Jumat, Februari 26, 2021

Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Corona, Mobilitas Global, dan Insentif Pariwisata

Juli tahun 2019 lalu, pada International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, antropolog Anna Tsing bercerita soal nyamuk Aedes...

Donald Trump dan Demagog Demokrasi

Pilihan Presiden Amerika Serikat telah usai. Tinggal penghitungan suara untuk pemilih yang menyoblos melalui surat sebelum 3 November 2020. Mungkin butuh satu atau dua hari...

LGBT Tidak Pernah Memilih

Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Bandung Raya melakukan unjuk rasa tolak LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di depan Mal...

Saatnya Jokowi Menjadi Abdi Rakyat!

Semua paham Presiden Joko Widodo gamang menentukan sikap terkait revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Di satu sisi, sebagai kader partai, ia dituntut mengikuti suara...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Pernyataan Rocky Gerung di Indonesia Lawyers Club (ILC) beberapa waktu lalu mengenai kitab suci dan fiksi, yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan, mengingatkan kita pada ungkapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan”. Meski ungkapan ini adalah ajakan yang bagus untuk melihat isi atau substansi pembicaraan dibanding tokoh yang berbicara, belajar dari kasus Rocky, ungkapan tersebut tidak sepenuhnya terlaksana.

Kenyataannya sejak dulu kala, tokoh yang berbicara menjadi sangat penting untuk menentukan persepsi orang terkait apa yang dibicarakan. Kita bisa belajar dari penggalan kisah mitologi Yunani yang diceritakan oleh Homerus dalam buku dua puisi wiracarita The Iliad mengenai hal ini.

Dalam kolom sebelumnya, Homerus menceritakan dalam buku satu The Iliad bagaimana Akhilles marah kepada Raja Agamemnon dan menolak untuk ikut dalam perang Troya. Akhilles kemudian memohon kepada ibunya, Dewi Thetis untuk berdoa kepada Dewa Zeus agar suku Akhaia diberi kekalahan dan merindukan kehadirannya dalam medan perang. Dewa Zeus kemudian mengabulkan doa tersebut dengan mengirimkan mimpi palsu kepada Agememnon. Mimpi tersebut memberi petunjuk kepada Agamemnon bahwa suku Akhaia akan memenangkan perang Troya. Gembira dengan kabar tersebut, Raja Agamemnon langsung mengumpulkan seluruh pasukannya dan menyampaikan mimpi yang ia dapatkan semalam.

Di antara pasukan besar tersebut, seorang lelaki tua bijak yang dihormati bernama Nestor, Raja Pilos, menghimbau pasukan Akhaia untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Agamemnon. “Teman-teman, raja-raja Akhaia, para pemimpinku! Jika yang menyampaikan mimpi ini adalah orang Akhaia lainnya, kita bisa menyebut itu palsu dan mengabaikannya. Tapi lihat, lelaki yang mendapatkan mimpi itu bisa mengklaim dirinya paling hebat, orang Akhaia paling berani yang kita miliki. Mari, kita persenjatai pasukan Akhaia untuk melakukan penyerangan,” ujarnya (2.94-99).

Pesan Nestor di atas jelas menunjukkan bahwa mimpi tersebut bisa dianggap sebagai kebenaran karena disampaikan oleh Raja Agamemnon, pemimpin tertinggi suku Akhaia. Tentu saja kebenaran mimpi tersebut tidak bisa diverifikasi karena hanya dialami oleh Agamemnon sendiri. Tapi sekali lagi, karena hal ini disampaikan oleh sosok yang begitu dihormati dan memiliki kredibilitas di kalangan suku Akhaia, maka benar atau tidaknya mimpi tersebut tidak dipertanyakan lagi.

Terlalu naif rasanya jika kita menyatakan ketokohan semacam ini sudah tidak relevan dalam konteks kekinian. Toh, kasus Rocky Gerung yang menyebutkan bahwa kitab suci adalah fiksi menunjukkan kepada kita bahwa ia dianggap sosok yang memiliki kredibilitas dalam ilmu filsafat sehingga ia pantas berargumen demikian di ILC. Hal itu yang kemudian tidak mendorong gelombang massa turun ke jalan dan menuntutnya karena menista agama dan kitab suci. Persoalan apa yang disampaikannya itu tepat atau mengada-ada merupakan hal lain.

Rocky sudah menang satu poin karena gelar dosennya tersebut. Tak sedikit orang yang akhirnya memanggil Rocky dengan sebutan profesor. Lain cerita dengan Ahok.

Sayangnya, Ahok tidak seberuntung Rocky Gerung soal kredibilitas. Ahok dianggap tidak memiliki kredibilitas untuk menyampaikan pendapatnya soal ayat 51 surah Al-Maidah dalam Al-quran. Ahok yang berasal dari kalangan double minority kemudian dituduh menista agama. Berbeda dari Ahok yang kemudian dituntut hukuman penjara dengan demonstrasi besar-besaran setidaknya tiga kali (1410, 411, dan 212), pada 2016, dalam kurun waktu tiga bulan, Rocky justru mendapat pembelaan dari kelompok yang sama.

Kasus Rocky Gerung dan kasus Ahok hanya dua dari banyak kasus yang menunjukkan pentingnya “siapa” dalam menyatakan pendapat. Fakta ini menyedihkan karena isi pembicaraan tidak mendapatkan perhatian selayaknya.

Memang penekanan pada tokoh tidak sepenuhnya salah. Dalam berbagai bidang keilmuan, kita menemukan banyak pakar yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Namun itu bukan berarti pendapat yang disampaikan pasti benar. Meski ia pakar sekalipun, ia tetap harus mampu mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Selain menyedihkan, fakta bahwa banyak orang yang masih mementingkan siapa yang berbicara juga berbahaya. Sebab, yang terjadi adalah serangan personal untuk meruntuhkan kredibilitas orang tersebut. Itu akhirnya dialami oleh Rocky Gerung yang diserang karena gelar akademiknya mandek pada tingkat sarjana (S1). Ahok juga mendapat serangan serupa karena latar belakang etnis dan agamanya. Haknya sebagai warga negara untuk berpendapat pun diabaikan karena serangan berbau SARA.

Ketika fokus utama hanya soal siapa, pendapat seseorang—sebagus apapun itu—akan runtuh ketika kredibilitasnya sebagai seorang tokoh pun runtuh. Karena itu, fokus utama harus beralih menjadi soal isi.

Tak peduli muda-tua, perempuan atau laki-laki, kaya-miskin, dosen atau mahasiswa, tak peduli dosa-dosa yang pernah ia perbuat, jika pendapatnya benar dan masuk akal, maka itu harus diterima. Jika tidak setuju dengan pendapat tersebut, debat dan diskusi menjadi sarana paling tepat untuk mengungkapkannya. Bukan dengan cara meremehkannya hanya karena “siapa”.

Pesan Nestor mungkin penting dalam konteks saat itu. Namun dalam penggalan kisah ini pun, kita bisa mengetahui bahwa mimpi berupa petunjuk yang didapatkan Agamemnon adalah taktik Dewa Zeus untuk mengalahkan pasukan Akhaia dalam perang Troya. Pelajaran penting yang bisa diambil adalah kepercayaan berlebihan terhadap tokoh tidak tepat untuk dilanjutkan hingga masa kini.

Di era modern seperti saat ini, diskusi dan perdebatan harus dikedepankan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan. Fanatisme ketokohan harus mulai ditanggalkan.

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.