Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Senjakala Literasi Kita

Stockholm Syndrome dalam Cubitan Samhudi

Hingga saat ini saya masih diselimuti kabut pertanyaan menyangkut sikap tidak sedikit teman dalam kasus Samhudi, guru terdakwa pencubit Arif, siswanya. Kegundahan saya cukup...

Demokrasi Membutuhkan Toleransi

Dalam masyarakat pluralistik seperti di Indonesia, salah satu tantangan terberat dalam menegakkan demokrasi adalah kecenderungan minusnya toleransi. Perbedaan etnis dan agama (kepercayaan) merupakan dua...

Kuliah El Loco, Keluhan Mou

Seseorang dalam pakaian kamuflase, dengan tang pemotong kawat dan teropong, ditangkap polisi saat mencoba bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari tempat latihan tim...

Sumpah Pemuda: Papua yang Indonesia dan Jakarta yang Bukan

Bahasa menunjukkan bangsa. Ungkapan itu sering diartikan bahwa tutur bahasa seseorang menunjukkan tabiat atau tingkah lakunya. Dalam spektrum lebih luas, ungkapan itu juga bisa...
Avatar
Arif Wicaksono
Alumnus FISIP UI

Literasi-okadibsusilasiraj.blogspot.co.id

Era digital menciptakan perubahan pola kognitif membaca. Dari sebuah buku kertas menjadi sebuah titik dalam layar komputer dan pola membaca yang tak fokus, meloncat-loncat atau bahkan bisa disebut multitasking. Bagai sebuah Juggernout, hal itu tak bisa dihindari atau bahkan tak bisa dipandang sebelah mata ketika masyarakat mulai menjauhi buku dan lebih sering memegang gawai dengan segala kecanggihan informasi di dalamnya.

Ada perbedaan pola ketika medium elektronik ini menyesaki kita. Pemberitaan pada kejadian tragedi Bom Thamrin, misalnya, menyajikan limpahan berita dibumbui simplifikasi, sensasi, dan ilusi. Tak otentik, meski menarik. Medium yang fleksibel dan cepat, cenderung membuat wartawan menitikberatkan persepsi dengan semangat menarik pembaca. Kondisi yang berbeda ketika wartawan diberikan jeda memverifikasi dengan cukup longgar, berdiskusi serta menyajikan data dengan keyakinan yang bisa dipertangungjawabkan dan berpeluang menjadi pergunjingan ilmiah.

Prolog di atas tak bisa dipungkiri berkonjungsi dengan dunia literasi kita. Ketika medium berganti ada pola yang berbeda dalam pola pikir kita. Medium menentukan pola kita berkomunikasi. Medium is everything, ujar Marshall McLuhan (1964). Hal ini juga menjadi ulasan Seno Gumilar Ajidarma (SGA) mengenai gaya komunikasi salah satu founding father yang berbahasa laiknya seorang dalang.

Soekarno kerap berjuang melalui medium cetak dengan gaya analisis mengutip Ernest Reinan, Karl Marx atau menggunakan data-data jumlah petani, produksi padi untuk menggambarkan ketimpangan sosial yang dilakukan penjajah atau nekolim. Perdebatan berlangsung dengan dialektika, meskipun ada bumbu retorika.

Berbeda ketika dia berucap dalam radio, yang dipenuhi dengan bahasa retoris, terkesan provokator dan berusaha mengambil jarak untuk mengamankan porosnya sebagai pejuang kemerdekaan. Dari balik podium, dia bisa menyihir petani, menghentikan kegiatan berladangnya, dengan kosa kata populer seperti Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), Jembatan Emas atau Revolusi Belum Mati, sementara sang pengkritiknya bisa membalasnya dalam sebuah artikel berbobot di koran.

Radio menjadi medium yang mahal pada waktu itu, berbeda dengan cetak. Namun medium cetak menjadi sarana bagi perdebatan intelektual kelas menengah atas, berbeda dengan medium lisan yang ditujukan untuk menengah bawah. Itu sebabnya si Bung sibuk mencari landasan teoritis untuk mengungkap gagasannya melalui koran dan mencari slogan menarik lewat radio. Di balik itu, Seno mengambil kesimpulan, si Bung tetaplah dalang yang mengaduk-aduk emosi pendengarnya.

