OUR NETWORK

Saya dan Bahtiar Effendy

Ia cuma menangis ketika dijenguk dan dipeluk Buya Syafii. Saya hanya bisa menyeka air mata setelah bersalaman dengannya.

Saya sudah lama mengenal nama Bahtiar Effendy. Tepatnya sejak SMA kelas 1 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam, Garut. Awalnya, terprovokasi oleh alumni yang sedang kuliah di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta yang kerap datang ke pesantren dengan membawa buku dan ide-ide aneh yang dikemas oleh diksi-diksi aneh pula. Mereka kelihatan keren. Semakin tidak paham apa yang mereka sampaikan, maka mereka terlihat semakin keren pula di mata kami ketika itu.

Saya ingin jadi keren pula. Entah bagaimana mulanya, saya dan beberapa kawan menginisiasi mendirikan “perpustakaan.” Perpustakaan itu kami kasih nama “Neo Cordova,” dengan sebuah imajinasi perpustakaan ini akan menjadi cikal bakal pusat keilmuan Islam baru setelah Cordova tumbang oleh Christian Reconquista pada tahun 1236. Sebuah utopia memabukkan bagi santri belia seperti saya.

Modalnya bekas lemari abang saya yang sudah duluan hijrah ke Ciputat. Supaya kelihatan formal saya buatkan stempel persegi panjang. Bacaannya jelas “Neo Cordova” dengan gambar buku terbuka di sebelahnya.

Singkat cerita eks lemari abang saya mulai penuh terisi buku sumbangan dan juga hasil beli patungan. Di rak paling atas, bila tidak sedang dipinjam, tersusun dengan rapi buku-buku terbitan Mizan seperti Islam Aktual dan Islam Alternatif (Kang Jalal), Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta (Pak Amien), Membumikan Islam (Buya Syafii), Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan (Cak Nur), Secangkir Kopi Jon Pakir dan Markisot Bertutur (Cak Nun), Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Kuntowijoyo) dan tentu saja Merambah Jalan Baru Islam (Fachry Ali dan Bahtiar Effendy).

Saya tidak yakin saat itu kami memahami buku-buku itu. Tapi sekuat tenaga dan segala upaya, supaya kelihatan keren, buku-buku itu sering kami kutip di kuliah tujuh menit (kultum) yang kami sampaikan secara bergiliran ba’da salat zuhur dan maghrib di masjid.

Seorang kawan yang sekarang menjadi dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung suatu saat ditegur oleh Kyai kami setelah kawan itu dengan semangat 45 mengutip Cak Nur. Kira-kira kawan itu bilang begini:

“Santri harus fokus kepada substansi Islam bukan Islam yang artifisial. Isi lebih penting daripada cangkang. Oleh karena itu perlu perlu perubahan paradigma Islam dengan cara mengkontekstualisasikan dan mereinterpretasi doktrin dan dogma keislaman lama”.

Bayangkan kerennya kawan itu mengucapkan kata “substansi, “artifisial”, “paradigma”, kontekstualisasi dan “interpretasi, “doktrin” dan “dogma” dari mimbar masjid yang tidak banyak dipahami jamaah termasuk, mungkin, yang sedang kultum. Silakan Anda tertawa!

Kuliah di IAIN (sekarang UIN), Ciputat, mengizinkan saya mengenal para pengarang buku di atas, termasuk Bahtiar Effendy. Fachry Ali yang pertama saya kenal. Ceritanya, beberapa saat setelah masuk kuliah saya mengikuti Latihan Kepemimpinan (LK 1) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di daftar acara ada nama Fachry Ali sebagai pemateri. Saya lupa apa temanya. Hati saya berdebar-debar sore itu karena akan bertemu salah seorang intelektual ternama.

Fachry bicara sangat menarik dengan retorika yang “mendakik-dakik”. Di penghujung acara saya sodorkan buku Merambah Baru Islam yang saya beli sekitar tiga tahun sebelumnya untuk ditandatangani Fachry. Senang sekali ketemu orang yang saya kenal hanya namanya saja dari lama. Namun, saya tetap penasaran belum pernah bertatap muka dengan tandem Fachry dalam menulis buku itu, Bahtiar Effendy.

Entah kenapa, Bang Bahtiar, begitu saya menyapanya, sulit digapai oleh mahasiswa baru seperti saya. Ia tidak pernah kelihatan di kampus. Kata sebagian orang, ia sibuk mengajar di Pascasarjana yang kampusnya berbeda dengan kampus mahasiswa S1.

