Jumat, Januari 22, 2021

Seniman Atau Tukang Gonjreng

Agama, Kultur (In)Toleransi, dan Dilema Minoritas di Indonesia

Sejak Maret 2020, ketika Indonesia sedang sibuk berperang menghadapi virus Korona atau COVID-19, ternyata sebagian dari masyarakat kita masih ada yang terjangkiti virus lain,...

Bagaimana Pariwisata Dibangun Dari Darah Warganya

Sekitar bulan September 2016, atau sembilan bulan setelah Ekspedisi Indonesia Biru, sebuah perusahaan humas dan konsultan komunikasi yang dikontrak pemerintah, mengundang untuk sebuah diskusi...

Catatan Mudik 2018: Dari Warga Negara Biasa

Ada sedikit catatan tentang mudik 2018 yang sepertinya lancar jaya, tiga hal yang menjadi kesuksesan kunci mudik 2018 : Libur cuti bersama yang panjang,...

Pasca Pentersangkaan Ahok

Sebelumnya, saya perlu menegaskan terlebih dahulu posisi saya dalam tulisan ini. Saya tidak sedang mewakili pendukung Ahok. Begitu juga saya tidak sedang menjadi juru...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Bagaimana nasib seniman di masa pandemi? Apalagi seniman jalanan seperti pengamen.

Ya, pertanyaan ini sama kayak nasib para pekerja dunia hiburan pada umumnya. Suram. Pandemi telah memporakporandakan periuk nasi mereka. Sektor hiburan adalah sektor yang pertama kali ditampar krisis, dan ketika bangkit, merupakan sektor yang paling belakangan siuman.

Agak susah mencari celah bagaimana dunia mereka tetap hidup. Wong, lahan untuk mereka mencari nafkah saja gak buka. Misalnya mall, rumah makan, dan lokasi-lokasi pada umumnya.

Kini mungkin beberapa rumah makan sudah buka seperti biasa. Ruang untuk para semiman jalanan mencari pendapatan terbuka lagi. Tapi suasananya berbeda. Sungguh berbeda jauh.

Terus terang saja, dulu sebelum krisis, saya gak pernah bermasalah dengan kehadiran pengamen. Misalnya ketika makan, ada pengamen datang, saya santai saja menikmatinya. Tapi setelah krisis, saya malah agak sedikit khawatir. Bukan apa-apa, karena jarang ada pengamen yang bernyanyi dengan tetap memakai masker.

Padahal ketika mereka mangap, kan dropletmya terlempar kemana-mana. Pertanyaanya, bisakah seorang penyanyi jalanan tetap memakai masker saat beraksi?

Inilah bedanya seniman jalanan dengan para musisi atau penyanyi profesional. Penyanyi profesional biasanya tampil di panggung. Jarak antara dia dan penonton cukup jauh. Beda dengan seniman jalanan, yang jaraknya dengan konsumen begitu dekat. Droplet bisa jadi tidak terhindari saat mereka menyanyi.

Saya ingin bilang begini. Kondisi pendemi kali ini telah memporakporandakan pandangan orang terhadap seniman jalanan. Aksi mereka yang selama ini dianggap sebagai hiburan, meski alakadarnya, kini justru dipandang sebagai ancaman atau penganggu. Orang jadi khawatir dengan kehadiran mereka. Apalagi seniman jalanan yang biasanya menghampiri konsumennya begitu dekat.

Jika kehadiran mereka ‘agak menakutkan’, tentu saja ini juga ancaman bagi para pemilik warung makan. Sebab konsumen akhirnya mempertimbangkan kehadiran seniman ini ketika makan di sana. Jangan-jangan justru pengalaman banyaknya pengamen malah membuat orang malas mampir. Mungkin juga bukan karena merasa terganggu, tetapi karena gak nyaman dalam suasana pendemi.

Kesadaran ini harus juga dipahami para seniman jalanan. Bukan karena konsumen sekarang semakin pelit, tetapi secara psikologis kehadiran orang lain, apalagi sambil bernyanyi jarak dekat tanpa masker, sangat membuat orang gak nyaman. Orang parno tertular virus.

Apakah para pengamen dan seniman jalanan itu tahu kondisi ini? Tahulah.

Apakah mereka mau menyesuaikan diri? Itu masalahnya. Tidak gampang menyesuaikan diri dengan perubahan. Saya khawatir masa seniman jalanan yang biasa berkarir dari warung ke warung sudah berakhir. Orang tidak lagi terhibur dengan aksi mereka dari warung ke warung. Orang justru sangat khawatir dengan kehadiran mereka.

Harus ada terobosan serius bagaimana agar mereka tetap survive.

Pertama, seorang seniman mestinya hadir untuk menghibur, bukan sekadar dapat uang. Bukan mengandalkan belas kasihan. Artinya jika posisinya seperti itu mereka harus belajar psikologi konsumennya dengan jauh lebih baik. Jangan main hantam saja, yang penting nyanyi.

Kedua, jika memang tujuannya menghibur, ya mereka harus serius memperhatikan seluruh aspek hiburan. Kualitas musik, suara, tampilan, dan aksinya. Jika cuma gonjrang-gonjreng gak jelas, lalu keliling bawa kocrekan, itu namanya cuma mengandalkan belas kasihan. Tidak salah sih, memgandalkan belas kasihan orang. Tapi ya, cuma disitu aja kualitasnya. Jangan pernah berharap lebih.

Ketiga, lokasi juga penting. Mungkin saja kehadirannya di warung-warung makan pinggir jalan harus dikurangi. Jujur, saya sekarang menghindari warung makan yang suka dimampiri banyak pengamen. Saya ngeri.

Kini para seniman jalanan itu harus mulai berfikir ngamen di taman-taman, misalnya. Dengan demikian mereka gak lagi mengandalkan belas kasihan. Tapi sudah harus benar-benar berfikir ini sebagai show. Sebagai pertunjukan. Bagaimana bisa memukau orang di sana.

Para seniman jalanan sendiri-sendiri atau berkelompok, harus mulai berfikir bahwa mereka adalah menggelar pertunjukan. Orang mau merogoh kocek karena pertunjukannya tersebut. Bukan karena rasa iba.

Jadi mulailah meningkatkan kualitas seninya. Mulailah berfikir sebagai seniman. Itu jika mereka memyebut dirinya seniman jalanan. Kalau gak pernah berfikir sampai ke sana, ya mereka sesungguhnya bukan seniman.

Mereka hanya tukang gonjrang-gonjreng, yang mencari nafkah dari sana. Cuma sebatas itu.

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Berita sebelumnyaPeluruhan Mentalitas
Berita berikutnyaTaman Nasional Komodo Terancam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.