Jumat, Oktober 30, 2020

Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Syafii Perspektif Anak Muda

Alihan dalam Fantasi Catatan Keseharian

Tukang gambar itu menghadirkan sosok-sosok manusia yang tak terperikan oleh nalar pengunjung pamerannya. Di atas permukaan datar, dunia penggambarannya yang polos dan bersahaja tanpa...

Pak Nasir, Kenapa Mesti Impor Rektor Bule?

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tengah menjajaki kemungkinan merekrut dosen dan rektor asing (bule) untuk mengajar dan memimpin perguruan tinggi di Indonesia. Tentu...

Puasa, Sepakbola, dan Perdamaian Dunia

Seluruh umat Islam sedunia kini sedang melaksanakan ibadah puasa selama sebulan. Ramadan menjadi bulan paling istimewa bagi Muslim karena janji limpahan pahala dari-Nya. Pelaksanaan ibadah ...

Jejak “Amok” Masyarakat Kita

Duka datang dari Tanjung Balai. Di kota pelabuhan yang sempat berkembang pesat di masa Hindia Belanda ini, ratusan orang mengamuk seketika. Masalah bermula ketika...
MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Pemikiran penting lainnya dari Buya Syafii adalah ide tentang Pancasila sebagai dasar negara. Bagi Buya, Pancasila adalah konsensus kebangsaan yang memungkinkan masuknya sinar wahyu, sehingga Pancasila kemudian tidak bisa dipahami sebagai suatu ideologi sekuler. Gagasan ini mematahkan tuduhan bahwa Pancasila adalah non-Islami, ideologi toghut, ataupun produk kolonialisme (baca bagian pertama “Buya Syafii Maarif di Mata Anak Muda).

Tetapi dalam persoalan itu, Buya tetap selalu kritis dalam memandang kontestasi Pancasila dalam konteks laku atau perbuatan. Menurut Buya, hal yang terpenting bukanlah legitimasi yuridis tentang posisi Pancasila, tetapi lebih jauh dari itu bahwa Pancasila harus selalu diamalkan dalam perbuatan dan laku kehidupan masyarakat Indonesia, utamanya adalah para pejabat elite negara yang telah sering mengkhianati nilai-nilai Pancasila.

Pancasila dalam kerangka berpikir Buya, tidak akan pernah memberikan dampak perbaikan apapun manakala nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya tidak terwujud di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Pancasila berarti mengkhianati kemanusiaan yang hanya akan memperpanjang derita bangsa Indonesia serta menjauhkan negara dari cita-cita mulia kemerdekaan yakni terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Untuk mendukung gagasan Pancasila ini, Buya menegaskan bahwa sistem politik demokrasi sangat relevan dalam konteks dunia modern. Demokrasi memberikan ruang penempatan manusia pada posisi setara (egaliter) dalam proses pengambilan keputusan. Lebih lanjut, demokrasi menyediakan proses dialektika kritis antara penguasa dan rakyat, di mana rakyat memiliki kekuatan untuk mengontrol penguasa. Sehingga akan terjadi keseimbangan relasi kuasa dan menghadang sikap tirani dan otoritarianisme.

Kendati demikian, lagi-lagi Buya tidak pernah berhenti pada tataran konseptual-teoretis. Buya kembali mengingatkan bahwa meskipun dirinya mendukung sistem demokrasi, tetapi praktek demokrasi tersebut harus dilandasi dengan spirit keadilan.

Menurut Buya, demokrasi tanpa keadilan hanya akan menyediakan ruang bagi panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Rakyat akan dikebiri dan dipermainkan sebagai alat kepentingan penguasa. Untuk itulah, keadilan menjadi prinsip dan landasan utama dalam pelaksanaan negara demokrasi. Sila kelima Pancasila menempatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai basis sekaligus tujuan negara.

Dari sinilah, kita bisa memahami bahwa sosok Buya adalah pribadi yang senantiasa kritis dan gelisah akan masa depan bangsa Indonesia, namun tanpa kehilangan spirit optimisme. Optimisme Buya ini tentunya diletakkan di atas pundak kaum muda, sosok-sosok pemimpin bangsa masa depan, para intelektual yang mampu memberikan arah keislaman yang lebih humanis, inklusif dan berkeadaban.