Saya lupa entah semester berapa di kampus, akhirnya saya dapat kenalan secara personal dengan Bang Bahtiar. Bahkan yang mengenalkannya kepada saya adalah orang yang tidak kalah keren, Din Syamsuddin. Kak Din, begitu saya memanggilnya, waktu itu Dirjen di sebuah kementerian. Mobil sedan warna hitamnya kinclong, paling bagus di antara deretan parkir mobil para dosen yang rasanya memang tidak banyak yang punya mobil.

Suatu hari saya diajak makan siang oleh Kak Din di restoran Padang Bundo di seberang gerbang kampus. Kami janjian untuk ngobrol soal Muhammadiyah. Di luar kampus “karir” saya sebagai aktivis terus berkembang. Kak Din adalah salah seorang senior aktivis muda Muhammadiyah di Jakarta yang sangat peduli pada para junior. Tidak disangka di restoran Padang itu akhirnya saya bisa kenal langsung dengan Bang Bahtiar.

Mereka berdua makan dengan sangat lahap. Entah berapa lauk yang mereka habiskan dengan porsi nasi yang tidak terlalu banyak. Aneh bagi saya yang paling keren makan pecel lele Lamongan di depan Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ). Saya sempat berfikir, mungkin begini standar makan para doktor dari Amerika.

Sambil makan, mereka berdua berdiskusi tentang berbagai macam masalah dari urusan politik tanah air sampai ke politik kampus. Saya banyak mendengar. Saya mendadak menjadi pendiam. Tepatnya rada minder. Sementara Bang Bahtiar juga dingin saja kepada saya. Di matanya, saya menduga, saya adalah mahasiswa biasa saja yang kebetulan duduk di satu meja makan.

Dugaan saya ternyata tidak sepenuhnya benar. Di pertemuan kami kedua, dia ingat saya. Lumayan. Dia ingat wajah, tapi dia lupa nama saya.

“Siapa nama kamu? Kamu yang waktu itu makan siang dengan saya dan Din, ya?”

Kira-kira begitu Bang Bahtiar bertanya kepada saya dengan wajah lumayan ramah. Selanjutnya kami ngobrol, diskusi ngalor-ngidul. Saya mulai berani bertanya bahkan menyanggah pernyataannya. Kadang mukanya menegang. Merah padam, seperti sedang marah saking seriusnya menyampaikan satu gagasan.

Di saat lain dia cengengesan menertawakan dunia di sekitarnya. Kesan Bahtiar yang sombong dan “untouchable” mulai sirna dari benak saya. Bahkan saya semakin kagum dengan cara berfikirnya yang teoretik tapi juga relevan dan empirik.

Selanjutnya kami mulai “berteman” sebagai seorang senior dan junior. Kami semakin kerap bertemu di acara Muhammadiyah, MAARIF Institute, dan CDCC. Beberapa kali kami kunjungan ke luar negeri bersama pada acara World Conference on Religion for Peace (WCRP), ASEAN People’s Assembly, dan Bilateral Interfaith Dialogue yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri.

Sekitar tahun 2007/2008 Bang Bahtiar sakit serius. Saya menemani Buya Syafii membesuknya di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka putih. Saya terkejut tidak karuan. Badan Bang Bahtiar yang gempal menjadi sangat kurus kering. Lebih kurus dari badan saya yang memang terlalu langsing. Suaranya hilang. Badannya relatif lebih hitam dugaan saya karena kemo yang sedang ia jalani. Ia cuma menangis ketika dipeluk Buya Syafii. Saya hanya bisa menyeka air mata setelah bersalaman dengannya.

Setelah pulang studi dari Australia tahun 2014 saya langsung “nyemplung” di partai politik, bersama beberapa kawan mendirikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Interaksi saya dengan Muhammadiyah menjadi berkurang, begitu pula interaksi personal saya dengan Bang Bahtiar. Beberapa kali masih sempat WA-an dan telephone, jarang sekali bertemu. Sesuatu yang sangat saya sesali. Sangat saya sesali.

Terakhir saya bertemu Bang Bahtiar secara tidak sengaja di Bandara Juanda, Surabaya. Saya usai kampanye di Jember, Sidoarjo dan Madura. Pagi harinya menemani Pak Jokowi dan Mas Pramono Anung mengadakan pertemuan terbatas dengan TKD Jawa Timur. Bang Bahtiar bilang ia baru selesai mengajar dan menengok cucunya. Saya tahu ia sangat sayang pada cucunya, sesuai yang ia sering perlihatkan di wall facebooknya.

