Kamis, Januari 21, 2021

Saatnya Bilang Good Bye ke “Tiger Mom”?

Nama Kontes Ketampanan itu Pilkada Jakarta

Sepertinya tim sukses Bung Sandiaga Uno membaca Geotimes dan mendengarkan saran saya kalau Jakarta butuh pemimpin ganteng, seksi, dan mampu ereksi(1). Buktinya, Bung Sandi...

Tragedi 11 September Setelah 15 Tahun

Tak ada peristiwa yang memilukan dalam sejarah modern Amerika Serikat daripada serangan teroris yang menghancurkan menara kembar Pentagon dan World Trade Center (WTC) pada...

Ketika Kaum Puritan Memperoleh Panggung

Khaled Abou Fadl melalui karyanya The Great Theft; Wrestling Islam from the Extremist ("Selamatkan Islam dari Muslim Puritan” ) hendak menyampaikan peringatan keras kepada...

Kekerasan Seksual Berada di Zona Merah, Haruskah RUU PKS Terus Ditarik Ulur?

Uang yang kita miliki adalah berkah dari Tuhan. Namun, jika uang yang kita peroleh dengan cara korupsi (merugikan rakyat dan negara), tentunya masuk dalam...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

tiger-mom
Foto: home.bt.com

Nasib generasi X tidak terlalu indah agaknya. Seolah menjalani masa transisi tiada habisnya. Saat masih kanak-kanak, mereka mengalami didikan keras dari orangtua yang berasal dari Generasi Baby Boomers. Hardikan, pukulan, dan cubitan dianggap sebagai ekspresi sayang sekaligus disiplin dari orangtua dan guru.

Siapa generasi X yang tak mengalami atau setidaknya melihat teman seumurannya dihukum dengan kekerasan? Tak heran saat ada berita seorang guru dipolisikan akibat mencubit siswanya, netizen generasi X banyak yang mencerca. “Ah, saya dulu dipukul guru pakai penggaris kayu. Kalau mengadu ke orangtua, justru makin dimarahi,” komentar seorang dari mereka. “Cuma dicubit aja lapor polisi, kelewatan. Aku waktu SD pernah digampar,” komentar lainnya.

Dapat dikatakan, generasi X ada di posisi “serba salah”. Walau di masa kecil mengalami didikan keras dari orangtua dan guru, mereka kini tak bisa lagi menerapkan ke anak-anaknya. Zaman sudah berubah, konsep Tiger Mom yang menerapkan sistem keras dan disiplin ketat dianggap tak sesuai lagi oleh sebagian pendidik.

Pola didikan superdisiplin disertai kekerasan terbukti  tidak berjalan efektif pada suatu eksperimen yang dilakukan UC Riverside Graduate School of Education. Riset yang dilakukan 2014 ini membantah konsep Tiger Mom yang dikemukakan Amy Chua melalui bukunya, Battle Hymn of the Tiger Mother. Di buku itu Amy meyakinkan bahwa pola didik keras yang banyak diterapkan di keluarga Cina adalah yang terbaik. Namun teori ini gugur seiring dengan kemajuan zaman. Makin ke sini, pola didik disertai kekerasan tak lagi disukai.

Mengutip pendapat psikolog Kassandra Putranto, pola asuh Tiger Mom tak bisa diterapkan ke semua anak. Ada anak yang memang membutuhkan sikap tegas dari orangtua, tapi ada pula yang tidak. Dalam banyak kasus, konsep keras Tiger Mom justru lebih banyak memberi efek negatif. Kassandra lebih merekomendasikan pola asuh demokratis agar anak mendapat kebebasan selama masih bersifat baik.

Masalahnya, tidak semudah itu menanggalkan efek dari didikan keras yang dialami generasi X di masa lalu. Sebagian generasi X yang mengalami didikan keras ada yang bersikap protektif terhadap anak-anaknya. Mereka tak mau kekerasan yang dialaminya dulu juga dialami si anak. “Saya dulu langganan dicubiti sampai ungu sama ibu kalau nakal, tapi saya tidak mau anak saya mengalami itu. Traumanya luar biasa,” ungkap perwakilan dari mereka.

Mereka seringkali menjadi terlalu protektif pada anaknya. Sedikit saja anaknya dicolek, mereka kebakaran jenggot. Kasus paling gres, di Makasar seorang guru dipukuli sampai berdarah-darah oleh orangtua siswa. Alasannya? Si guru dianggap menegur sang siswa terlalu keras.

Komedian Ernest Prakasa pernah berkicau di akun Twitter terkait kasus kekerasan guru pada anak beberapa waktu lalu. “Gw gak akan pernah nampar / nyubit anak gw. Jd kalo ada guru berani sentuh anak gw, gw seret ke polisi. Gak ada urusan,” begitu tweetnya yang sempat memancing pro-kontra.

Ernest dapat dikatakan bagian dari pengujung generasi X, mengingat dia kelahiran 1982. Nyaris masuk ke golongan generai Y alias milenial, Ernest merupakan generasi transisi X dan Y. Barangkali dia tak mengalami lagi didikan sekeras generasi X yang di atasnya, sehingga muncul sikap protektif pada anaknya. Tidak terlalu mengherankan, sebab ini juga dialami orangtua-orangtua lain yang menganggap konsep Tiger Mom sudah saatnya ditanggalkan.

Sementara di sisi lain, ada generasi X yang masih setuju dengan pola didik keras ala Tiger Mom. Bahkan menganggap itulah yang terbaik, sebab sudah terbukti di keluarganya. Ada pula kalangan yang ingin melepaskan pola didik keras, tapi dirinya sendiri sulit untuk tidak mengerasi anaknya. Alhasil, terjadi kebingungan dalam diri anak, pola asuh apa sesungguhnya yang diterapkan orangtuanya?

Hal serupa terjadi di kalangan pendidik, dalam hal ini guru. Para guru yang berasal dari generasi X pun mengalami semua yang dialami orangtua siswa. Ada di persimpangan jalan antara anggapan bahwa pola didik keras adalah yang terbaik, atau justru terburuk.

Betul, zaman sudah berubah. Sedikit saja kekerasan pada anak atau siswa terjadi, hukum bisa langsung bertindak. Bahkan sebagian anak-anak sudah paham bagaimana mereka harus melapor ke Komisi Nasional Anak jika menjadi korban kekerasan orangtuanya. Sayangnya ini kadang terjadi kebablasan. Orangtua sendiri sering terbakar emosi ketika mendapat aduan anaknya dihardik atau dipukul guru. Langsung melapor polisi atau main hakim sendiri. Seolah tak ada solusi lain yang lebih baik.

Apakah ini berarti sudah saatnya kita mengucapkan good bye pada pola asuh Tiger Mom? Pola asuh penuh disiplin, keras, yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman?

Dan jangan lupakan juga masih banyak anak-anak yang jadi korban kekerasan orangtua dan guru, termasuk kekerasan seksual. Yang ini tentu bukan akibat dari pola asuh, melainkan penyimpangan yang tak bisa ditoleransi.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.