Sabtu, Desember 5, 2020

Relationship Goal dan Musim Putus

Ijtima Siapa Mendapat Ulama?

Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Jokowi dan Sandiaga Uno mendampingi Prabowo Subianto telah membuat lindu politik yang lumayan mengacaukan peta pertempuran di medan...

Kontroversi “Lelaki Kardus”

Di pengujung Ramadhan, dunia maya tanah air dikejutkan oleh sebuah lagu yang digarap secara indie. Lagu tersebut berjudul Lelaki Kardus yang dinyanyikan bocah perempuan...

Dokter bukan Robot

Kemajuan sains dan teknologi, tak bisa dibantah, telah banyak membantu proses diagnosis dan penyembuhan penyakit. Banyak peralatan kedokteran modern berjasa mendongkrak peningkatan kualitas layanan...

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

Bolehkah Muslim masuk ke gereja? Jangan emosi, kita ngaji kitab fikih, yuk! Sahabat dan guru saya, Ustaz Yusuf Mansur, meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki...
Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).

jolie-brad-pitt-divorce
vanityfair.com

Musim  penghujan ini sepertinya juga merupakan musim putus cinta bagi pasangan yang awalnya dijadikan relationship goal. Mungkin cuaca yang menyebabkan tidak enak badan ini cocok dipadukan dengan patah hati. Hujan tak tentu, mendung tak habis, ditambah mie rebus dengan telur setengah matang, sambil menonton tayangan drama sinetron Jessica atau Mario Teguh, atau siapa pun yang akan populer selanjutnya.

Musim penghujan ini adalah musim patah hati lintas generasi. Tengok saja pada pasangan generasi Z, Awkarin-Gaga, Raisa-Keenan di generasi Y, dan Brad Pitt-Angelina Jolie di generasi X.

Yang menarik, pasangan ini diidolakan dengan caranya masing-masing: Awkarin-Gaga menjadi tujuan hubungan generasi Z karena dianggap pasangan yang bebas dan bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan, tidak peduli apa pandangan orang lain, dan mereka bisa memamerkan apa pun yang mereka lakukan.

Raisa-Keenan dicintai generasi Y karena keduanya sama-sama menarik dan dibayangkan sebagai citra ideal pasangan yang manis. Sedangkan Brad-Angelina digambarkan sebagai pasangan yang mempunyai karakter yang kuat dan aktif dalam kegiatan sosial di generasi X.

Pasangan-pasangan ini diusung sebagai pasangan ideal dan ditunjuk secara aklamasi sebagai #relationshipgoal.

Karenanya, ketika tagar #relationshipgoal muncul di linimasa Twitter dan Instagram saya, saya bisa membayangkan pasangan yang mulai harap-harap cemas. Bukan hanya cemas karena saya tidak bisa menjadi sekuat Angelina, dan saya belum punya kekasih seganteng Brad Pitt, tapi tagar ini menjadi semacam kode yang harus diterjemahkan menjadi aksi: mulai dari jalan-jalan ke tempat eksotik di dalam dan luar negeri, membanjiri pasangan dengan bunga dan hadiah mahal, makan malam di rooftop hotel mewah lantai 69 yang instagram-able, atau melakukan aksi heroik seperti merelakan kulit ayam KFC demi pasangan yang diunggah ke media sosial termutakhir.

Dengan begitu, ketika pasangan ideal ini memutuskan untuk bubar jalan, kita berkumpul dan dirudung perasaanyang sama: “Kok, bisa?”

raisa-keenan
kapanlagi.com

Parasocial Relationship

Pertanyaannya, “Mengapa kita turut berduka? Lalu, apa hubungannya mereka dengan kita secara pribadi? Mengapa mereka menjadi bagian penting dari hidup kita?”

Saya pribadi tidak mengenal Awkarin atau Raisa, selain dari akun media sosialnya. Mungkin Angelina Jolie adalah tetangga kakak sepupu jauh temannya teman saya, atau Raisa ternyata adalah kenalan adiknya menantu tetangga yang waktu itu punya teman yang tetangganya pernah berfoto dengan Raisa. Tidak lebih dari itu.

Jika saya serius menjawab pertanyaan di atas, pasti tesis saya sudah selesai. Untungnya, Amanda R. Laken (2009) sudah terlebih dahulu menulis tesis yang menjelaskan bagaimana parasocial relationship yang menjadi kunci bagaimana fenomena ini bekerja.

Parasocial relationship didefinisikan sebagai ikatan emosional kuat yang muncul kepada orang yang belum pernah Anda temui atau tidak berelasi dekat dengan Anda. Perasaan ini tumbuh ketika Anda secara aktif mencari informasi lebih lanjut tentang individu tersebut, misalnya dengan membaca artikel, menonton YouTube, dan mengikuti Instagram atau Twitter mereka.

Paparan stimulus yang amat banyak ini membuat individu tidak dapat membedakan antara realitas dan ilusi. Perkembangan teknologi yang ada semakin membaurkan garis yang memisahkan antara selebriti (termasuk selebriti baru di media sosial) dengan fans yang memungkinkan adanya relasi yang dipersepsikan terjadi. Relasi tersebut dimediasi oleh percakapan dunia maya yang membuat kedekatan hanya a mention away.

Karena perasaan nyata tersebut, individu rela menginvestasikan waktu dan perasaannya pada kebahagiaan orang lain, cinta orang lain, dan perpisahan orang lain dengan sungguh-sungguh seakan itu adalah kebahagiaan, cinta, dan perpisahan dirinya.

Dalam hubungan nyata, ilusi ini kemudian memunculkan ekspektasi baru terhadap diri dan pasangan. Mereka yang ingin punya relationship goal orang lain, akan cenderung memaksakan dan memanipulasi untuk mendapatkan relasi yang sama persis kepada pasangannya. Proyeksi akan relasi ideal, yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, akan menunjukkan adanya diskrepansi yang lebar.

Hal inilah yang menimbulkan obsesi terhadap hubungan untuk alasan yang berbeda. Relasi diartikan sebagai kompetisi untuk menjadi pasangan dengan ekspektasi palsu. Seakan-akan menunggu momen they live happily ever after, kita terjebak pada ilusi cinta romantis yang tidak akan pernah berakhir.

Kita melupakan atau menutup mata adanya kekurangan dari diri dan pasangan yang justru amat kita nikmati. Dan ketika semua ekspektasi yang dibangun dan diinginkan tidak lagi sesuai dengan kenyataan, kita hanya menunggu dalam berapa musim lagi hubungan tersebut akan berakhir.

Anda tidak harus hidup dengan relationship goal dengan menjadi orang lain, apalagi memaksakan diri menjadi orang lain karena aspek tersebut jauh lebih superfisial dan tidak masuk akal. Tidak perlu memaksa pergi ke luar kota dan makan di restoran mewah, kalau esok hari Anda harus makan mie rebus selama satu minggu.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki hubungan adalah dengan membicarakan hal-hal penting dalam hidup sendiri dan memaknai ulang kebahagiaan dan tujuan berelasi.

Anda tidak perlu menjadi Raisa, atau memaksa pasangan Anda untuk menjadi seganteng Brad Pitt. Kalau perlu, biarkan dan berikan kesempatan Raisa untuk menjadi diri Anda sesekali. Kalau Anda dan pasangan sudah telanjur putus, saya temani Anda makan malam ini.

Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.