OUR NETWORK

Rame-Rame Membaca Ulang Energi Terbarukan

Modarnya listrik beberapa jam lamanya di sejumlah daerah (Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta Jawa Tengah) pada Minggu (4/8) siang hingga Senin memicu sejumlah kalangan mendorong kembali perlunya energi terbarukan diwujudkan. Benarkah perlu??

Ocasio-Cortez, politisi di Amerika, melontarkan gagasan perlunya penggunaan energi terbarukan 100% pada tahun 2035 di Paman Sam. Bersama sejawatnya Ed Markey, mereka melontarkan proposal yang dikenal dengan “The New Green Deal”. Ini adalah paket ekonomi yang dimaksudkan untuk merangsang ekonomi Amerika dengan meningkatkan investasi pada infrastruktur energi bersih melalui sumber-sumber energi terbarukan (renewable energy) serta menghilangkan emisi gas-gas rumah kaca dari sektor transportasi dengan mempromosikan penggunaan mobil dan kereta listrik serta perbaikan jaringan transmisi listrik di Amerika.

Kebutuhan untuk menjaga perubahan iklim tidak melebihi 2 derajat Celcius sebelum zaman pra-industri bukan berarti peradaban juga harus mengikuti zaman seperti pra-industri. Pertumbuhan penduduk dunia sebagai sebuah keniscayaan perlu diatasi dengan cara-cara yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan tingkat peradaban dan perkembangan teknologi. Karena kemampuannya manusia untuk mengatasi kesulitan alam, maka spesies manusia dapat terhindar dari kepunahan, hal mana banyak terjadi pada mahluk lain selain manusia.

200 tahun yang lalu umat manusia menggunakan kecerdasannya untuk memulai Revolusi Energi. Selama Revolusi Industri manusia belajar bagaimana mengeksploitasi bahan bakar fosil, terutama barutbara. Batubara digunakan dengan cara dibakar batu bara untuk membuat uap, dan kemudian perjalanan selanjutnya dengan melakukan pembakaran minyak dan gas secara langsung.

Kepadatan energi dari batubara, minyak, dan gas sangat jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan biomasa, sumber utama energi sebelum Revolusi Industri berlangsung. Tetapi yang lebih penting adalah keandalan sumber energi baru ini yang dapat digunakan selama tujuh hari seminggu dan dua puluh empat jam sehari (24/7), baik dalam keadaan hujan atau cerah dan siang ataupun malam.

Pertumbuhan energi modern dapat diihat seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia diperlukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, tapi di sisi lain penggunaan energi tersebut ternyata telah merusak lingkungan dan ekosistem kehidupan manusia itu sendiri. Kecaman acap dimunculkan terhadap pembangkit listrik yang menggunakan bahan baku (feed) dari sumber yang tidak terbarukan (non-renewable). Penggunaan batubara untuk pembangkit listrik tidak hanya dikecam, tapi banyak yang mengharamkan karena dianggap menghasilkan polusi yang merusak kesehatan dan lingkungan.

Pembangkit batubara juga dianggap banyak berpengaruh terhadap kenaikan suhu bumi yang dampaknya sangat merusak dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Meyakini bahwa pembangkit listrik batubara berkontribusi besar terhadap perubahan iklm global yang membawa konsekuensi lain di bidang pendanaan. Banyak bank-bank komersial yang sekarang ini enggan membiayai pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara. Lembaga keuangan global saat ini lebih mudah untuk memberikan pendanaan bagi pembangkit listrik terbarukan, khususnya energi surya dan bayu/angin.

Pertanyaannya apakah energi terbarukan itu dapat menggantikan energi fossil seperti yang banyak dikampanyekan selama ini? Apakah penggunaan energi terbarukan benar-benar sesuai dengan prinsip pembangunan perkelanjutan yang dapat membawa peradaban manusia berjalan dengan baik?

Kata “berkelanjutan” dan “terbarukan” sering digunakan untuk menggambarkan sumber energi primer tertentu, sering kali digunakan secara bergantian. Sesungguhnya berkelanjutan dan terbarukan memiliki makna yang berbeda, karena tidak semua yang terbarukan berkelanjutan dan tidak semua yang berkelanjutan dapat terbarukan.

Untuk membuat sesuatu terbarukan, karenanya sesuatu itu haruslah tidak dapat dimakan oleh waktu (replenished with time). Energi terbarukan adalah energi yang produksinya dari hal yang seperti ini (tidak bisa habis).

Dari sisi material pembangunannya, baik energi terbarukan maupun tidak terbarukan, memerlukan material yang tidak terbarukan (finite resources). Pembangkit listrik tenaga air memerlukan jumlah campuran semen dan pasir yang sangat banyak. Baterai listrik memerlukan vanadium, lithium, nikel, aluminium, mangan, kobalt dan juga tembaga. Ketika sudah tidak terpakai baterai ini adalah limbah yang memerlukan penanganan khusus karena banyak mengandung racun yang berbahaya bagi manusia.

