in ,

Saya dan Bang Tito


13413589_635244493289428_7560218308914289380_nAkhir September 2006, saya baru tiba di Poso, Sulawesi Tengah. Suasananya masih tegang. Ketika itu, Tibo bersama dua orang rekannya baru saja dieksekusi hukuman mati. Mereka divonis terkait kerusuhan dan konflik di Poso. Kondisi kian mencekam pasca eksekusi, disusul kematian dua orang nelayan asal Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Saat itu saya masih berprofesi sebagai jurnalis di sebuah televisi swasta dan mendapat penugasan meliput konflik horisontal di Poso. Ketika saya datang, situasi Poso masih sangat mencekam. Tidak hanya warga, aparat pemerintah yang bertugas pun berada dalam suasana tegang dan waspada.

Suasana mencekam makin terasa karena eksekusi menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Kemudian ada insiden pembunuhan atas dua nelayan Masamba, yang dikaitkan dengan peristiwa itu. Di situlah awalnya saya bertemu Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian dan menyaksikan secara langsung sepak terjangnya. Sejak itulah saya akrab menyapanya dengan sapaan Bang Tito.


Konflik Poso sangatlah rumit dan perlu penanganan yang cermat. Tidak hanya merampas keamanan warga, para pelaku teror telah merusak tatanan kehidupan dan perekonomian warga. Pelaku pembunuhan terhadap dua nelayan Masamba tersebut ternyata belasan pemuda yang berasal dari sebuah desa. Bang Tito memimpin langsung penangkapan terhadap para pelaku.

Saat itu sudah lewat tengah malam, kondisi gelap gulita hanya diterangi cahaya bulan. Penangkapan harus dilakukan dengan cepat. Salah sedikit, bisa-bisa aparat yang menjadi korban. Dalam hitungan menit, operasi selesai dilakukan.

Baca Juga :   Bhinneka Tunggal Drama

Syukurlah, semuanya berjalan lancar. Tapi tugasnya tidak selesai di situ, Bang Tito juga memediasi warga agar peristiwa tersebut tidak meluas dan malah memicu konflik baru.

Kini, Bang Tito diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kepala Polri (Kapolri). Saya sepenuh hati mendukung usulan Presiden mengajukan Bang Tito sebagai calon tunggal Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa pilihan politik Presiden Jokowi semakin mandiri di tengah tekanan partai politik.

Terlihat sekali Pak Jokowi semakin bebas dari tekanan politik. Ini juga momentum baik bagi pemerintah untuk meneruskan reformasi di tubuh kepolisian yang berjalan lambat akhir-akhir ini.

Bang Tito adalah pilihan terbaik pada saat ini. Sosok yang mumpuni, memiliki kapasitas, berprestasi, muda, dan tangguh. Sangat layak menjadi Kapolri. Dia juga merupakan sosok pemimpin muda yang baik di negeri ini.

Karena prestasi dan integritasnya, dia mampu menyalip jenderal bintang tiga lain. Padahal usianya baru 51 tahun, beberapa tahun lebih muda dibandingkan jenderal bintang tiga lainnya dalam bursa calon Kapolri.

Dalam perjalanan karirnya, sepak terjang Bang Tito sungguh luar biasa. Dia berhasil menangkap teroris Azahari Husin, menangkap puluhan DPO konflik Poso, pernah menjadi Kapolda Metro Jaya, dan sekarang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Bang Tito juga merupakan lulusan terbaik di Akademi Kepolisian dan banyak memperoleh penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Saya yakin, suara solidaritas publik sangat positif dan mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi ini.

Baca Juga :   Kampanye Hitam dalam Pilkada Jakarta

Selamat Bang Tito, jika kelak menjadi Kapolri, saya mendukung dan berharap Bang Tito serius memberantas korupsi, intoleransi, dan kekerasan terhadap perempuan di negeri ini.


Written by Grace Natalie

Grace Natalie

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR