Kamis, Desember 3, 2020

Senjakala Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

NU Harus Tetap di  Tengah dan Nahdiyin Boleh Pilih Siapa Saja di Pilpres

Beberapa waktu terakhir, di media sosial ramai pembahasan yang menghadapkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan pendukungnya dengan Nahdlatul Ulama (NU). Bahwa Pilpres 2019 adalah pertarungan...

Menuntut Pertanggungjawaban Presiden

Asap adalah bencana di republik ini. Akibat pemerintah yang tidak mampu menemukan solusi pembakaran hutan, asap telah melumpuhkan puluhan kota, menyebabkan ratusan orang menderita...

Perlukah Jokowi Kita Beri Pelajaran Sakitnya Kekecewaan dan Kekalahan?

Belakangan ini, tiap kali melihat Jokowi saya teringat meme gunung es yang kerap berseliweran di beranda media sosial. Puncaknya kecil, tapi bongkahannya jauh lebih...

Menagih Keseriusan Jokowi Membasmi Teroris Poso

Sebuah helikopter milik TNI AD mengalami kecelakaan dan jatuh di Poso. 13 prajurit gugur, di antara korban tewas terdapat Komandan Korem 132/Tadulako Kol. Inf....
Muhammad Husni
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Sedang Magang di Geotimes.

Belakangan ini hingga sekarang, kampus-kampus ternama di negeri ini sedang mengadakan rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Rangkaian penerimaan ini biasanya berjenjang mulai dari tingkat Universitas, Fakultas, dan Program Studi. Ada satu istilah yang diketahui oleh golongan lintas zaman tentang penamaan kegiatan ini─”ospek.”

Ospek secara bahasa merupakan sebuah akronim dari “orientasi studi dan pengenalan kampus.” Ospek pada tingkatan perguruan tinggi secara lazim dimaknai sebagai proses pengenalan mahasiswa baru terhadap sistem pendidikan tinggi, cara belajar mandiri dan suasana rumah yang baru─setidaknya selama kuliah. Setiap perguruan tinggi memiliki ciri khasnya masing-masing dalam mengadakan ospek dan tentunya “harus” diikuti oleh mahasiswanya.

Secara historis ospek diadakan di Indonesia sejak 1960-an dan hadir dengan nama masa prabakti mahasiswa (mapram). Dikarenakan adanya tindak kekerasan dan banyak korban yang jatuh─dalam kasus ini penyiraman soda api oleh mahasiswa senior pada juniornya di Institut Teknologi Sepuluh November─pada tahun 1971 muncul SK Menteri P dan K No.043 yang isinya menghapus nama mapram menjadi pekan orientasi studi (POS).

Waktu berjalan, penyebutan untuk kegiatan ini pun berubah-ubah dan menjadi beragam. Tentunya kita sering mendengar dari orang tua kita tentang seringnya ekses terjadi dalam kegiatan ini, namun pemerintah Indonesia seolah menutup mata pada sektor ini, seolah-olah ospek memang bukanlah bagian strategis dalam proses pendidikan (Noviana, 2010).

Dewasa ini tindak kekerasan dalam kegiatan ospek di Indonesia sudah mulai berkurang, walau begitu masih ada saja oknum-oknum bandel yang melestarikan budaya buruk ini. Tahun 2019 lalu, berita kurang nyaman datang dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara. Wajah-wajah baru yang harusnya dibimbing untuk mengenal kampusnya malah dijadikan mainan oleh para seniornya─dipaksa meminum air yang dicampur ludah.

Di luar tindakan semacam itu, masih ada kekerasan dalam bentuk lain seperti kekerasan ekonomi maupun psikologis─wujud paling nyatanya ialah bentakan yang irelevan terhadap mahasiswa baru yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Itu semua dilakukan atas nama “kedisiplinan.”

Teori liminalitas yang dikemukakan oleh Victor Turner mengatakan bahwa perubahan seseorang dikarenakan pengaruh kebudayaan yang berbeda dari tempat asalnya yang menimbulkan seseorang tidak mengikuti baik tempat asal maupun tempat baru yang ditempati.

Dalam teori ini ada tiga tahapan yakni praliminal, liminal dan post liminal. Pada fase praliminal para subjek masih berada dalam struktur masyarakat dan norma-norma yang berlaku di tempat asal, kemudian fase kedua yakni fase liminal merupakan tahap  di mana si subjek mengalami suatu keadaan ambigu.

