OUR NETWORK

Selamat Mengembara di Alam Spiritual, Pak Tides

Tides bisa menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa para pendiri bangsa melihat kebhinnekaan yang berasal dari berbagai sumber di Indonesia itu adalah keniscayaan: hanya dengan gotong royong.
Aristides Katoppo (1938-2019) [foto: dw.com]

Si tou timou tumou tou yang artinya manusia baru benar-benar dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia lain adalah kalimat terkenal dari Dr. GSSJ Ratulangi. Kalimat itu, di kalangan orang Minahasa, dipandang sangat tepat menggambarkan cita-cita luhur mereka. Dan bila kalimat itu dipergunakan untuk menimbang kemanusiaan Aristides Katoppo, maka siapa pun akan menyatakan bahwa ia benar-benar bisa disebut sebagai manusia.

Jurnalis senior dari Tanah Minahasa itu lahir pada 14 Maret 1938.  Tahun lalu, mereka yang mengenalnya dengan akrab menghadiahi beliau sebuah buku yang berisikan tulisan-tulisan yang membuat banyak orang bisa belajar soal sosok yang mengagumkan itu. Tides Masih Mengembara, begitu judul buku yang dikerjakan atas inisiatif istrinya, Sasmiyarsi Sasmoyo, atau yang biasa dipanggil Bu Mimis. Di dalamnya bisa dibaca tulisan tokoh lingkungan Profesor Emil Salim, penyair Eka Budianta, hingga jurnalis senior Rudy Badil.

Mengomentari tulisan-tulisan yang ada di dalamnya, beliau berkomentar bahwa dia tak ingin para pembaca melihatnya sebagai nostalgia belaka atas kehidupannya, melainkan sebagai inspirasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Menciptakan masa depan yang lebih baik adalah proyeknya hingga akhir hayatnya, 29 September 2019.

Hidup saya bersinggungan pada tiga bidang dengan Pak Tides, begitu panggilan hormat saya pada beliau. Pertama, dalam soal tulis-menulis. Kedua, dalam soal gerakan lingkungan. Ketiga, dalam soal gotong royong. Dalam ketiga bidang itu, peran beliau sangat besar di Indonesia, dan pengembaraan saya yang lahir 35 tahun setelah beliau mustahil tak bisa melihat jejak-jejak kuat yang ditinggalkannya.

Saya membaca tulisan-tulisan di surat kabar secara rutin sejak di bangku SMA, sehingga saya bisa ingat siapa saja penulis yang menurut saya memiliki tenaga yang kuat di setiap tulisannya. Aristides Katoppo adalah salah satu yang saya tandai selalu memiliki subtansi yang penting dan gaya yang khas. Tulisannya selalu menimbulkan perasaan tertentu, bukan sekadar menggelitik benak, tetapi juga menggerakkan hati. Ketika beberapa tahun setelah lulus SMA saya mencoba untuk mulai menjadi penulis, saya benar-benar ingin memiliki kemampuan seperti beliau.

Tetapi, saya tak pernah benar-benar kesampaian menjadi jurnalis yang bekerja untuk media massa tertentu. Ada banyak alasan, dan dalih, yang membuat saya tak pernah sampai ke situ, walau buku All the President’s Men karya Bob Woodward dan Carl Bernstein adalah salah satu buku yang saya baca berulang kali ketika duduk di bangku kuliah. Saya cuma ingin bisa menuliskan isu-isu sensitif di media massa, mengikuti keberanian Pak Tides yang legendaris itu.

Bayangkan, ketika semua orang ciut di hadapan kekuasaan Soeharto, beliau berani menuliskan soal kasus penembak misterius, disingkat petrus, dari sudut pandang yang tak membenarkan perilaku itu. Kini kita semua bisa membaca bahwa akibat keberanian Pak Tides, kantor surat kabarnya di Malang pernah dikirimi kotak berisi kepala orang yang baru menjadi korban petrus. Dan, sebagaimana yang kini banyak diketahui orang lewat tulisan Stanley Adi Prasetyo, beliau sengaja datang ke kantor Benny Moerdani dengan membawa kotak yang mirip namun berisikan buah tangan.

