Selasa, Januari 26, 2021

Selamat Menguasai Dunia, Generasi “Pemalas”!

Menghapus Diksi Bolos

Dulu, orang-orang sempat mengandaikan keberadaan birokrasi bakal membuat tata kehidupan berbangsa dan bernegara jadi rapi, beres, dan membahagiakan. Para pelamun itu tentu membaca khatam...

Pak Emil Salim dan Tarik Ulur Pemindahan Ibu Kota

Presiden Joko Widodo telah membuat keputusan politik untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Ini keputusan yang berani di tengah kelesuhan ekonomi...

Ramadhan dan 2 Tahun Khilafah ISIS

Pada 1 Ramadhan 1435 Hijriah (29 Juni 2014) kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mendeklarasikan “negara” Khilafah. Ini berarti datangnya Ramadhan...

Daging Qurban untuk Siapa?

Idul Adha, dikenal pula dengan Lebaran Haji atau Hari Raya Qurban, telah tiba. Qurban berarti menyembelih hewan ternak seperti unta, lembu, sapi, atau kamping,...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

Generation-YKini eranya generasi milenial menguasai dunia. Mereka yang lahir di periode 1980-an hingga 2000-an ini perlahan tapi pasti mulai mengambil alih dunia. Di Amerika Serikat, populasi Kaum Milenial sudah mengalahkan Baby Boomers. Biro Sensus Negeri Paman Sam merilis, mereka yang berusia 18-34 tahun di 2015 sudah berjumlah 75,4 juta jiwa. Kaum Baby Boomers terdesak menjadi 74,9 juta jiwa. Goldman Sach menjuluki milenial sebagai salah satu generasi terbesar di dunia.

Di Indonesia, Kaum Milenial akan jadi populasi terbesar di Indonesia di tahun 2020, demikian menurut Yoris Sebastian dari OMG Consulting. Walau banyak pihak optimistis pada kreativitas Kaum Milenial, sejumlah fakta tetap membuat kita bertanya-tanya. Betulkah generasi ini lebih baik dari generasi X, atau justru tidak?

Banyak pihak menggambarkan Kaum Milenial adalah kaum yang narsis dan pemalas. Bisa jadi karena mereka lahir di tengah dunia yang sudah mapan, teknologi canggih, akses internet was wus. Hobi selfie, enggan melakukan aktivitas outdoor, lebih suka asik dengan gadget ketimbang ngobrol langsung, membuat mereka dicap sebagai generasi manja.

Lindsey Pollak, penulis Becoming the Boss: New Rules for the Next Generation of Leaders, memahami kenapa label “pemalas” sangat lekat pada Generasi Milenial. Mereka sangat dimanjakan dengan teknologi. Lahir dan besar dengan Google dan GPS, yang membuat mereka bisa mendapatkan banyak jawaban cukup dengan beberapa kali klik. Betulkah mereka hanya “malas” bergerak karena kemajuan teknologi?

Nielsen telah merilis hasil “Generational Lifestyle Survey” atas Silent Generation, Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Hasilnya? Generasi Milenial paling rendah dalam minat baca, hanya 20%. Bahkan dikalahkan oleh generasi yang lebih muda, Generasi Z, yang punya minat baca 27%.

Bisa jadi itu karena Kaum Milenial terpengaruh pendahulunya, Generasi X, di mana hanya 24% saja yang hobi membaca. Urusan baca membaca masih didominasi Silent Generation, 42%, dan Baby Boomers, 29%.

Apa yang paling disukai Generasi Milenial? Menonton TV (31%), terkoneksi dengan teman-teman (28%) dan mendengarkan musik (27%). Bepergian? Hanya 18% saja. Bisa dibayangkan, generasi ini lebih suka beraktivitas di dalam ruangan, asik dengan TV, gadget, ngobrol di media sosial. Ya, seperti itulah gambaran generasi yang akan memimpin dunia.

“Mereka telah tumbuh beserta dengan gratifikasi instan yang tak dimiliki generasi terdahulu. Tempat kerja mereka sudah didukung teknologi, sehingga mempengaruhi cara mereka berkomunikasi juga,” komentar Vicki Salemi, pakar karier dari Monster.Com.

GenerasiApa benar Kaum Milenial ini pemalas? Tidak juga. Kalau mereka terkesan seperti pemalas, mungkin ya. Namun bukan berarti benar-benar malas. Generasi Baby Boomers dan Generasi X terkesan lebih rajin, sebab untuk mendapatkan informasi perlu perjuangan khusus. Harus ke perpustakaan, atau riset lapangan, karena memang sumber informasi online masih minim di zamannya. Sementara Kaum Milenial terlahir dalam kondisi di mana Google sudah bisa jadi referensi komplit atas banyak hal.

Ada sejumlah ciri yang membuat Kaum Milenial terkesan malas, setidaknya menurut LifeHack.Org. Mereka enggan berbusana formal, lebih menyukai pakaian santai di tempat kerja. Milenial memandang pekerjaan bukan segalanya. Menikmati hidup merupakan cita-cita utamanya. Akibatnya, Kaum Milenial tak sudi menjadi sekadar sekrup kecil di suatu industri besar.

Ya, mereka lebih ambisius, mungkin ini penjelasan kenapa banyak start up yang digawangi anak muda bermunculan. Sekilas terkesan meremehkan pekerjaan, tapi sebenarnya berjiwa bisnis tinggi.

Jangan lupa, Milenial cukup terencana dan selektif memilih tempat kerja. Data dan informasi seputar perusahaan bisa dengan mudah dicari di internet, bertanya ke teman media sosial. Dari situ mereka mampu memutuskan ingin bekerja di tempat seperti apa. Terkesan picky? Manja? Ya, walau sesungguhnya itu sikap selektif.

Para Milenal pun terbiasa bekerja multitasking. Menjawab email kerja sambil jalan-jalan di mal, telekonferens di kafe. Semua terkesan main-main, padahal tidak. Kecanggihan gadget dan akses internet stabil mengondisikan mereka untuk dapat bekerja di mana saja, kapan saja. Hal yang sulit dilakukan generasi sebelumnya.

Para Milenial pun sebenarnya generasi yang mandiri, cepat belajar. Dapat mempelajari sesuatu melalui Google, segudang aplikasi yang mempermudah segalanya. Mengakses kisah inspiratif pengusaha muda sukses di seantero dunia, yang melecut ambisi untuk bisa sesukses mereka. Tak heran para eksekutif muda masa kini enggan dinasihati, sebab lebih self motivated.

Generasi dengan ciri-ciri itulah yang kelak mendominasi dunia, setelah Generasi X mulai terdesak. Pemalas? Sekilas memang begitulah kesannya. Padahal sama sekali tidak. Mereka justru sangat aktif dan kreatif dalam “kepemalasannya”. Selamat menguasai dunia, Generasi Milenial. Kita lihat akan seperti apakah dunia ini di tangan mereka.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.