Keadaan ambigu ini menjadi ciri khas tahap ini. Victor Turner menggambarkan keadaan ini dengan ruang. Dua ruang dibatasi oleh pintu tertutup. Liminal artinya ambang pintu. Berarti dia tidak di sini dan juga tidak di sana. Setiap anggota masyarakat diharapkan dapat melewati semua tahapan untuk memasuki tahap selanjutnya.

Teori liminalitas ini selalu dijadikan landasan untuk pelaksanaan ritus inisiasi ini─termasuk juga ospek─sebagai proses penghilangan keambiguan para mahasiswa baru dan penerimaan di tempat baru. Namun perlu dipertanyakan juga tentang mahasiswa seperti apa yang ingin dibentuk dari ritus ini? apakah mahasiswa yang siap untuk mendengarkan segala ucapan seniornya dengan berdalih kedisiplinan?

Fenomena kekerasan terhadap mahasiswa baru dapat diamati secara teoritis dari perspektif relasi kekuasaan menurut Foucault. Ia mengemukakan teorinya tentang wacana sebagai pengetahuan yang terstruktur: aturan, praktik yang  menghasilkan pernyataan bermakna pada satu rentang historis tertentu.

Kekuasaan bukan milik siapapun, mengartikan kekuasaan ada di mana-mana, ia sendiri menautkan kekuasaan dengan pengetahuan; sehingga kekuasaan memproduksi pengetahuan dan pengetahuan menyediakan kekuasaan. Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui penindasan, melainkan juga normalisasi dan regulasi (Sutrisno, 2005).

Masuk dan diakui sebagai anggota komunitas adalah motif yang menghegemoni para mahasiswa baru untuk menerima segala tindakan seniornya. Pada umumnya seorang mahasiswa baru haruslah menaati segala macam aturan yang dibuat oleh senior, harus sopan, menghargai dan menghormati para senior mereka. Sehingga secara tidak langsung menjadi terkonstruksi bahwa mahasiwa baru memang seharusnya menaati dan selalu tunduk kepada seniornya.

Intinya posisi mahasiswa baru selalu berada di bawah kekuasaan seniornya. Sehingga apabila mahasiswa baru tidak melakukan hal-hal yang sebagaimana diharapkan oleh seniornya berbagai macam hukuman menjadi sesuatu yang seakan-akan sah-sah saja diterima oleh mahasiswa baru.

Mahasiswa baru juga merasa bersalah apabila tidak dapat melakukan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh seniornya sehingga tidak melakukan protes atas perilaku kekerasan yang diterima oleh mereka. Itu berarti mahasiswa baru selalu dipojokkan dengan tuntutan bahwa mereka sendirilah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan yang menimpa dirinya─tentunya dibalut atas nama “kedisiplinan.”

Setelah memaparkan teori-teori di atas dan kenyataan yang ada, marilah kita merenungkan pertanyaan ini, “apakah ospek dengan metode baris-berbaris yang erat dengan relasi kuasa masih relevan hari ini?” mungkin artikel ini dipenuhi dengan subjektivitas saya, namun agaknya pertanyaan yang saya lontarkan tadi sangat patut kita refleksikan bersama.

Apakah ospek tanpa metode yang berbau feodal seperti di atas bisa tetap menyenangkan? Mental apa yang ingin dibentuk dari kegiatan mempermalukan orang dan merendahkan harkat maba? Mental pembalas dan pendendam? Mental pembenci kampus sendiri? Apakah ada ospek yang lebih menyenangkan?

Di tengah masa pandemi seperti ini, mustahil untuk mengadakan kegiatan berskala masif secara tatap muka─termasuk rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Untuk orang-orang di luar sana yang sependapat dengan saya, inilah momentum untuk memutus rantai kebencian yang serupa ouroboros (ular yang menggigit ekornya sendiri) tersebut. Saat ini, hanya saat ini dan tidak ada lain kali.

Barangkali dengan momentum ini kita─mahasiswa─sebagai golongan terpelajar bisa merumuskan hal-hal yang lebih relevan dengan jiwa zaman kita dalam kegiatan ospek ini. Misalkan: bagaimana cara mendaftar jadi anggota perpustakaan, cara meminjam buku, dan mengenal workstation, tempat mana yang diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas guna mengerjakan tugas atau bikin skripsi kelak.

Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan, dalam proses transformasi budaya ini tentunya akan ada pertentangan dari berbagai pihak. Satu hal yang perlu diingat, cinta tidak akan dan tidak pernah lahir dari bentakan, hukuman, serta paksaan. Cinta lahir dari perhatian dan penghargaan akan keberadaan orang lain.

Muhammad Husni
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Sedang Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.