Jumat, Desember 4, 2020

Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Nila Setitik Tak Merusak Susu Kental Manis Sebelanga

Alam kesehatan Indonesia memiliki salah satu penyihir. Penyihir itu bernama BPOM alias Badan Pengawas Obat dan Makanan. Sekali BPOM mengayunkan tongkatnya (hap!), satu-dua merek...

Video HTI, Organisasi Islam, dan Produk Intelijen

Netizen dihebohkan oleh video Gema Pembebasan yang diklaim oleh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pro-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam video itu, mahasiswa tersebut membawa retorika...

Jokowi, Asap, dan Kerusakan Lingkungan

Setiap kemarau tiba, negeri ini selalu ribut soal pembakaran lahan, bahkan negeri tetangga juga ikut riuh. Setelah api berhasil dipadamkan atau padam sendiri di...

Kolom: Jokowi, El Nino, dan Impor Beras

El Nino dengan tingkat moderat diperkirakan akan terjadi tahun ini. Ditilik dari indikator indeks El Nino, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tahun...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

Pernyataan Rocky Gerung di Indonesia Lawyers Club (ILC) beberapa waktu lalu mengenai kitab suci dan fiksi, yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan, mengingatkan kita pada ungkapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan”. Meski ungkapan ini adalah ajakan yang bagus untuk melihat isi atau substansi pembicaraan dibanding tokoh yang berbicara, belajar dari kasus Rocky, ungkapan tersebut tidak sepenuhnya terlaksana.

Kenyataannya sejak dulu kala, tokoh yang berbicara menjadi sangat penting untuk menentukan persepsi orang terkait apa yang dibicarakan. Kita bisa belajar dari penggalan kisah mitologi Yunani yang diceritakan oleh Homerus dalam buku dua puisi wiracarita The Iliad mengenai hal ini.

Dalam kolom sebelumnya, Homerus menceritakan dalam buku satu The Iliad bagaimana Akhilles marah kepada Raja Agamemnon dan menolak untuk ikut dalam perang Troya. Akhilles kemudian memohon kepada ibunya, Dewi Thetis untuk berdoa kepada Dewa Zeus agar suku Akhaia diberi kekalahan dan merindukan kehadirannya dalam medan perang. Dewa Zeus kemudian mengabulkan doa tersebut dengan mengirimkan mimpi palsu kepada Agememnon. Mimpi tersebut memberi petunjuk kepada Agamemnon bahwa suku Akhaia akan memenangkan perang Troya. Gembira dengan kabar tersebut, Raja Agamemnon langsung mengumpulkan seluruh pasukannya dan menyampaikan mimpi yang ia dapatkan semalam.

Di antara pasukan besar tersebut, seorang lelaki tua bijak yang dihormati bernama Nestor, Raja Pilos, menghimbau pasukan Akhaia untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh Agamemnon. “Teman-teman, raja-raja Akhaia, para pemimpinku! Jika yang menyampaikan mimpi ini adalah orang Akhaia lainnya, kita bisa menyebut itu palsu dan mengabaikannya. Tapi lihat, lelaki yang mendapatkan mimpi itu bisa mengklaim dirinya paling hebat, orang Akhaia paling berani yang kita miliki. Mari, kita persenjatai pasukan Akhaia untuk melakukan penyerangan,” ujarnya (2.94-99).

Pesan Nestor di atas jelas menunjukkan bahwa mimpi tersebut bisa dianggap sebagai kebenaran karena disampaikan oleh Raja Agamemnon, pemimpin tertinggi suku Akhaia. Tentu saja kebenaran mimpi tersebut tidak bisa diverifikasi karena hanya dialami oleh Agamemnon sendiri. Tapi sekali lagi, karena hal ini disampaikan oleh sosok yang begitu dihormati dan memiliki kredibilitas di kalangan suku Akhaia, maka benar atau tidaknya mimpi tersebut tidak dipertanyakan lagi.

