OUR NETWORK

Peta Kekuatan Tokoh 2024
Ridwan Kamil, Tokoh Inovasi Tiada Henti

Kang Emil adalah pemimpin populis dari Jawa Barat yang tidak diragukan lagi kinerja dan inovasinya yang nyaris tiada henti. Tidak mengherankan, jika melihat latar belakangnya sebagai arsitek perkotaan lulusan ITB dan Amerika Serikat, dan memenangkan banyak penghargaan di bidang entrepreneurship.
Walikota Bandung Ridwan Kamil menggunakan sepeda onthelnya melakukan peninjauan persiapan peringatan ke-60 Tahun Konferensi Asia Afrika 2015 di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/ Widodo S. Jusuf
Walikota Bandung Ridwan Kamil menggunakan sepeda onthelnya melakukan peninjauan persiapan peringatan ke-60 Tahun Konferensi Asia Afrika 2015 di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/ Widodo S. Jusuf

Menuju kepemimpinan nasional pada Pemilu 2024 mendatang, penulis mengulas tokoh-tokoh yang potensial untuk maju dalam kancah politik tersebut. Penulis menyajikan secara berseri, dan diharapkan publik dapat memberikan penilaian objektif ketika nanti menjatuhkan pilihan.

Baru 100 hari usia pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin, perhatian pada perhelatan politik 2024 sudah mulai muncul. Terbaru misalnya, sekelompok relawan berniat mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden. Tetapi Anies disebut belum siap menentukan waktunya.

Nama Anies kerap menghiasi pemberitaan media massa, lebih-lebih selama musim hujan belakangan yang menyebabkan banjir di banyak titik. Persoalan banjir menjadi isu pokok bagi kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Para kepala daerah harus bergulat mencari solusi untuk mengatasinya.

Anies banyak dibenturkan dengan sejumlah tokoh daerah yang juga berpotensi menjadi rival pada kompetisi 2024. Sebut saja walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dalam akun Twitter-nya, Kang Emil sampai melontarkan kekesalan karena merasa diadu oleh netizen.

Di sinilah sebetulnya prestasi dan kompetensi tokoh-tokoh itu diuji. Bagaimana mereka beradu gagasan dan membuktikannya dalam bentuk kerja-kerja nyata. Berkompetisi tidak pula meniadakan kerja sama, seperti perlunya koordinasi pusat dan daerah-daerah penyangga mengatasi banjir di Jabodebatek.

Atau kolaborasi antara pemerintah pusat dengan daerah, tecermin misalnya dari peresmian terowongan Nanjung untuk mengatasi banjir musiman di selatan Bandung. Proyek yang dikerjakan Kementerian PUPR ini disebut oleh Kang Emil merupakan solusi penting meskipun bukan satu-satunya.

Banjir di sepanjang daerah hulu sungai Citarum menjadi persoalan tahunan yang harus ditanggung oleh warga dan melumpuhkan ekonomi. Ironisnya, Kang Emil saat masih menjabat walikota Bandung sering kena tuding, padahal lokasi dan penyebab banjir berada di luar wilayah administratifnya.

Kang Emil adalah pemimpin populis dari Jawa Barat yang tidak diragukan lagi kinerja dan inovasinya yang nyaris tiada henti. Tidak mengherankan, jika melihat latar belakangnya sebagai arsitek perkotaan lulusan ITB dan Amerika Serikat, dan memenangkan banyak penghargaan di bidang entrepreneurship.

Kedua orang tua Kang Emil adalah dosen di Bandung. Ayahnya doktor Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dan ibunya dosen Fakultas Farmasi Universitas Islam Bandung. Sang kakek, Kyai Muhyidin, dikenal sebagai pendiri tiga pesantren Pagelaran di Subang dan Sumedang dan eks-pejuang Hizbullah.

Kang Emil sendiri menjadi dosen tidak tetap di almamaternya. Kesibukan utamanya adalah memimpin perusahaan yang dibangunnya bersama rekan-rekannya, PT Urbane Indonesia. Berbasis di Bandung, perusahaan ini banyak mengerjakan karya yang monumental di penjuru negeri hingga di tingkat global.

Sebut saja, museum tsunami Aceh, dirancang dengan konsep memorial atau mengingat bencana dahsyat yang pernah melanda negeri Serambi Mekkah tersebut. Karya lain Kang Emil adalah superblok Epicentrum, dengan sungai buatan yang diklaim buatan Ahok hingga sempat memancing perseteruan.

Pembangunan superblok yang sempat menjadi trend sektor properti juga diikuti oleh Kang Emil, dengan tetap menjaga daya kritisnya terkait implementasinya yang melenceng dari kaidah. Jauh ketika masih di luar negeri tepatnya di Hongkong, Kang Emil terlibat merancang superblok Beijing Financial Street.

Dari kawasan Asia Timur pula, yaitu pertemuan kota-kota kreatif sedunia di Yokohama Jepang, yang membawa Kang Emil ke dalam jejaring komunitas. Disponsori oleh British Council, Bandung terpilih sebagai salah satu proyek pengembangan kota kreatif di Asia.

