OUR NETWORK

Bekas Juara, Bekas Calon Juara

Real Madrid hancur, Liverpool mulai jatuh.

Kembali dari Piala Dunia Antarklub dan tampil berantakan tampaknya sudah jadi kewajaran bagi banyak tim. Tapi Real Madrid lebih buruk dari sekadar berantakan. Mereka hancur.

Ketika mereka menginjak rumput Estadio de La Ceramica (sejak kapan El Madrigal berubah nama?), dan diberi tepukan penghormatan oleh semua pemain Villareal dan separuh penduduk kota yang hari itu hadir di stadion, sebagian kita yang menonton di depan televisi, termasuk penulis kolom ini, mungkin sempat bertanya-tanya: itu tepuk tangan untuk apa? (Oh, turnamen resmi FIFA yang ditonton para emir dan anggota keluarganya dan tukang rumput stadion itu ya?). Mungkin mereka kelelahan sepulang dari liburan di Dubai, sehingga sempat gagal mempertahankan keunggulan, dari tim yang sedang bercengkrama dengan degradasi.

Tapi, ketika mereka digasak oleh Real Sociedad, di Bernabeu, boleh jadi mereka lelah menjadi juara. Maklum, mereka juara dunia tiga kali berturut-turut, setelah sebelumnya juara Eropa tiga kali beruntun.

Madrid punya klaim yang pantas atas dua penalti, ketika Ramos didorong dan Vinicius Jr. dijatuhkan di kotak penalti Real Sociedad. Tapi, mereka jauh lebih pantas kalah. Mereka bermain sangat buruk. Mereka menderita oleh tim yang habis kalah empat kali beruntun dan karena itu memecat pelatihnya sepekan sebelumnya, dan sedang ada di urutan 15 klasemen. Mereka bahkan seharusnya kalah lebih dari 0-2.

Mereka hancur nyaris secara menyeluruh. Empat bek mereka, dua di antaranya adalah juara Piala Dunia, seperti baru saja belajar bikin garis offside. Para gelandang bertahan membuat tekel-tekel tak penting dan buruk (sehingga mereka sudah kena penalti di menit ketiga), lalu ikut menyerang dengan serampangan. Para gelandang serangnya menyerang dengan serampangan, dan ikut-ikutan melakukan tekel-tekel tak penting dan buruk (dan karena itu mereka berakhir dengan bermain 10 orang). Sementara itu, para penyerang mereka tak tahu di mana lubang gawang.

Sejauh ini, mereka baru memenangkan separuh dari 18 pertandingan liga. Mereka sudah kalah enam kali, meski kompetisi belum melewati setengahnya. Angka kebobolan mereka sama dengan Villareal, klub yang empat hari lalu gagal mereka kalahkan dan saat ini masih di urutan 17. Gol yang dicetak pasangan Messi-Suarez dari Barcelona lebih banyak dibanding seluruh gol dicetak pemain Madrid. Dan di pertandingan melawan Sociedad, pemain terbaik mereka adalah bocah Brasil berusia 18 tahun.

“Real Madrid mencuri headline untuk alasan yang salah. Lagi,” demikian judul tulisan Sid Lowe di The Guardian. “Pekan ini seharusnya jatah Sevilla-Atletico,” keluhnya.

“Kami harus duduk bareng, ngobrol, mencari tahu kenapa ini terjadi. Kami tak bisa terus-terusan menyalahkan pelatih,” kata Luka Modric, yang beberapa pekan sebelumnya dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia.

***

MU menang lagi, kali ini di Piala FA melawan Reading. Ini untuk yang kelima kali—sejak Mourinho pergi. Hampir semua klub besar di Liga Primer lolos ke babak 32 besar. Dua dari tiga tim penghuni teratas puncak piramida sepakbola Inggris mengakhiri pertandingan dengan pesta besar. Tottenham Hotspurs menang 0-7 di kandang Tranmere Rovers, sementara Manchester City memulangkan Rotherham dari Etihad juga dengan tujuh gol. Namun klub terbaik Inggris untuk saat ini, Liverpool, justru kalah dari Wolverhampton Wanderers.

Tentu saja, sebagai pemimpin klasemen Liga Primer, yang baru menerima kekalahan pertamanya di Liga setelah melewati separuh kompetisi, Liverpool punya banyak penjelasan untuk kekalahan ini.