Ketika itu kami tidak bicara politik. Saya menahan diri. Saya tahu Bang Bahtiar mendukung Pak Prabowo sebagai calon presiden, sedangkan saya sedang getol-getolnya mengampanyekan Pak Jokowi. Pertemuan singkat yang jarang tentu tidak elok bila harus meruncing karena perbedaan pilihan politik. Bang Bahtiar sama sekali juga tidak bertanya soal PSI dan TKN Jokowi. Mungkin dia juga menahan diri. Akhirnya kami ngobrol yang ringan-ringan saja sambil menunggu boarding.

Saya sulit menahan air mata tatkala Pak Komaruddin Hidayat sempat mengusap air mata ketika memberikan pengantar duka setelah jenazah disalatkan. Sebagai sahabat dekat, Pak Komaruddin Hidayat–yang berkawan sejak di pesantren sampai akhir hayat, tentu menyimpan kenang dan sedih yang dalam.

Almarhum Bang Bahtiar cendekiawan paripurna dan pemikir politik, terutama politik Islam yang kini mungkin tak ada duanya di negeri ini.

Lebih jauh saya meletakkan Bang Bahtiar sebagai mata rantai tidak terpisahkan dari proses pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia modern. Perlu studi yang lebih serius tentang hal ini.

Secara sederhana saya ingin katakan bahwa Bang Bahtiar bersama cendekiawan muslim segenerasinya seperti Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Amin Abdullah, Saiful Mujani, Masdar F Masudi, dan lain-lain adalah generasi kedua dan penerus proses pembaharuan pemikiran Islam generasi pertama yang dilakukan oleh Mukti Ali, Harun Nasution, Munawair Sjadzali, Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Ahmad Syafii Maarif dan cendekiawan Muslim lainnya.

Kehadiran para santri dalam lanskap politik Indonesia bukan taken for granted. Mereka berproses secara dinamis untuk menemukan pijakan akademik yang mendorong kompatibilitas Islam dan pembangunan demokrasi. Lalu “inkubasi” semacam apa yang sekarang tersedia untuk melahirkan generasi baru para pembaharu pemikiran Islam di Indonesia dalam konteks politik elektoral saat ini?

Islam menekankan pentingnya amal jariyah. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Saya yakin Bang Bahtiar telah maksimal dalam berinvestasi jariyah di bidang keilmuan ini. Artikel dan bukunya yang mencerahkan banyak sekali dibaca dan dikutip. Mahasiswanya yang tercerahkan karena kuliah dan ceramahnya tersebar dari Sabang sampai Merauke bahkan di berbagai belahan dunia.

Pada titik ini saya cemburu berat pada Bang Bahtiar. Saya “berhenti” menjadi akademisi sesaat setelah saya selesai meraih doktor. Saya berijtihad untuk berinvestasi jariyah melalui partai politik. Tekad saya sederhana saja. Manusia yang terbaik adalah manusia yang secara maksimal memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Saya meyakini, hidup saya jauh akan lebih bermanfaat bila saya berhasil membuat sebuah partai politik modern yang akan memproduksi kebijakan publik yang membawa manfaat dan maslahat bagi sebanyak mungkin rakyat.

2019 amal jariyah saya tertunda. PSI belum berhasil masuk DPR RI. Ketika menyaksikan jenazah Bang Bahtiar dimasukan ke liang lahat seketika saya berharap agar umur saya diperpanjang sampai 2024 nanti. Saya ikhlas pergi ketika bibit PSI yang saya semai bersama kawan-kawan tumbuh di DPR 2024 nanti. Paling tidak saya punya jariyah yang kalaupun kalah, hanya kalah sedikit dari jariyah Bang Bahtiar.

Kematian pada akhirnya semacam undian belaka. Hari ini giliran Bang Bahtiar. Esok lusa entah giliran siapa di antara kita. Selamat jalan, Bang. Tunggu saya di sana. Mudah-mudahan ada restoran Padang di sana. Kita makan siang lagi seperti pertama kali kita bersua. Tentu kita ajak juga Kak Din. Kalau dia mau dan bersedia.

Dan, mata saya kembali berkaca-kaca. Lahu Alfatihah.

Bintaro, 27 November 2019. Pukul 03.15

Bacaan tentang Bahtiar

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Islam dalam Teks dan Konteks: Obituari Bahtiar Effendy*

Guru yang Inspiratif dan Humoris, Mengenang Pak Bahtiar Effendy

Menghayati Bahasa, Jalan Baru Bahtiar Effendy

Profesor Bahtiar adalah Api dalam Sekam

Raja Juli Antoni
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…