Kisah-kisah keberanian Pak Tides seabrek. Sinar Harapan adalah media massa yang menjadi tempatnya mengabdi sejak tahun 1961, dan berkali-kali media massa yang terbit sore tersebut harus menanggung ancaman bahkan sanksi pembredelan akibat tulisan-tulisannya yang berani. Akibatnya, yang beliau sikapi dengan positif adalah munculnya kesempatan belajar dan mengajar di universitas-universitas terkemuka. Pak Tides pernah mampir di Universitas Stanford, Harvard, dan Johns Hopkins akibat pengungsiannya itu.  Akibat keberaniannya pula, Indonesia mengenal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI).

Di sebuah pertemuan di kawasan Lippo Cikarang di tahun 2015, beliau mendengarkan saya “protes” lantaran saya merasa sedang melihat keruntuhan jurnalisme yang serius di negeri ini. Dalam perbincangan itu saya mendapatkan gambaran dari beliau tentang bagaimana seorang jurnalis harus memegang teguh 4N: nalar, naluri, nurani, dan nyali. Ketika saya memeriksa beberapa artikel untuk membuat tulisan ini, saya mendapati wawancara dengan beliau yang dimuat media daring DW.com, Aristides Katoppo: “Selain Nurani, Jurnalis Juga Harus Punya Nyali” yang membuat saya terkenang pada diskusi kami. Buat saya, Pak Tides adalah benar-benar perwujudan 4N yang disebutkannya itu.

Pak Tides juga pencinta alam dan pelaku gerakan lingkungan yang konsisten. Beliau tercatat sebagai salah satu penggagas berdirinya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Indonesia juga merupakan salah satu organisasi yang dia bantu dirikan. Kawan-kawannya pencinta gunung termasuk Rudy Badil, Soe Hok Gie, dan Herman Lantang.

Dan hingga akhir hayatnya, kegiatan di alam bebas tak pernah ditinggalkan. Di awal September ada foto-foto beliau sedang bermain sepakbola di Yogyakarta, dan baru beberapa hari lampau beliau menapaki punggung Gunung Semeru. Di foto beliau yang terakhir saya lihat, bersama dua temannya yang juga tak lagi muda, beliau tetap tersenyum ramah seperti biasanya, senyum yang menjalarkan perasaan tenang kepada siapa pun yang melihatnya dan benar-benar menular. Padahal, di situ juga bisa dilihat bahwa beliau berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat.

Para sahabat Tides, yang menuliskan kesannya tentang Aristides Katoppo pada Buku Tides Masih Mengembara, menerima buku tersebut dari Sasmiyarsi Sasmoyo (Mimis).[SHNet/whm]
Saya pernah bersama beliau mendatangi pulau-pulau kecil di Kabupaten Wakatobi. Pagi itu saya tak memperhatikan kondisi beliau ketika berada di hotel tempat kami menginap, juga ketika perjalanan menuju ke dermaga. Begitu kami turun dari mobil, saya lalu melihat beliau terpincang-pincang, dan saya perhatikan ternyata kakinya bengkak.

Saya yakin betul kondisinya tidak demikian sehari sebelumnya ketika beliau turut aktif dalam diskusi yang saya ikuti. Saya lalu bertanya mengapa beliau tidak istirahat saja, sambil membantu beliau berjalan. Jawabannya sungguh menggelikan, “Saya mau berenang, sebentar lagi kaki bengkak tidak ada pengaruhnya.” Dan benar saja, ketika kapal belum lagi tiba di dermaga tujuan, Pak Tides sudah melemparkan dirinya ke lautan yang jernih.

Kami cukup banyak mendiskusikan gerakan lingkungan di Indonesia. Ketertarikan saya pada sejarah gerakan sosial, termasuk gerakan lingkungan, membuat beliau ada di kepala saya sebagai narasumber yang penting.  Ada dua hal yang saya tangkap selalu menjadi pesannya. Pertama, berada di gerakan lingkungan itu berarti harus menjalani hidup yang sesuai dengan apa yang diperjuangkan.

Kedua, gerakan lingkungan itu terutama adalah soal masa kini dan mendatang, yang menurut beliau memiliki tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan apa yang beliau dan rekan-rekannya hadapi. Tak mengherankan kalau beliau tampaknya kurang antusias bila saya bertanya soal sejarah gerakan lingkungan. Mungkin beliau tak ingin saya terjebak dalam nostalgia gerakan belaka.

