OUR NETWORK

Selamat Hari Ibu, Mama-Mama Papua

Foto Dokumentasi Dandhy Laksono. Indonesia Biru.
Foto dokumentasi Dandhy Laksono. Ekspedisi Indonesia Biru 2015.

Usaha untuk menjelaskan bahwa Hari Ibu adalah propaganda untuk mereduksi peran perempuan dalam gerakan politik di Indonesia patut kita sebarkan. Misalnya ketika Mariana Aminudin menyusun artikel panjang yang membahas pergeseran Hari Ibu di Indonesia dari makna “perjuangan perempuan”. Dalam artikel berjudul Hari Ibu di Indonesia Bukan Mothers Day!, Mariana berusaha mengembalikan lagi arti gerakan perempuan pada 22 Desember. Baginya, penggelapan sejarah telah menanggalkan arti penting gerakan perempuan itu sendiri.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Bonnie Triyana yang menyebut bahwa Hari Ibu bukanlah momen menyanjung peran domestik perempuan. Namun sebuah hari di mana perempuan-perempuan di Nusantara melawan budaya patriarkis yang berdiri di atas nilai-nilai feodal saat itu. Bahkan pada tataran praktis dan gerakan, perempuan tak lagi berdiam di dapur atau pasrah menerima nasib yang terjadi pada diri mereka. Sejumlah advokasi terhadap perempuan korban pertikaian rumah tangga dilakukan oleh organisasi-organisasi perempuan anggota Kongres Perempuan.

Kini, ketika 22 Desember dimaknai sebagai Hari Ibu, tentu pemahaman tentang sejarah menjadi sangat relevan untuk melihat bagaimana peran perempuan hari ini. Perempuan mengisi peran-peran strategis dan bahkan memperoleh capaian yang mengagumkan. Tapi di sisi lain gerakan perempuan juga mengalami kemandekan, kritik, dan juga reduksi karena kecurigaan beberapa orang terhadap nilai-nilai feminisme. Padahal gerakan perempuan dan feminisme sebenarnya berusaha untuk memajukan harkat kemanusiaan semua jenis kelamin.

Tapi marilah kita posisikan sedikit diri kita untuk jadi melankolis dalam memandang Hari Ibu. Bagaimana kita mesti merayakan atau mengingat hari ini? Perempuan masih menjadi kelompok rentan yang kerap mengalami diskriminasi, kekerasan seksual, kekerasan domestik, dan juga pelecehan. Dalam banyak hal mereka juga adalah kelompok yang paling sering menanggung kesedihan ketika kejahatan kemanusiaan terjadi. Seperti yang dialami oleh ibu-ibu kamisan yang menuntut negara menghapus impunitas dan menegakan keadilan.

Solidaritas terhadap penderitaan kaum ibu semestinya menjadi tonggak penting kesadaran sosial. Di Papua, Mama-Mama adalah kelompok yang paling menderita. Mereka adalah yang paling merasakan kehilangan. Dalam tragedi pembantaian Paniai, misalnya, mereka yang mati adalah anak-anak usia sekolah. Belum lagi kasus kematian balita yang terjadi belakangan ini. Lebih dari 40 kasus kematian misterius terjadi dan tentu Mama-Mama Papua inilah yang paling menderita.

Mama Papua tidak mengandung sembilan bulan, merawat anak mereka dengan kerja keras, dan kemudian mendewasakannya dengan kasih sayang untuk kemudian mereka dibunuh dengan peluru. Ini hal yang paling penting disadari. Sementara merayakan Hari Ibu, Mama-Mama di Papua merasakan kehilangan. Kematian anak-anak mereka dan yang paling menyedihkan adalah tidak ada keadilan bagi mereka.

Bagaimana semestinya keadilan ditegakkan? Apakah Mama-Mama Papua ini tidak berhak mendapatkan keadilan? Bukankah di tanah mereka terdapat kekayaan begitu besar, yang kemudian manfaatnya dinikmati oleh Indonesia? Namun mengapa keadilan seperti jauh dari para ibu ini? Penyeleaian kasus penembakan yang kemudian berakhir dengan kematian jarang ada yang mendapatkan penyelesaian hukum yang jelas. Apakah Mama-Mama ini tidak berhak mendapatkan keadilan?

Sepanjang 2015 kekerasan di Papua masih juga terjad. Korbannya berasal dari sipil dan militer. Contohnya kasus penembakan dan pembunuhan para aktivis di Kabupaten Yahukimo yang diduga dilakukan oleh aparat Brimob pada 20 Maret 2015.  Kasus penembakan di Kabupaten Dogiyai pada 25 Juni 2015. Kasus amuk massa di Kabupaten Tolikara pada 17 Juli 2015.  Kasus penembakan di Kabupaten Timika pada 28 Agustus 2015. Dan kasus penembakan hingga mati di Kabupaten Kepulauan Yapen yang membunuh empat orang. Beberapa yang mati ini bahkan bukanlah orang dewasa, tak memegang senjata, dan bahkan tak mampu membela diri.

Mereka mati meninggalkan ibu mereka. Ibu yang mungkin tak lagi tahu harus bagaimana menghadapi duka. Dalam banyak hal sebenarnya Hari Ibu adalah sebuah perayaan pedih bagi Mama-Mama Papua. Apakah mereka masih disebut ibu jika anak-anak mereka telah mati meregang nyawa? Sementara keadilan masih jauh dari terwujud. Bisakah Anda membayangkan bagaimana penderitaan seorang ibu yang mesti mengantarkan anaknya ke liang lahat?

Bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kematian anak-anak Papua kepada ibunya? Bagaimana semestinya ibu-ibu Papua ini mendapatkan keadilan? Mengapa demikian susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah kekerasan di Papua? Ada apa sebenarnya.

Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…