Perubahan medium dari budaya tulis ke budaya lisan membuat komunikasi berubah menjadi entertain dan komodifikasi dari sebuah ilusi yang membangun harapan. Ariel Heryanto menyebut tren ini terjadi dalam pemilu ketika penekanan terhadap personal menjadi kata kunci untuk menarik simpati pemilih. Budaya lisan sebagaimana dengan gaya khasnya yang dangkal dan cepat, menyebarluaskan pendapat dalam hitungan menit, atau detik, bahkan hadir bertubi-tubi.

Siaran televisi menghujani pemirsa dengan generalisasi yang bisa diperbincangkan, tanpa ada perdebatan tertulis. Anda bisa membuat lagu dan menyanyi di atas panggung atau menonton konser band metal dan dipublikasikan sebagai pembicaraan awam atau bahasa kerennya trending topic dan jadi perdebatan yang tak penting untuk diprioritaskan.

Ruang publik dipenuhi dua kutub, yakni haters dan lovers, yang berkomentar. Padahal suka atau benci itu relatif dan tak mudah disimplifikiasi tanpa analisis kritis. Tapi ketika berbicara mengenai kedua itu, saya kerap menemukannya di dunia politik dan selebritis. Posisi dan peran yang berbeda dalam dunia nyata dan kemudian menjadi nyaris setara dalam dunia digital, penghibur.

Pembahasan di atas menjadi penting di tengah adanya perubahan tata norma dan etika yang berlaku dalam dunia tanpa batas yang mencerminkan kebebasan sesungguhnya, yang bahkan tak ditemui di setiap jengkal bumi ini. Ada kemudahan membuat, menyebarkan, sekaligus melenyapkannya dengan berganti isu yang lebih praktis atau (kadang) politis.

Kemudahan, di era ini, juga dibarengi dengan kegelisahan penulis dari berkembangnya pembajakan di dunia digital. Entah ratusan atau ribuan buku tersebar secara ilegal, bersebaran di internet. Bisa dipahami kedigdayaan ini lahir dari minimnya minat baca, perlambatan ekonomi, dan minimnya kesadaran untuk menghargai sebuah gagasan dan pembahasan kajian yang mendalam. Digitalisasi menciptakan peluang baru yang menihilkan pendapatan lama untuk bermigrasi ke Goggle World , yang sejatinya dikuasai kerajaan korporasi.

Jutaan manusia indonesia sibuk membuat status di sosial media, sementara jutaan aplikasi atau inovasi muncul setiap menit atau detik. Inovasi tak berasal dari mental masyarakat yang tak giat membaca buku. Fakta membuktikan banyaknya inovasi yang lahir dari negara yang literasi membacanya tinggi seperti AS dan Jerman. Tingkat demokrasi yang tinggi juga lahir di negara berliterasi tinggi seperti yang terjadi di sejumlah Negara Skandinavia.

Menjaga literasi berarti meningkatkan kebudayaan tertulis dengan menegakkan budaya membaca permasalahan secara otentik dan terbiasa untuk menggali permasalahan secara mendalam. Pekerjaan ini menjadi penting di tengah minimnya kesadaran atas aktualisasi nilai di saat banjirnya retorika yang beredar dalam bentuk buzzer, sebuah akun pendukung bayaran yang menjadi tren, yang banyak bergerak dalam menjaga citra.

Peringatan jelas disampaikan bahwa tingkat literasi indonesia yang rendah dan hanya berada di atas Botswana, dengan peringkat 60, dan dibawah Thailand sebagaimana dalam riset yang ditulis oleh Central Connecticut State University in the US (The Jakarta Post, 21 Maret). Literasi yang rendah menciptakan perilaku brutal dan cenderung tak menghargai hak asasi manusia (HAM).

Butuh riset mendalam jika mau menghubungkan riset ini dengan perilaku kekerasan seksual yang amat brutal belakangan ini. Ini juga bukan persoalan sepele karena mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup bangsa dalam beberapa waktu mendatang.

Avatar
Arif Wicaksono
Alumnus FISIP UI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.