OUR NETWORK

Riyanto “Melawan” Fatwa MUI

riyanto2
Seorang peziarah mengunjungi makam Riyanto mengenang 16 tahun wafatnya almarhum [dok. kompasiana.com]
Dini hari Natal kemarin, melalui akun pribadi saya: @Husen_Jafar, saya cuitkan penggalan film berjudul “?” (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang tayang 2011 lalu. Persisnya, penggalan adegan yang mengisahkan Riyanto, seorang pemuda Muslim anggota Banser yang merelakan dirinya mati dengan tubuh terserak lantaran memeluk sebuah bom yang diletakkan di dalam Gereja Eben Haezar, Mojokerto, dengan maksud untuk menghabisi jemaat gereja yang sedang merayakan Natal pada tahun 2000.

Ada beberapa catatan dari cuitan saya tersebut yang perlu dibadikan di sini sebagai inspirasi bagi toleransi di negeri ini. Tak apa meski Natal telah usai. Sebab, tahun depan dan setiap tahun, Natal akan kembali menyapa kita, dan saya berharap kita (umat Islam) tak lagi mengisinya dengan perdebatan yang bisa menodai toleransi dan kemanusiaan, seperti selalu terjadi setiap tahun.

Alih-alih menjadikannya sebagai momentum untuk meneguhkan nilai dan semangat toleransi, khususnya Islam-Kristen, kalau dari mulut seorang munafik saja kita diperintahkan untuk mengambil hikmah, lalu mengapa begitu sulit mengambil hikmah dari Natal? Kalau dari Natal yang sebenarnya bisa dimaknai sebagai kelahiran Nabi Isa saja kita tak bisa toleran, bagaimana dengan kasus-kasus dengan jurang perbedaan yang lebih menganga?

Pertama, dari begitu banyak komentar atas cuitan itu, saya ketahui ternyata masih banyak yang tak kenal Riyanto. (Jika Anda termasuk, ada baiknya Anda membaca kisah Riyanto di internet atau menonton film “?”). Padahal, bagi saya, dia simbol toleransi dan kemanusiaan, seperti Rachel Corrie, pemudi Amerika Serikat yang justru merelakan tubuhnya dibuldozer tank Israel demi melindungi rumah dan hak rakyat Palestina di Tanah Air mereka sendiri yang dirampok Israel.

Oleh karena itu, melalui kolom ini, saya ingin memperkenalkannya bagi yang belum mengenalnya, sembari mengurai inspirasi yang saya dapat dari kisah syahid-nya. Meminjam istilah Pendeta Jacky Manuputty, saya ingin “memprovokasi perdamaian” dengan—seperti yang sukses dilakukan Jacky di Maluku sejak 2007—merawat, melestarikan, dan menularkan memori toleransi. Sebagaimana kita “Melawan Lupa” untuk kasus Munir sebagai memori agar pembungkaman bagi “suara” HAM dan keadilan tak lagi terulang dalam sejarah.

Kedua, cuitan itu menjadi cuitan dengan retweet terbanyak dalam sejarah saya “berselancar” di Twitter: lebih 1000 retweet. Tweet bertema toleransi sudah tak terhitung lagi yang pernah saya cuitkankan. Namun, saya kira, yang ini mendapat respons positif begitu besar lantaran bukan lagi kata-kata, melainkan kisah nyata (ditambah dengan penyampaian melalui video). Karena itu, saya apresiasi Hanung yang telah membuat film itu.

Melampaui kata, kita butuh sikap nyata bagi tegaknya toleransi dan kemanusiaan. Sesuatu yang pada 2014 lalu disuarakan dalam The 3rd Catholic-Muslim Forum dengan tajuk “Working Together to Serve Other”: melampaui dialog, tapi kerja nyata bersama antar umat lintas agama dan iman. Maka, kita butuh “Riyanto” di setiap waktu dan tempat. Sehingga, ia harus terus “hidup” dan “melahirkan” “Riyanto” lain. Sebagaimana kita ingin pula “Munir” berlipat ganda demi HAM dan keadilan.

Ketiga, dalam komentar atas cuitan itu, ada yang sampaikan haru, ada yang—diakuinya— hingga menangis. Saya juga mengalami perasaan yang sama saat menonton. Bagi saya, itu spontan saja. Kita tak kuasa menahan air mata menontonnya. Sebab, toleransi dan kemanusiaan adalah fitrah manusia. Ia tak bisa dibabat habis, dengan kekuatan apa pun. Paling jauh, ia hanya bisa diredupkan oleh provokasi berbahan bakar sentimen agama. Dan Riyanto membuat yang redup itu kembali terang benderang, terkecuali bagi mereka yang memang jumud.

Keempat, Riyanto awalnya mencoba melempar bom itu ke tempat sampah agar tak melukai siapa saja, termasuk dirinya. Tapi, bom itu terpental, dan ia kembali mengambilnya, memeluknya hingga meledak. Artinya, Riyanto sebenarnya pecinta hidup. Bukan seorang yang bermental mati, sehingga begitu mudah diajak memilih menjadi “pengantin” bom bunuh diri lantaran (sebenarnya) takut akan hidup.

Bagi Riyanto, jalan syahid adalah jalan hidup demi kebaikan dan kesucian sampai titik darah penghabisan: sampai Tuhan menghendaki kita mati di jalan-Nya. Saat semua usaha telah dikerahkan, barulah ia merelakan dirinya demi toleransi dan kemanusiaan. Bayangkan, ia memeluknya. Yang dipeluknya secara kasat mata adalah bom, namun bagi saya sebenarnya yang dipeluknya adalah toleransi dan kemanusiaan, tanpa peduli akan dirinya jika memang begitu takdirnya. Ia mewakafkan dirinya demi hajat hidup orang banyak dan nilai-nilai suci.

Kelima, seperti Corrie, Riyanto masih muda, sangat muda. Kita masih akan menganggapnya lumrah jika ia masih menghabiskan waktunya di warung kopi, sibuk dengan media sosial, atau aktivitas khas anak muda lainnya. Tapi Riyanto, seperti juga Corrie, memilih menjadi pribadi revolusioner. Kita tak begitu heran jika itu dilakukan seorang tua yang sangat lumrah jika memilih taat beragama lantaran sadar bahwa umurnya tak lagi boleh sia-sia karena mungkin tak panjang lagi.

Adapun Riyanto masih berumur 25 tahun waktu itu. Ia bahkan, sebagaimana dalam hadis riwayat Ahmad dari Uqbah bin Amir, mengundang kagum Allah dan rasul-Nya lantaran menjadi pemuda dengan jiwa yang tak kekanak-kanakan. Karenanya, menurut Jacky, “tulang punggung” gerakan memprovokasi perdamaian adalah anak muda. Apalagi, menurut catatan data dari “Peace Generation Indonesia”, 90% dari konflik (termasuk agama) yang terjadi adalah konflik lama yang mengemuka kembali dan hanya 10% yang benar-benar konflik baru.

Itu artinya kebanyakan konflik diwariskan dari generasi ke generasi. Maka, yang perlu dilakukan adalah memotong rentetan pewarisan konflik dengan memberikan edukasi tentang perdamaian pada anak muda selaku generasi masa depan. Dan Riyanto adalah salah satu “modul” terbaik untuk itu.

Kini, setelah 16 tahun Riyanto syahid, cita-citanya masih saja menggantung. Kita bahkan masih ragu untuk mengucap selamat Natal pada saudara Kristiani. Kita masih mengira kerja bagi toleransi sebagai kerja yang mengancam iman, bukan justru mengukuhkannya. Maafkan kami, Riyanto!

Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…