Selasa, Maret 2, 2021

Rokok dan Survival of The Fittest

Olimpiade, Media, dan Komersialisasi Olahraga

Media massa dan olahraga adalah dua institusi sosial yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Event olahraga paling bergengsi seperti Olimpiade 2016 yang saat ini tengah...

Merusak Rumah Ibadah Itu Ajaran Syaiton

Catatan kali ini ingin menyoroti persoalan rumah ibadah yang sudah menaun, kurang mendapat penanganan dari pihak pemerintah. Catatan ini dipicu oleh pengrusakan sebuah masjid...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Ketika Kaum Puritan Memperoleh Panggung

Khaled Abou Fadl melalui karyanya The Great Theft; Wrestling Islam from the Extremist ("Selamatkan Islam dari Muslim Puritan” ) hendak menyampaikan peringatan keras kepada...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

Sejumlah warga petani tembakau yang tergabung dalam APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) melakukan aksi damai dengan membawa tanaman tembakau dan poster di komplek DPRD kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/ Anis Efizudin

“Mau harga rokok naik, saya tetap akan merokok,” begitu kicau seorang netizen mewakili kalangan perokok terkait isu kenaikan harga rokok.

“Rokok memang harus mahal, agar jumlah perokok berkurang,” kicau netizen lain. Walau masih isu, kenaikan harga rokok sudah membuat banyak pihak angkat bicara. Ya, sejak pekan silam, muncul desas-desus bahwa harga rokok akan naik menjadi Rp 50 ribu per bungkus.

Semua berawal dari penelitian Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Disebut-sebut, jika harga rokok dan cukai naik, bisa jadi sumber dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosia (BPJS). Netizen Indonesia langsung menyambar dengan aneka argumen dan kritik. Apa benar jika harga rokok didongkrak, jumlah perokok berkurang?

Harga rokok di Indonesia saat ini tergolong terjangkau, bahkan bisa dibeli “ketengan”. Tak heran rakyat berpenghasilan rendah sekalipun dapat terus menikmati racikan tembakau dan nikotin itu tanpa memikirkan kocek.

Berdasar situs Numbeo.com, Indonesia di urutan ke-113 daftar negara penjual rokok berdasar harga jual. Numbeo mengambil Marlboro sebagai sampel perbandingan. Di urutan pertama ada Australia, dengan harga sebungkus Marlboro Rp 251 ribu. Sedang di Indonesia, Marlboro dihargai Rp 19 ribu. Rokok Marlboro dijual paling murah di Nigeria, yaitu Rp 8.000.

Petani menjemur tembakau yang baru dirajang di Desa Bulai, Galis, Pamekasan, Jatim, Senin (22/8). Data Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pamekasan, menyebutkan kerusakan tenaman tembakau akibat tidak menentunya cuaca di daerah itu, mencapai 70 persen dari lahan seluas 32.205 hektar. ANTARA FOTO/Saiful Bahri/pd/16
Petani menjemur tembakau yang baru dirajang di Desa Bulai, Galis, Pamekasan, Jawa Timur. ANTARA FOTO/ Saiful Bahri

Lima peringkat teratas ditempati Australia, Selandia Baru, Norwegia, Bermuda, dan Inggris, yang didominasi negara maju. Sedang lima pertingkat terbawah ada Nigeria, Kazakhstan, Ukraina, Moldova, Vietnam, yang notabene bukan negara maju. Dari sini terlihat, harga rokok sangat disesuaikan dengan daya beli rakyat suatu negara.

Rokok di Indonesia sudah menjadi semacam budaya. “Menyuruh orang berhenti merokok hampir sama dengan menyuruh orang pindah agama,” kicau Dr. Dirga Sakti Rambe di akun Twitter-nya, @dirgarambe. Perdebatan antara para perokok fanatik dengan kalangan anti rokok selalu dikaitkan dengan isu ekonomi, kesehatan, hingga nasionalisme. Tidak akan pernah ada habisnya.

Belum lagi perseteruan antara industri rokok kretek dan rokok filter yang kerap membawa-bawa kepentingan asing dan non-asing. Nasib petani tembakau, buruh pabrik rokok, sampai kesehatan rakyat, paling santer disuarakan kalau sudah menyangkut isu rokok.

Kenikmatan yang didapat seorang perokok dari setiap hisapan mungkin sudah sedemikian mencandu, sehingga tak peduli lagi dengan argumen sekitar. Gambar-gambar horor di setiap kemasan bungkus rokok pun tak berpengaruh apa pun. Rokok bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sudah menjadi gaya hidup. Di mata aktivis anti-rokok, paragraf ini sudah pasti sangat dicibir. Namun itulah faktanya. Para perokok fanatik sulit didebat dengan teori apa pun itu.

Sulitnya menghapus budaya merokok kemungkinan sama sulitnya dengan meniadakan budaya minum-minum. Baik itu minuman tradisional agak memabukkan sampai minuman beralkohol modern sangat memabukkan alias miras. Rokok dan minum-minum menjadi budaya yang sudah mengental di banyak lini masyarakat di seantero dunia, tanpa peduli status sosial dan ekonomi.

Di Amerika Serikat, kecanduan pada rokok sering dihubungkan dengan kecanduan pada alkohol. Dua hal itu pula yang dikatakan memicu kematian tertinggi. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism’s (NIAAA’S) mengatakan, ketergantungan pada rokok berkorelasi dengan ketergantungan pada alkohol. Mereka pun merilis data berdasar studi 2002, sekitar 46 juta orang dewasa Amerika mengonsumsi rokok dan alkohol sekaligus di tahun itu.

Pastinya akan banyak perokok yang murka jika dikatakan bahwa mereka juga pecandu alkohol. Tentu studi di Amerika tadi tak bisa disamakan dengan di Indonesia. Berbeda dengan rokok, peredaran miras sudah lebih dulu “ditertibkan” ketimbang rokok. Miras sudah tak bisa dijual di sembarang tempat, berbeda dengan rokok yang dapat dijumpa di warung-warung mana saja.

Kemungkinan pemerintah juga harus memutar otak panjang kalau ingin membuat aturan peredaran rokok. Sejauh ini yang dapat dilakukan hanya membatasi area bebas merokok, yang masih kerap dilanggar.

Rokok dan miras sama-sama menjadi penghasil devisa besar bagi Indonesia. Ada sumbangan sebesar Rp 139,5 triliun dari industri rokok ke negara pada 2015, demikian menurut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Tidak ditemukan berapa pastinya sumbangan cukai miras pada negara. Yang jelas, dengan pembatasan peredaran miras, disebut-sebut negara kehilangan pendapatan Rp 6 triliun. Tahun ini ada rencana untuk menaikkan cukai miras demi menggenjot pemasukan negara.

Rokok maupun miras sama-sama dua obyek yang mencandui penikmatnya. Sekaligus juga sama-sama menguntungkan negara dari sisi ekonomi. Apakah penikmatnya peduli dengan kesehatan, itu lain perkara. Ada bagusnya kita melihat rokok dan miras sebagai bagian dari seleksi alam bagi manusia Indonesia.

Survival of the fittest, konsep yang digulirkan Herbert Spencer ini memang tengah berlangsung sekarang. Mereka yang mampu bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Apakah para perokok mampu menjadi golongan “fittest”? Atau justru para anti-rokok? Seleksinya kini tengah berlangsung. Dan akan terbukti kelak. Mari kita tunggu.

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.