in ,

Risma dan Program Pengentasan Kemiskinan

Walikota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) memberikan ucapan selamat kepada wisudawan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9). Kedatangnnya tersebut turut menghadiri acara Wisuda ke- 112 ITS Program Magister, Sarjana, Diploma dan Politeknik. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nz/15
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) memberikan ucapan selamat kepada wisudawan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9). Risma turut menghadiri acara Wisuda ke-112 ITS Program Magister, Sarjana, Diploma dan Politeknik. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nz/15

Dibandingkan pemimpin daerah yang lain, barangkali Tri Rismaharini (Risma) adalah figur wali kota yang paling banyak memperoleh penghargaan, baik nasional, regional maupun internasional. Risma bukan hanya populer di mata masyarakat dengan gaya berbicara dan tampilannya yang khas Suroboyo, tetapi dia juga dikenal sebagai wali kota yang tak segan terjun langsung ke lapangan memantau dan menangani berbagai problem Kota Surabaya.

Ketika musim hujan, masyarakat Surabaya umumnya tidak kaget menyaksikan Risma memantau banjir, turun ke got, dan ikut membersihkan sampah yang menutup saluran air. Ketika bunga dan tanaman di sekitar Taman Bungkul rusak gara-gara terinjak massa yang menghadiri sebuah event, masyarakat bukan hanya menyaksikan Risma marah-marah kepada panitia, tetapi esok pagi jam 6 kurang mereka juga bisa menyaksikan dia ikut mengatur dan menanam bunga-bunga di sepanjang jalan.

Pendek kata, sebagai pimpinan daerah, Risma adalah sosok yang tak bisa diam di balik meja hanya menerima laporan dari anak buahnya, tetapi ia juga turun langsung ke lapangan hingga tak sekali-dua kali jatuh sakit karena kelelahan.

Inilah beberapa kelebihan Risma yang jarang dimiliki pimpinan daerah lain. Pertama, berkaitan dengan gaya kepemimpinannya yang selalu menjadi motor perubahan dan aksi. Risma tak pernah hanya memerintah bawahannya untuk melakukan berbagai hal, tetapi ia sendiri selalu memberi contoh dan melakukan aksi langsung di lapangan.

Kedua, sifat Risma dan gaya kepemimpinannya yang berani melawan arus atau dominasi kekuatan pusat maupun kekuatan kepentingan lain. Hal ini diperlihatkan Risma ketika dia bersikeras menolak keputusan pemerintah pusat yang menginginkan pembangunan tol tengah.

Pemerintah Kota Surabaya pernah didesak untuk menggunakan busway sebagai transportasi umum. Tapi Risma tetap menolaknya karena busway dinilai hanya menyelesaikan masalah transportasi dalam jangka pendek. Sedangkan yang diinginkannya adalah solusi jangka panjang, yaitu trem.

Baca Juga :   Saya dan Bang Tito

Ketiga, kepedulian Risma terhadap program green and clean. Dalam operasional program pembangunan kota, yang dilakukan bukan hanya mengedepankan penataan pedestrian yang bersih, rata, dan tidak diganggu pedagang kaki lima, tetapi juga pembangunan dan penghijauan kampung-kampung dan permukiman penduduk yang melibatkan peran aktif masyarakat.

Keempat, komitmen Risma mengedepankan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan anggaran pembangunan daerah. Sejak menjadi Kepala Bina Program Kota Surabaya, Risma dikenal telah mulai mempelopori penggunaan sistem e-procurement untuk melelang pekerjaan yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan sistem lelang yang memanfaatkan internet ini, Surabaya akhirnya berhasil menarik perhatian kota-kota lain untuk belajar tentang pengelolaan anggaran pembangunan yang lebih transparan.

Dengan berbagai kelebihan dan komitmennya pada pembangunan kota, tak ada yang keliru jika Rismaharini memperoleh berbagai penghargaan. Beberapa waktu lalu Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, ini menerima penghargaan internasional berupa “Innovative City of the Future” dalam acara Socrates Award Ceremony bersama wali kota dari seluruh dunia. Penghargaan itu diberikan oleh lembaga EBA bertempat di Institute of Director, London.

Ini salah satu di antara sekian banyak penghargaan yang diterima Risma. Di bawah kepemimpinan Risma, Surabaya bukan hanya telah memperoleh penghargaan Adipura beberapa tahun berturut-turut, lebih dari itu Surabaya juga diakui nasional dan dunia internasional sebagai kota yang punya segudang prestasi.

Pada Oktober 2013, Kota Surabaya menerima penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yakni “Future Government Awards 2013”, untuk dua bidang sekaligus: data center dan inklusi digital. Surabaya menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik. Taman Bungkul yang pernah dipugar Risma meraih “The 2013 Asian Townscape Award” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai taman terbaik se-Asia pada 2013.

Baca Juga :   Ikhtiar Pendidikan Menjadi Indonesia

Yang prestisius, di tahun 2015 ini Risma masuk ke dalam daftar 50 pemimpin terbaik dunia versi majalah Fortune. Juga pada pertengahan Agustus lalu Kota Surabaya terpilih sebagai kota terbaik dalam penganugerahan Kota Cerdas Indonesia 2015. Tak hanya sebagai kota terbaik, Surabaya juga meraih dua penghargaan lain: peringkat pertama kota cerdas kategori penduduk di atas 1 juta jiwa dan kota cerdas lingkungan. Bagi masyarakat Surabaya, penghargaan ini tentu sangat membanggakan dan layak diperoleh Wali Kota Surabaya.

Namun demikian, untuk melengkapi kebanggaan masyarakat Kota Surabaya, salah satu progam penting yang belum tampak di kota ini adalah maskot program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat menengah ke bawah.

Dibandingkan program-program lain, program terobosan yang bertujuan mendongkrak taraf kesejahteraan masyarakat miskin di kota ini masih belum tampak. Dengan program green and clean, masyarakat Kota Surabaya memang bisa menikmati kota yang lebih nyaman dan asri. Tetapi, bagi masyarakat miskin kota, sesungguhnya kebutuhan utama mereka bukan sekadar kenyamanan dan keasrian kota.

Jika “takdir” dan keputusan politik nanti memang memberi kesempatan Tri Rismaharini untuk memimpin kembali Kota Surabaya lima tahun ke depan, alangkah baiknya jika penghargaan yang sudah diterima Kota Surabaya dilengkapi dengan penghargaan terkait pengentasan masyarakat miskin melalui program andalan lain dari Risma. Kita tunggu!

Written by Bagong Suyanto

Bagong Suyanto

Pengajar Mata Kuliah Urbanisasi dan Perkembangan Megaurban
Program Pascasarjana FISIP Universitas Airlangga, Surabaya. Meneliti
dan menulis buku "Masalah Sosial Anak"

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR