Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Seniman Atau Tukang Gonjreng

Pembolehan Poligami Bagi PNS Meminggirkan Perempuan

Salah satu harapan memilih Joko Widodo sebagai presiden untuk periode 2019-2024 adalah adanya peningkatan hak-hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dukungan kaum perempuan sangat...

Ulama Salafi, Tajam Penanya Bukan Keras Mikrofonnya

Peradaban dibangun oleh budaya baca—literat. Bukan pidato di panggung sambil jari menunjuk berharap applaus. Lebih serem lagi, ngaku failasuf produksinya meme. Peradaban Yunani kuno dibangun...

Benarkah Musim Kemarau Penyebaran Covid-19 Melambat?

Awal Maret 2020, Muhammad M Sajadi dan kawan-kawan dari Institut of Human Virology, University of Maryland School of Medicine, Baltimore, USA melakukan penelitian menggunakan...

Jokowi dan Problem Regulasi Ekonomi Berbagi

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang UMKM, Koperasi, dan Industri Kreatif Sandiaga Uno (tengah) disambut Founder & CEO GO-JEK Nadiem Makarim (kiri) usai menggunakan layanan...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Bagaimana nasib seniman di masa pandemi? Apalagi seniman jalanan seperti pengamen.

Ya, pertanyaan ini sama kayak nasib para pekerja dunia hiburan pada umumnya. Suram. Pandemi telah memporakporandakan periuk nasi mereka. Sektor hiburan adalah sektor yang pertama kali ditampar krisis, dan ketika bangkit, merupakan sektor yang paling belakangan siuman.

Agak susah mencari celah bagaimana dunia mereka tetap hidup. Wong, lahan untuk mereka mencari nafkah saja gak buka. Misalnya mall, rumah makan, dan lokasi-lokasi pada umumnya.

Kini mungkin beberapa rumah makan sudah buka seperti biasa. Ruang untuk para semiman jalanan mencari pendapatan terbuka lagi. Tapi suasananya berbeda. Sungguh berbeda jauh.

Terus terang saja, dulu sebelum krisis, saya gak pernah bermasalah dengan kehadiran pengamen. Misalnya ketika makan, ada pengamen datang, saya santai saja menikmatinya. Tapi setelah krisis, saya malah agak sedikit khawatir. Bukan apa-apa, karena jarang ada pengamen yang bernyanyi dengan tetap memakai masker.

Padahal ketika mereka mangap, kan dropletmya terlempar kemana-mana. Pertanyaanya, bisakah seorang penyanyi jalanan tetap memakai masker saat beraksi?

Inilah bedanya seniman jalanan dengan para musisi atau penyanyi profesional. Penyanyi profesional biasanya tampil di panggung. Jarak antara dia dan penonton cukup jauh. Beda dengan seniman jalanan, yang jaraknya dengan konsumen begitu dekat. Droplet bisa jadi tidak terhindari saat mereka menyanyi.

Saya ingin bilang begini. Kondisi pendemi kali ini telah memporakporandakan pandangan orang terhadap seniman jalanan. Aksi mereka yang selama ini dianggap sebagai hiburan, meski alakadarnya, kini justru dipandang sebagai ancaman atau penganggu. Orang jadi khawatir dengan kehadiran mereka. Apalagi seniman jalanan yang biasanya menghampiri konsumennya begitu dekat.

Jika kehadiran mereka ‘agak menakutkan’, tentu saja ini juga ancaman bagi para pemilik warung makan. Sebab konsumen akhirnya mempertimbangkan kehadiran seniman ini ketika makan di sana. Jangan-jangan justru pengalaman banyaknya pengamen malah membuat orang malas mampir. Mungkin juga bukan karena merasa terganggu, tetapi karena gak nyaman dalam suasana pendemi.

Kesadaran ini harus juga dipahami para seniman jalanan. Bukan karena konsumen sekarang semakin pelit, tetapi secara psikologis kehadiran orang lain, apalagi sambil bernyanyi jarak dekat tanpa masker, sangat membuat orang gak nyaman. Orang parno tertular virus.

Apakah para pengamen dan seniman jalanan itu tahu kondisi ini? Tahulah.

Apakah mereka mau menyesuaikan diri? Itu masalahnya. Tidak gampang menyesuaikan diri dengan perubahan. Saya khawatir masa seniman jalanan yang biasa berkarir dari warung ke warung sudah berakhir. Orang tidak lagi terhibur dengan aksi mereka dari warung ke warung. Orang justru sangat khawatir dengan kehadiran mereka.

Harus ada terobosan serius bagaimana agar mereka tetap survive.

Pertama, seorang seniman mestinya hadir untuk menghibur, bukan sekadar dapat uang. Bukan mengandalkan belas kasihan. Artinya jika posisinya seperti itu mereka harus belajar psikologi konsumennya dengan jauh lebih baik. Jangan main hantam saja, yang penting nyanyi.

Kedua, jika memang tujuannya menghibur, ya mereka harus serius memperhatikan seluruh aspek hiburan. Kualitas musik, suara, tampilan, dan aksinya. Jika cuma gonjrang-gonjreng gak jelas, lalu keliling bawa kocrekan, itu namanya cuma mengandalkan belas kasihan. Tidak salah sih, memgandalkan belas kasihan orang. Tapi ya, cuma disitu aja kualitasnya. Jangan pernah berharap lebih.

Ketiga, lokasi juga penting. Mungkin saja kehadirannya di warung-warung makan pinggir jalan harus dikurangi. Jujur, saya sekarang menghindari warung makan yang suka dimampiri banyak pengamen. Saya ngeri.

Kini para seniman jalanan itu harus mulai berfikir ngamen di taman-taman, misalnya. Dengan demikian mereka gak lagi mengandalkan belas kasihan. Tapi sudah harus benar-benar berfikir ini sebagai show. Sebagai pertunjukan. Bagaimana bisa memukau orang di sana.

Para seniman jalanan sendiri-sendiri atau berkelompok, harus mulai berfikir bahwa mereka adalah menggelar pertunjukan. Orang mau merogoh kocek karena pertunjukannya tersebut. Bukan karena rasa iba.

Jadi mulailah meningkatkan kualitas seninya. Mulailah berfikir sebagai seniman. Itu jika mereka memyebut dirinya seniman jalanan. Kalau gak pernah berfikir sampai ke sana, ya mereka sesungguhnya bukan seniman.

Mereka hanya tukang gonjrang-gonjreng, yang mencari nafkah dari sana. Cuma sebatas itu.

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Berita sebelumnyaPeluruhan Mentalitas
Berita berikutnyaTaman Nasional Komodo Terancam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.