Rabu, Oktober 21, 2020

Selamat Menguasai Dunia, Generasi “Pemalas”!

Guru yang Inspiratif dan Humoris, Mengenang Pak Bahtiar Effendy

"Kamu PPP, ya?" Sergah Pak Bahtiar memotong perkenalan saya. Seperti biasa dalam pertemuan pertama kuliah, dosen meminta mahasiswa memperkenalkan diri. Sewaktu studi di S3 UIN...

Bagaimana Ramadhan Menjadi Bulan Paling Agung

Menjelang puasa Ramadhan seperti sekarang, para penceramah mulai menghimpun bahan-bahan untuk mendakwahkan keutamaan bulan suci ini. Mereka akan mengulang-ulang apa yang disampaikan tahun lalu...

Politik Letoisme

Pada kisah pewayangan orang menemukan perihal filosofi jejer: identitas seseorang yang dapat ditentukan oleh peran dan fungsinya dalam sebuah sistem. Seumpama Arjuna, identitasnya adalah...

Manuver Ombudsman di Ujung Periode Jabatan

Kita membaca begitu ramai pembahasan publik terkait rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN. Banyak pendapat yang mengecam tindakan rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN....
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

Generation-YKini eranya generasi milenial menguasai dunia. Mereka yang lahir di periode 1980-an hingga 2000-an ini perlahan tapi pasti mulai mengambil alih dunia. Di Amerika Serikat, populasi Kaum Milenial sudah mengalahkan Baby Boomers. Biro Sensus Negeri Paman Sam merilis, mereka yang berusia 18-34 tahun di 2015 sudah berjumlah 75,4 juta jiwa. Kaum Baby Boomers terdesak menjadi 74,9 juta jiwa. Goldman Sach menjuluki milenial sebagai salah satu generasi terbesar di dunia.

Di Indonesia, Kaum Milenial akan jadi populasi terbesar di Indonesia di tahun 2020, demikian menurut Yoris Sebastian dari OMG Consulting. Walau banyak pihak optimistis pada kreativitas Kaum Milenial, sejumlah fakta tetap membuat kita bertanya-tanya. Betulkah generasi ini lebih baik dari generasi X, atau justru tidak?

Banyak pihak menggambarkan Kaum Milenial adalah kaum yang narsis dan pemalas. Bisa jadi karena mereka lahir di tengah dunia yang sudah mapan, teknologi canggih, akses internet was wus. Hobi selfie, enggan melakukan aktivitas outdoor, lebih suka asik dengan gadget ketimbang ngobrol langsung, membuat mereka dicap sebagai generasi manja.

Lindsey Pollak, penulis Becoming the Boss: New Rules for the Next Generation of Leaders, memahami kenapa label “pemalas” sangat lekat pada Generasi Milenial. Mereka sangat dimanjakan dengan teknologi. Lahir dan besar dengan Google dan GPS, yang membuat mereka bisa mendapatkan banyak jawaban cukup dengan beberapa kali klik. Betulkah mereka hanya “malas” bergerak karena kemajuan teknologi?

Nielsen telah merilis hasil “Generational Lifestyle Survey” atas Silent Generation, Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Hasilnya? Generasi Milenial paling rendah dalam minat baca, hanya 20%. Bahkan dikalahkan oleh generasi yang lebih muda, Generasi Z, yang punya minat baca 27%.

Bisa jadi itu karena Kaum Milenial terpengaruh pendahulunya, Generasi X, di mana hanya 24% saja yang hobi membaca. Urusan baca membaca masih didominasi Silent Generation, 42%, dan Baby Boomers, 29%.

Apa yang paling disukai Generasi Milenial? Menonton TV (31%), terkoneksi dengan teman-teman (28%) dan mendengarkan musik (27%). Bepergian? Hanya 18% saja. Bisa dibayangkan, generasi ini lebih suka beraktivitas di dalam ruangan, asik dengan TV, gadget, ngobrol di media sosial. Ya, seperti itulah gambaran generasi yang akan memimpin dunia.

“Mereka telah tumbuh beserta dengan gratifikasi instan yang tak dimiliki generasi terdahulu. Tempat kerja mereka sudah didukung teknologi, sehingga mempengaruhi cara mereka berkomunikasi juga,” komentar Vicki Salemi, pakar karier dari Monster.Com.

GenerasiApa benar Kaum Milenial ini pemalas? Tidak juga. Kalau mereka terkesan seperti pemalas, mungkin ya. Namun bukan berarti benar-benar malas. Generasi Baby Boomers dan Generasi X terkesan lebih rajin, sebab untuk mendapatkan informasi perlu perjuangan khusus. Harus ke perpustakaan, atau riset lapangan, karena memang sumber informasi online masih minim di zamannya. Sementara Kaum Milenial terlahir dalam kondisi di mana Google sudah bisa jadi referensi komplit atas banyak hal.

Ada sejumlah ciri yang membuat Kaum Milenial terkesan malas, setidaknya menurut LifeHack.Org. Mereka enggan berbusana formal, lebih menyukai pakaian santai di tempat kerja. Milenial memandang pekerjaan bukan segalanya. Menikmati hidup merupakan cita-cita utamanya. Akibatnya, Kaum Milenial tak sudi menjadi sekadar sekrup kecil di suatu industri besar.

Ya, mereka lebih ambisius, mungkin ini penjelasan kenapa banyak start up yang digawangi anak muda bermunculan. Sekilas terkesan meremehkan pekerjaan, tapi sebenarnya berjiwa bisnis tinggi.

Jangan lupa, Milenial cukup terencana dan selektif memilih tempat kerja. Data dan informasi seputar perusahaan bisa dengan mudah dicari di internet, bertanya ke teman media sosial. Dari situ mereka mampu memutuskan ingin bekerja di tempat seperti apa. Terkesan picky? Manja? Ya, walau sesungguhnya itu sikap selektif.

Para Milenal pun terbiasa bekerja multitasking. Menjawab email kerja sambil jalan-jalan di mal, telekonferens di kafe. Semua terkesan main-main, padahal tidak. Kecanggihan gadget dan akses internet stabil mengondisikan mereka untuk dapat bekerja di mana saja, kapan saja. Hal yang sulit dilakukan generasi sebelumnya.

Para Milenial pun sebenarnya generasi yang mandiri, cepat belajar. Dapat mempelajari sesuatu melalui Google, segudang aplikasi yang mempermudah segalanya. Mengakses kisah inspiratif pengusaha muda sukses di seantero dunia, yang melecut ambisi untuk bisa sesukses mereka. Tak heran para eksekutif muda masa kini enggan dinasihati, sebab lebih self motivated.

Generasi dengan ciri-ciri itulah yang kelak mendominasi dunia, setelah Generasi X mulai terdesak. Pemalas? Sekilas memang begitulah kesannya. Padahal sama sekali tidak. Mereka justru sangat aktif dan kreatif dalam “kepemalasannya”. Selamat menguasai dunia, Generasi Milenial. Kita lihat akan seperti apakah dunia ini di tangan mereka.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.