OUR NETWORK

Rasisme, Feminisme, dan Pro-Choice Menurut Alma Sophia

Saya hanya mendengarkan curhatnya, sambil mengingat-ingat apa yang ada di kepala saya sewaktu saya seumur dia, menjelang 12 tahun.

Alma Sophia rupanya cukup tekun mengikuti aneka perkembangan dunia — selain tak putus bermain Roblox. Di antara sejumlah isu yang diulasnya beberapa hari lalu — termasuk prospek kekalahan Donald Trump — ada tiga hal yang menarik bagi saya.

Pertama, rangkaian demonstrasi “Black Lives Matter” di Amerika dan Inggris; kedua, kritiknya terhadap gerakan feminisme; ketiga, opininya tentang debat lama antara pro-life dan pro-choice.

Dalam obrolan menjelang tidur itu, ia menegaskan bahwa ia pasti berdiri kokoh di barisan anti-rasisme. Jadi, jelas dia mendukung hak-hal warga kulit hitam di Amerika.

“Saya juga pasti setuju dengan gerakan ‘Black Lives Matter,” katanya. “Saya cuma menyesalkan: kenapa mereka melakukan hal itu sekarang? Mereka berdemo ramai-ramai di tengah pandemi ini. Itu sangat berbahaya. Itu akan membuat banyak orang tertular virus Corona.”

Ia merujuk gerakan Martin Luther King, Jr yang ia kagumi dan dukung.

Kritik utama Alma pada gerakan feminisme adalah karena gerakan itu bisa memunculkan inequality baru. Pertanyaan tipikal feminisme, menurut Alma, adalah: apa pekerjaan laki-laki yang tidak bisa dikerjakan perempuan? Jawabannya: tidak ada. Semua pekerjaan laki-laki bisa dikerjakan perempuan.

Apa pekerjaan perempuan yang tidak bisa dikerjakan laki-laki? Ada. Ada banyak pekerjaan perempuan yang tidak bisa dilakukan kaum pria.

“Itu berarti memunculkan inequality baru,” kata Alma. Maksudnya: perempuan merasa lebih unggul dibanding laki-laki. “Inequality di dunia ini sudah banyak,” katanya. “Tidak perlu ditambah dengan inequality oleh feminisme itu.”

Menurut Alma, feminisme mestinya memperjuangkan hak-hak perempuan (women’s rights). Bukan memperjuangkan keunggulan perempuan terhadap laki-laki, yang bisa menimbulkan inequality baru.

Tentang debat lama antara kubu pro-life yang anti aborsi dan kelompok pro-choice yang membuka peluang untuk itu, Alma setuju pada pro-choice.

Katanya, ada banyak kemungkinan seorang perempuan tidak menginginkan kehamilan. Ada yang terpaksa hamil akibat hubungan yang tidak dia inginkan. Bayangkan, katanya, orang yang mengalami hal itu harus hamil selama sembilan bulan, untuk anak yang ia tidak inginkan.

Bagi Alma, itu tidak adil. Orang itu mestinya diberi hak untuk memilih apa yang diinginkannya. “Bukan diharuskan melahirkan the unwanted child,” tambahnya.

Saya hanya mendengarkan curhatnya, sambil mengingat-ingat apa yang ada di kepala saya sewaktu saya seumur dia, menjelang 12 tahun.

Aktivis dan mantan wartawan; menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.