Sabtu, Februari 27, 2021

Revolusi Azyumardi Azra

Pak Jokowi, Ini Lho Untung-Rugi Rekonsiliasi

Pertarungan elektoral Pemilihan Presiden 2019 telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan siapa presiden dan wakil presiden terpilih 2019-2024. Kendati demikian, upaya rekonsiliasi...

Fahira Idris dan Fikih Minuman Keras

Dari kacamata fiqih (Hukum Islam), minuman keras (miras) jenis apa pun hukumnya jelas haram. Peminumnya sudah jelas berlumuran dosa, hampir menyamai syirik. Sudah tidak...

Pak Jokowi, Mau Dibawa ke Mana BUMN Kita?

Bukan Cuma Pencarian Keuntungan Aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dinyatakan telah mendekati Rp8.100 triliun di tahun 2019, sementara laba di akhir tahun 2018...

Membantah Klaim-klaim Penegakan Khilafah

HTI adalah sebuah organisasi politik transnasional yang berupaya mewujudkan mimpi di siang bolong menegakkan sistem politik khilafah di berbagai belahan dunia, tak terkecuali yang...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian Observer dan dimuat. Judulnya sendu: ‘Where My Heart Should be Achored’.

Usai itu, Azyumardi kuliah di IAIN Ciputat. Saya melihat potensi besar pada diri penyair ‘murung’ ini. Maka, dia bukan saja saya ajak menulis di Harian Kompas, atau saya libatkan dalam beberapa penelitian, tetapi juga saya masukkan namanya, bersama dengan Komarudin Hidayat dan Iqbal Abdurrauf Saimima, dalam susunan redaksi majalah Panji Masyarakat yang terkenal itu. ‘Kalau bukan nama besar Kak Fachry,’ kata Azyumardi Azra, ‘tidak mungkin nama saya tercantum di situ.’

Saya sudah menjadi peneliti LP3ES pada waktu itu. Pemred Panji Massyarakat Rusjdi Hamka, menerima usul saya agar majalah itu, terinspirasi Tempo, membuat laporan utama (Laput) tiap terbit. Ini memberi kesempatan kepada saya memasukkan nama-nama yang kelak menjadi tokoh intelektual taraf global, untuk mewawancara berbagai tokoh. Lalu, Laporan utamanya saya yang tulis.

Kecerdasannya memberi dilema kepada saya, dalam konteks kepemimpinan mahasiswa. Awal 1980-an itu, muncul dua tokoh cemerlang di HMI Ciputat. Yaitu Azyumardi dan Pipip A Rifa’i Hasan. Saya khawatir kepemimpinan intelektual HMI cepat berlalu jika kedua tokoh ini bentrok di dalam konperensi cabang.

Maka, saya membujuk Azyumardi untuk mengalah. Artinya, Pipip diberi kesempatan terlebih dahulu. Saya tahu, Azyumardi tidak senang dengan usul saya ini. Maka dengan terpaksa ia menurut. Dan benar saja, usai kepemimpinan Pipip, Azyumardi dengan mudah terpilih jadi Ketum HMI Ciputat. Dan, setidak-tidaknya, suasana intelektual Ciputat yang tengah kami bangun, mendapatkan landasan lebih kuat dengan kepemimpinan Pipip dan dilanjutkan Azyumardi.

Tapi Azyumardi memberi signature yang tak bisa ditiru. Ia bukan saja menyelesaikan sarjana penuh justru ketika menjabat Ketum HMI Cabang Ciputat, melainkan membangun asrama anggota HMI dalam bentuk gedung. Ini sangat berarti. Sebab, asrama sebelumnya hanya berupa bangunan papan. Inilah yang kemudian dilanjutkan Azyumardi ketika menjadi rektor IAIN Ciputat.

Diinspirasi kampusnya di Columbia University, New York, Azyumardi mencari dana membangun kampus dalam disain yang diidamkan. Dan inilah yg saya sebut ‘Revolusi Azyumardi’. Dengan kampus yang terbangun secara ideal, Azyumardi berjuang mengubah IAIN Ciputat menjadi universitas: UIN. Di samping membangun fakultas-fakultas lain —sebagai syarat sebuah universitas— Azyumardi berjuang keras menciptakan Fakultas Kedokteran from the scratch.

Ringkasnya, ‘revolusi’ ini segera bertiup ke seluruh IAIN Indonesia. Secara gradual, IAIN-IAIN di kota-kota besar berubah menjadi universitas. Dan, jangan lupa, dengan bentuk dan pola gedung yang sama. Ini bukan hanya ‘discourse revolution’. Tapi meluas kepada ‘phisical revolution’.

Tapi ini belum cukup. Sambil membangun, memimpin universitas yang ‘diciptakan’-nya, Azyumardi tetap malang-melintang secara akademis. Di samping tulisan-tulisannya yang tersebar—seperti di Harian Kompas hari ini (Rejuvenasi Reformasi Polri, 21/1/2021)— karya-karya utuh lainnya diterbitkan penerbit ternama tingkat internasional.

Sebagai akademisi, Azyumardi mendapat penghargaan tingkat dunia. Bahkan, memperolehi penghargaan dari Ratu Inggris. Jadilah Azyumardi sebagai ‘a perfect man’ —yang prestasinya sukar kita kejar. Hebat yuniorku ini!

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.