Kolaborasi sejumlah pegiat komunitas kreatif mengarah pada terbentuknya Bandung Creative City Forum (BCCF), di mana Kang Emil didapuk sebagai ketua. Gelaran aktivitas pertamanya adalah Helar Fest 2008 yang dihelat secara terbuka di Taman Cikapayang dengan ikon tulisan .bdg yang menjadi ciri kota.

Aksi-aksi komunitas Kang Emil makin melebar, dari gerakan urban farming melalui Indonesia Berkebun, peluncuran bike sharing pertama di Indonesia, hingga gerakan penyelamatan hutan kota Babakan Siliwangi. Aksi-aksi tersebut disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial yang sedang marak.

Pergulatan Kang Emil membawanya ke dunia politik, ketika namanya diusulkan oleh Prabowo untuk dicalonkan dalam pilkada walikota Bandung. Saat itu bertepatan dengan retaknya hubungan PDIP dan Gerindra usai mengusung pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta.

Pecah kongsi itu mendekatkan Gerindra dengan PKS, yang akhirnya mengusung Kang Emil sebagai calon walikota. Kang Emil menang telak dengan meraih suara 45%, mengalahkan 7 pasangan yang di antaranya berlatar belakang wakil walikota petahana, isteri walikota, sekda hingga ketua DPRD.

Begitu menjabat walikota, gebrakan inovasi Kang Emil makin memikat dukungan publik. Taman-taman kota dibenahi dengan konsep tematik, lalu peluncuran bus wisata Bandros, hingga mengangkat kembali budaya lokal dengan Rebo Nyunda dan penggunaan baju pangsi khas masyarakat Sunda.

Uniknya, beragam inovasi yang diluncurkan disertai dengan strategi untuk menghemat penggunaan dana APBD. Keterbatasan belanja pemerintah disiasati dengan kerjasama CSR bersama perusahaan-perusahaan besar baik BUMN maupun swasta.

Tentu saja, tidak semua ide Kang Emil berjalan mulus. Pro dan kontra serta kritik bermunculan, tetapi Kang Emil kukuh pada terobosan inovatif. Menghadapi kesemrawutan lalu-lintas karena banyaknya PKL, Kang Emil menawarkan ide skywalk, yang berhasil dalam kasus Cihampelas tetapi terhambat di Cicadas.

Demikian pula dengan persoalan banjir yang masih kerap terjadi di dalam kota Bandung. Kang Emil maju dengan gagasan tol air, disertai pembangunan sejumlah danau dan kolam retensi. Kang Emil bersikukuh ketika para sopir angkot memrotes program bus sekolah gratis demi mengurangi kendaraan pribadi.

Berbekal keyakinan selama memimpin kota Bandung, Kang Emil memutuskan maju ke level provinsi. Kali ini Kang Emil bersimpang jalan dengan Gerindra dan PKS yang sebelumnya mengusung. Di tengah hiruk-pikuk politik post-truth, Kang Emil kembali menang dengan perolehan suara tipis 32,9%.

Akankah Kang Emil memutuskan maju lagi ke kancah yang lebih tinggi di tingkat nasional? Karier politik dari walikota, gubernur, hingga prediksi maju sebagai calon presiden tampaknya menggambarkan alur yang akan mewarnai kehidupan seorang Kang Emil.

Jika tekad Kang Emil berhasil, maka ini akan menjadi catatan terbaik bagi wakil masyarakat Sunda meraih posisi tertinggi pemerintahan. Sebelumnya pada masa Orde Baru ada sosok tokoh militer Umar Wirahadikusumah yang dipercaya oleh mendiang Pak Harto mendampinginya sebagai wakil presiden.

Tetapi bukan berarti sejumlah inovasi juara yang digulirkan di Bandung dan Jabar akan memuluskan jalan Kang Emil. Provinsi dengan jumlah penduduk terbesar ini mempunyai kompleksitas tersendiri, perpaduan antara konsentrasi industri padat modal dengan tingginya angka intoleransi.

Kang Emil mengakui bahwa mengurus Jabar bukan hal yang mudah. Secara realistis dibutuhkan setidaknya dua periode untuk membuktikan kinerja, sebelum melangkah ke nasional. Tetapi politik adalah soal momentum dan seni kemungkinan, di mana segala sesuatu bisa terjadi.

Hanya saja sebagai sosok profesional di luar partai, Kang Emil juga harus mengumpulkan dukungan partai-partai politik untuk dapat meraih tiket kontestasi. Demikian pula dengan spektrum basis massa, di mana Kang Emil kerap menempatkan diri berayun-ayun di antara kelompok moderat dan sektarian.

Publik kini menunggu apakah Kang Emil akan menjadi juara Indonesia dan menawarkan inovasi baru apa lagi untuk kemajuan bangsa pasca-Jokowi. Pertumbuhan kaum muda dengan semangat kreatif barangkali menjadi kunci bagi Kang Emil untuk membuktikan diri layak maju sebagai pemimpin nasional.

Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.