Apa yang membuat saya berada di Kabupaten Wakatobi bersama beliau adalah soal gotong royong. United in Diversity (UiD) adalah salah satu di antara sekian banyak organisasi yang beliau dirikan, dan saya mendapati diri saya tertarik sedemikian kuat untuk masuk ke dalam organisasi, atau lebih tepatnya keluarga besar, itu. Organisasi itulah yang memberi saya kesempatan belajar di Sloan School of Management, MIT dan School of Economics and Management, Tsinghua University. Di organisasi itu saya merasa kembali belajar alifbata soal gotong royong, terutama dari ceramah-ceramah Pak Tides.

Walau saya telah membaca banyak sekali tulisan Pak Tides, saya belum pernah berjumpa dekat dengan beliau sampai bulan Agustus 2014 di Puncak. Di situ beliau memberikan pembekalan bagi seluruh peserta Innovative Dynamic Education and Action for Sustainability (IDEAS) fellowship beberapa minggu sebelum kami bertemu dengan para mahaguru di kampus MIT.

Di situ beliau tak memberikan pengantar soal Theory U, yang bakal kami dengar langsung dari penciptanya, Profesor Otto Scharmer. Tetapi, beliau memulai dengan cerita soal sejarah pendirian Indonesia, terutama soal bagaimana kebhinnekaan Indonesia bisa menjadi modal terbesar bagi kemajuan. Di situ pula, untuk kali pertama, saya benar-benar merasa memahami bahwa ucapan Bung Karno—yang menyatakan bahwa bila Pancasila diperas menjadi satu sila saja, maka itu adalah gotong royong—memang masuk akal.

Sepanjang hayat mungkin saya melihat gotong royong dalam pengertian yang paling dangkal: kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar tempat tinggal, bersekolah, atau bekerja. Pak Tides bisa menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa para pendiri bangsa melihat kebhinnekaan yang berasal dari berbagai sumber di Indonesia itu adalah keniscayaan yang hanya bisa disatukan dengan gotong royong dalam pengertiannya yang paling dalam.

Beliau juga menyatakan bahwa gotong royong sebagai ide yang mempersatukan Indonesia itu ditemukan lewat campur tangan Tuhan, yaitu ilham bagi para pendiri bangsa Indonesia. Lantaran kesakralannya pula, berulang kali bangsa Indonesia bisa mematahkan ramalan soal pecahnya negara. Kalau penjelasan beliau soal gotong royong sangat masuk akal, penjelasan tentang ilham itu sangatlah masuk hati.

UID memanfaatkan Theory U yang terkenal karena kemangkusan dan kesangkilannya dalam menyatukan para pemangku kepentingan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Prasyarat keterbukaan benak, hati, dan tekad—untuk melawan suara-suara penghakiman, sinisisme, dan ketakutan—yang ditemukan dari ribuan pembawa perubahan yang diwawancarai oleh Scharmer, ingin ditularkan ke sebanyak mungkin orang di Indonesia.

UID juga bergiat menyebarluaskan pemanfaatan systems thinking untuk memahami kompleksitas—bukan berarti kerumitan sebagaimana yang selama ini banyak dipahami, melainkan kesalingterhubungan—agar mendorong para pembawa perubahan untuk bergotong royong dalam kemitraan tiga sektor untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Kini Pak Tides telah meninggalkan kami, keluarga UID, dan kita semua, bangsa Indonesia dan warga dunia. Tetapi saya sangat yakin bahwa apa yang beliau perjuangkan akan tetap tinggal di sanubari setiap orang yang pernah disentuhnya lewat perjumpaan langsung maupun tak langsung.

Keyakinan yang sama juga dimiliki Otto Scharmer, salah seorang guru terbaik di dunia dan sahabat erat Pak Tides.  Ia menuliskan kata-kata yang sangat indah untuk mengantar pengembaraan beliau ke alam spiritual: “Tides – as your Soul is crossing the threshold to the spiritual world, your spirit and presence will stay with us on Earth where we continue the fight and journey that you inspired and continued, and that at the end of our days we will pass on to our children and their fellow travelers….”

Selamat jalan, Pak Tides. Selamat mengembara di alam spiritual. Terima kasih untuk seluruh kebaikan yang telah engkau berikan sepanjang hayatmu kepada saya dan kami semua. Saya bersaksi bahwa engkau telah memanusiakan jutaan manusia lain.

Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…