Spurs hanya melawan Tranmere Rovers, klub entah dari kasta berapa. Rotherham juga sedang terseok di Championship, dan akhir musim sangat mungkin terdegrasi, jadi pantas saja dibelasah oleh City. Sementara Wolves adalah juara Championship musim lalu, dan tim promosi paling siap di Liga Primer. Dan mereka termasuk tim paling sulit dikalahkan tim besar. Mereka menahan imbang City, United, dan Arsenal, dan memberi kekalahan kepada Chelsea dan Spurs. Untuk yang terakhir, di pengujung tahun lalu, Wolves mengalahkan tim yang sangat stabil dan sedang ganas-ganasnya, di kandang lawan. Juga, mereka punya Ruben Neves. Jadi, apa yang aneh dengan kalah dari Wolves?

Lagi pula, Liverpool turun dengan sebagian pemain cadangan. Ada yang kenal Ki-Jana Hoever? (Itu bahkan nama yang terlalu aneh untuk seorang bocah dari Belanda, ya ‘kan?) Siapa itu Rafael Camacho? Siapa pula Curtis Jones? Siapa yang ingat kalau Alberto Moreno masih di Merseyside?

Tambahan lagi, Liverpool ingin juara Liga—setelah 28 musim! Lain, tidak! Bikinlah polling, penggemar Liverpool pasti akan memilih juara Liga dibanding menyelamatkan dunia dari Perang Dunia ke-3. Fokus, boleh kan? Meminimalkan risiko gagal lagi (seperti 2012) bukankah beralasan?

Dan masih banyak lagi. Dan mungkin akan lebih banyak lagi.

Dan, dari klub yang tak terkalahkan, Liverpool tiba-tiba sudah mencatat kekalahan kedua beruntun dalam empat hari. Jika kalian pendukung Liverpool, apa kalian tidak khawatir?

Jurgen Klopp bilang ia tak khawatir kekalahan dari City akan mempengaruhi moral pemainnya. Tapi bagaimana kalau kekalahan City dan Wolves? Dejan Lovren, bek yang membiarkan dan hanya memelototi Kun Aguero menyepak bola dari sudut sempit dan mencetak gol kesekiannya ke gawang Liverpool di pertandingan Liga tengah pekan lalu, dengan angkuh bilang bahwa Liverpool terlalu kuat untuk terguncang dengan satu kekalahan. Bagaimana kalau Liverpool tak lebih kuat dari musim-musim sebelumnya, di mana Lovren adalah beknya? Bagaimana kalau Liverpool yang sekarang adalah Liverpool yang sebelum-sebelumnya: yang ngeper di masa-masa seharusnya dituntut tegar; yang kalah ketika semestinya menang; yang mempersulit diri saat menghadapi lawan-lawan mudah?

Ada yang ingat iklan resmi versi parodi Bein Sport Indonesia versi ibu-ibu?
Seorang ibu muda berkaus Liverpool, cantik dan langsing, berjalan dengan angkuh dan bangga di tengah-tengah dua ibu gemuk, masing-masing dengan kaus MU dan Man City, yang sedang ramai bertengkar. Semua terpana melihat ibu berkaus Liverpool melenggang, sampai kemudian ia terpeleset setelah menginjak kulit pisang yang dengan licik dilempar oleh ibu gemuk berkaus City. Dan semuanya tertawa ketika ibu Liverpool jatuh terjengkang.

Iklan itu sangat berperspektif laki-laki dan tidak lucu—terutama untuk pendukung Liverpool (macam saya). Tapi ia akan jadi lelucon paling besar di akhir musim nanti jika benar-benar jadi kenyataan. Lagi.

Dan Liverpool hanya akan dicatat sebagai bekas calon juara.

Lagi.

***

Serie A sedang libur. Di “Dunia Dalam Berita” TVRI, dikabarkan beberapa kota di Italia ditimbun salju. Ini sepertinya ada bagusnya. Awal pekan kita, setidaknya hingga dua minggu ke depan, jadi sedikit lebih tenang. Kera-kera yang bikin ribut di tribun-tribun stadion di Italia pasti sedang meringkuk kedinginan di kandangnya masing-masing.

Kalau saja saya penggemar Inter Milan, saya akan berkirim surat kepada Javier Zanetti. Saya akan menulis begini:

“Javier yang baik, jika di libur kompetisi ini Anda sempat mengunjungi Comuna Baires, klub yang oleh Franklin Foer diceritakan sebagai tempat nongkrongnya para sastrawan progresif dan intelektual kiri pendukung Inter (dan pembenci Berlusconi), tempat di mana Anda katanya begitu dihormati, sebaiknya Anda membawa serta satu atau dua Ultras bersama Anda. Saya pikir itu akan bagus untuk mereka. Biar mereka sedikit mengerti tentang puisi dan tahu sedikit soal Gramsci—seperti sebagian besar penggemar Inter. Dan terutama, agar mereka mengurangi kebiasan menirukan suara primata di stadion.”

Tapi saya bukan penggemar Inter. Dan saya bersyukur.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…