang mengikutinya, sejumlah pertanyaan masih tersisa. Bagaimana bila rezim Orde Baru terlanjur berhasil menanamkan cara berpikir ala pilihan ganda, “bila solusi anda tak sama dengan saya, anda pasti keliru”? Bagaimana bila mereka ternyata bisa mewariskan impian akan sebuah masyarakat sempurna dengan keseragaman badaniah sebagai penandanya?

Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.
Berita sebelumnyaMerdeka dari Kebencian
Berita berikutnyaSisi Enigma Mahfud MD
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.