Sebagai tenaga penggerak turbin juga tidak kurang memerlukan bahan mineral yang tidak terbarukan seperti baja, besi cor, beton dan juga ada magnet yang terbuat logam jarang (rare earth minerals) dari neodymium dan logam tanah dysprosium. Demikian juga untuk pembuatan panel surya yang tipis diperlukan mineral yang tidak terbarukan dari logam tanah seperti indium dan tellurium.

Apa yang digadang-gadang oleh pendukung energi terbarukan sesungguhnya banyak mengalami kendala ketika dia hendak digunakan sebagai alternatif pengganti energi fosil. Ada keterbatasan fisika dalam energi surya di mana modul panel surya tidak dapat mengkonversi lebih banyak foton daripada yang datang dari matahari. Turbin bayu juga tidak bisa mengekstrak lebih banyak energi daripada yang ada dalam aliran kinetik udara yang bergerak dan baterai terikat oleh kimia fisik dari molekul yang dipilih

Dari sisi penggunaan energi terbarukan bersifat saling bergantian (intermittent), artinya pembangkit terbarukan khususnya pembangkit surya (PLTS) dan bayu (PLTB) tidak selalu ada ketika diperlukan. Kondisi ini menyebabkan PLTS tidak dapat beroperasi terus menerus pada kapasitas terpasangnya. PLTS dan PLTB sering mengalami penurunan aliran daya dari PLTS akibat kondisi musim, kelembaban, suhu, pergerakan awan dan kondisi cuaca.

Kondisi penurunan aliran daya ini kemudian harus dipasok oleh pembangkit yang dikategorikan sebagai fast respond power plant dan ini disediakan oleh pembangkit listrik tenaga fosil seperti pembangkit listrik tenaga disel atau gas bumi.

Kesalingbergantian (intermittency) tenaga bayu dan tenaga surya membuat pembangkit listrik jenis ini tidak tersedia terus-menerus (24/7), sementara masyarakat modern sangat sensitif terhadap listrik yang terputus-putus. Dalam sistem ketenagalistrikan harus ada pembangkit yang harus selalu dalam keadaan siaga untuk mengambil alih beban ketika matahari atau bayu tidak dapat beroperasi secara alamiah.

Agar daya yang dihasilkan dapat melayani 24/7 PLTS dan PLTB memerlukan medium lain, yakni baterai yang harganya sangat mahal dan tidak terbukti jika digunakan dalam skala besar. Ini artinya penggunaan pembangkit listrik jenis PLTS ataupun PLTB tidak dapat beroperasi pada potensi maksimumnya karena harus membagi biaya produksi listriknya jauh lebih rendah dari apa yang seharusnya dapat diproduksi dan ini berhubungan dengan faktor kapasitas (capacity factor) pembangkit listrik terbarukan.

Faktor kapasitas, yakni perbandingan antara energi aktual yang dihasilkan pembangkit listrik dalam setahun dengan energi maksimum yang dapat dihasilkan di mana perhitungannya setahun adalah 8760 jam. Semakin tinggi faktor kapasitas, maka semakin baik sebuah pembangkit untuk menjadi pilihan. Sayangnya, faktor kapasitas pembangkit listrik terbarukan memiliki faktor kapasitas yang dianggap rendah 22% untuk PLTS dan 35% untuk PLTB, jauh di bawah pembangkit tenaga nuklir yang dapat memiliki faktor kapasitas 94%.

Ketersediaan (availability) adalah syarat paling penting dari semua infrastruktur energi, diikuti oleh harga, diikuti oleh pencarian abadi untuk mengurangi biaya tanpa mempengaruhi ketersediaan. Hingga era modern, ekonomi dan kemajuan sosial telah tertatih-tatih oleh sifat episodik ketersediaan energi. Itu sebabnya, sejauh ini, lebih dari 90% listrik Amerika, dan 99% dari daya yang digunakan transportasi, berasal dari sumber yang bisa dengan mudah menyediakan energi kapan saja sesuai permintaan.

Lima belas tahun yang lalu, Jerman berkomitmen untuk transisi ke energi terbarukan (Energiewende) dan berkomitmen untuk menutup pembangkit listrik tenaga nuklirnya (PLTN). Alih-alih melakukan transisi energi, setelah menghabiskan hampir US$400 miliar untuk penggunaan energi terbarukan, Jerman sekarang memiliki biaya listrik yang tertinggi di Eropa dan karenanya sedang dalam posisi dilematis untuk melanjutkan program transisi energinya.

Pembangkit listrik tenaga bayu dan angin tidak dapat menghilangkan akan kebutuhan pembangkit listrik tradisional seperti batubara. Ketersediaan listrik yang stabil hari ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh dan karenanya gagasan untuk menggunakan pembangkit listrik dengan bersumber seratus persen pada energi terbarukan dalam sebuah sistem jaringan besar haruslah ditolak.

Baca juga

Apa yang Diobrolin Orang Ketika Listrik Modar?

Gonjang-Ganjing Setrum 35 Ribu MW (1)

Gonjang-Ganjing Setrum 35 Ribu MW (2 – Habis)

NUKLIR SERPONG (1)

NUKLIR SERPONG (2)

NUKLIR SERPONG (3)

Peneliti di Energy and Natural Resources Institute of Indonesia (ENRI Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…