Buya mengusulkan bagaimana Islam dipahami dalam kerangka etik-moral, Islam menjadi sistem etika sosial yang membimbing umat manusia untuk bisa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Keadilan, inklusivitas, kebebasan, dan kemandirian menjadi sejumlah poin penting yang harus diimplementasikan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia dalam kerangka berislam dan bernegara.

Karenanya, Buya selalu mementingkan substansi yang memproduksi solusi terhadap permasalahan kebangsaan dan kemanusiaan, bukan formalisme yang membungkus citra merek luar yang isi sebenarnya penuh dengan borok politik dan ke”tuna”an moral.

Dari sinilah, sebenarnya Buya ingin menegaskan bahwa menjadi seorang Muslim taat tidaklah mesti disimbolkan secara atributif dan sejumlah ritualisme formal. Bagi Buya, hal yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam yang sejalur dengan nilai-nilai kemanusiaan itu terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks politik, ekonomi maupun interaksi sosial.

Inilah sikap intelektual dan spiritualitas Buya yang tercermin dalam gagasan keislaman dan keindonesiaan, sosok yang tidak pernah menampakkan sedikitpun pesimisme, apalagi apatisme.

Saat ini, Buya tak lagi muda, tak lagi perkasa dalam fisik. Buya butuh tangan-tangan muda dan pikiran-pikiran segar yang siap meneruskan perjuangannya. Di usia yang telah senja, sebenarnya Buya masih ingin terus bergiat aktif untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem kebangsaan, karena memang segudang permasalahan belum terselesaikan, tapi nyatanya tubuh tak selalu sejalan dan mampu mewadahi gerak pemikiran.

Oleh karena itu, dibutuhkan Syafii Syafii baru yang mampu mentransformasikan serta mengembangkan pemikiran-pemikiran Buya untuk konteks kebangsaan dan keislaman di masa mendatang.

Kaum muda harus sudah terbiasa dengan perdebatan intelektual, keterbukaan pemikiran dan diskursus akademik yang panjang. Kaum muda sebagai sosok yang masih memiliki energi berlimpah seharusnya tidak berpikiran sempit, oposisi biner, hitam putih dan kerangka benar-salah.

Kaum muda harus mampu menerjemahkan berbagai kerangka pemikiran dan mentransformasikan pemikirannya untuk membela kemanusiaan. Profil kaum muda inilah yang saya kira sebagai potret yang diinginkan oleh Buya untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia ke depan.

Saya juga ingin mengatakan bahwa, kita memang tidak harus menjiplak Buya seratus persen, namun setidaknya nilai dan pesan kemanusiaan yang senantiasa diperjuangkan oleh Buya, dapat terinternalisasi ke dalam setiap pribadi kaum muda Indonesia.

Hari ini publik telah menilai sosok Buya Syafii sebagai intelektual organik yang senantiasa mengkampanyekan perlunya menumbuhkan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan dalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Buya Syafii adalah sosok dengan model pemikiran yang inklusif dan meneduhkan, gagasan pluralismenya telah memberikan ruang dialogis bagi keragaman di Indonesia untuk tumbuh dan berkembang secara adil dan sejahtera. Apa yang menjadi konsentrasi pemikiran Buya hari ini sangat-sangat relevan untuk konteks kaum milenial.

Buya Syafii adalah sosok yang dicintai oleh masyarakat, tidak hanya di kalangan orang tua namun juga anak muda. Karya-karyanya senantiasa dirujuk dan dijadikan referensi berbagai penelitian dan aneka penyelesaian problem kemanusiaan. Kita akan senantiasa berharap bahwa Buya dapat selamanya menjadi ayah bagi kaum muda Indonesia.

Akhirnya, Buya Syafii adalah sosok yang meneduhkan, orang tua yang kritis, dan guru bangsa yang bijaksana.

Panjang umur Buya, sehat selalu.

MK Ridwan
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.