Terlalu naif rasanya jika kita menyatakan ketokohan semacam ini sudah tidak relevan dalam konteks kekinian. Toh, kasus Rocky Gerung yang menyebutkan bahwa kitab suci adalah fiksi menunjukkan kepada kita bahwa ia dianggap sosok yang memiliki kredibilitas dalam ilmu filsafat sehingga ia pantas berargumen demikian di ILC. Hal itu yang kemudian tidak mendorong gelombang massa turun ke jalan dan menuntutnya karena menista agama dan kitab suci. Persoalan apa yang disampaikannya itu tepat atau mengada-ada merupakan hal lain.

Rocky sudah menang satu poin karena gelar dosennya tersebut. Tak sedikit orang yang akhirnya memanggil Rocky dengan sebutan profesor. Lain cerita dengan Ahok.

Sayangnya, Ahok tidak seberuntung Rocky Gerung soal kredibilitas. Ahok dianggap tidak memiliki kredibilitas untuk menyampaikan pendapatnya soal ayat 51 surah Al-Maidah dalam Al-quran. Ahok yang berasal dari kalangan double minority kemudian dituduh menista agama. Berbeda dari Ahok yang kemudian dituntut hukuman penjara dengan demonstrasi besar-besaran setidaknya tiga kali (1410, 411, dan 212), pada 2016, dalam kurun waktu tiga bulan, Rocky justru mendapat pembelaan dari kelompok yang sama.

Kasus Rocky Gerung dan kasus Ahok hanya dua dari banyak kasus yang menunjukkan pentingnya “siapa” dalam menyatakan pendapat. Fakta ini menyedihkan karena isi pembicaraan tidak mendapatkan perhatian selayaknya.

Memang penekanan pada tokoh tidak sepenuhnya salah. Dalam berbagai bidang keilmuan, kita menemukan banyak pakar yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Namun itu bukan berarti pendapat yang disampaikan pasti benar. Meski ia pakar sekalipun, ia tetap harus mampu mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Selain menyedihkan, fakta bahwa banyak orang yang masih mementingkan siapa yang berbicara juga berbahaya. Sebab, yang terjadi adalah serangan personal untuk meruntuhkan kredibilitas orang tersebut. Itu akhirnya dialami oleh Rocky Gerung yang diserang karena gelar akademiknya mandek pada tingkat sarjana (S1). Ahok juga mendapat serangan serupa karena latar belakang etnis dan agamanya. Haknya sebagai warga negara untuk berpendapat pun diabaikan karena serangan berbau SARA.

Ketika fokus utama hanya soal siapa, pendapat seseorang—sebagus apapun itu—akan runtuh ketika kredibilitasnya sebagai seorang tokoh pun runtuh. Karena itu, fokus utama harus beralih menjadi soal isi.

Tak peduli muda-tua, perempuan atau laki-laki, kaya-miskin, dosen atau mahasiswa, tak peduli dosa-dosa yang pernah ia perbuat, jika pendapatnya benar dan masuk akal, maka itu harus diterima. Jika tidak setuju dengan pendapat tersebut, debat dan diskusi menjadi sarana paling tepat untuk mengungkapkannya. Bukan dengan cara meremehkannya hanya karena “siapa”.

Pesan Nestor mungkin penting dalam konteks saat itu. Namun dalam penggalan kisah ini pun, kita bisa mengetahui bahwa mimpi berupa petunjuk yang didapatkan Agamemnon adalah taktik Dewa Zeus untuk mengalahkan pasukan Akhaia dalam perang Troya. Pelajaran penting yang bisa diambil adalah kepercayaan berlebihan terhadap tokoh tidak tepat untuk dilanjutkan hingga masa kini.

Di era modern seperti saat ini, diskusi dan perdebatan harus dikedepankan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan. Fanatisme ketokohan harus mulai ditanggalkan.

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.