Kamis, Januari 21, 2021

Ramadhan dan 2 Tahun Khilafah ISIS

Menjemput ‘Hidangan Langit’ Saat Stay At Home

Ada doa ampuh untuk tetap mendapat rizky dari langit dikala stay at home. Puluhan ulama memberi rekomendasi atau semacam ‘ijazah’ ini doa sangat mustajabah. Tapi...

Gegenpressing Klopp: Misi Mengembalikan Gairah Sepakbola

Dalam sepakbola, kita mengenal tiga fase penting di dalamnya, yakni fase menyerang, fase bertahan, dan fase transisi. Fase transisi diyakini sebagai fase paling krusial...

Kontroversi “Lelaki Kardus”

Di pengujung Ramadhan, dunia maya tanah air dikejutkan oleh sebuah lagu yang digarap secara indie. Lagu tersebut berjudul Lelaki Kardus yang dinyanyikan bocah perempuan...

Perang Media di Mina

  Belum usai tangis sanak saudara korban tragedi Mina yang menewaskan hampir seribu orang, peristiwa tersebut telah memunculkan “tragedi” lanjutan: pertempuran opini tentang apa sebenarnya...
Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

abu-isis
Abu Bakar Al-Baghdadi

Pada 1 Ramadhan 1435 Hijriah (29 Juni 2014) kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mendeklarasikan “negara” Khilafah. Ini berarti datangnya Ramadhan kali ini genap 2 tahun usia Khilafah yang ISIS dirikan.

Ketika itu ISIS mantap mendeklarasikan Khilafah setelah militan ini berhasil merebut tiga kota penting di wilayah utara Irak, yakni Mosul, Tikrit, dan Tal Afar hanya dalam waktu satu pekan.

Deklarasi Khilafah yang diklaim ISIS diumumkan oleh juru bicara ISIS Abu Muhammad Al- Adnani dengan pidato berjudul Hadza Wa’dullah (Ini adalah Janji Allah). Pesan audio ini disebarkan oleh Al-Furqan di internet yang dikenal sebagai corong media ISIS. Dalam kesempatan itu pula ISIS mengumumkan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai Khalifah (pemimpin Khilafah) yang menaungi seluruh umat Islam di dunia.

Jika kita melihat ke belakang, sejatinya deklarasi tersebut merupakan deklarasi ketiga yang dilakukan oleh kelompok yang sama. Dimulai dari deklarasi Negara Islam Irak (ISI) pada tahun 2006 yang sebagian besar tokoh jihadis mendukungnya (termasuk cabang Al Qaidah Irak). Kemudian diikuti dengan deklarasi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pada tahun 2013, yang mendapat penentangan dari beberapa tokoh jihadis. Terakhir adalah deklarasi Negara Khilafah (Islamic State), yang bertujuan menaungi seluruh umat Islam di dunia dalam satu negara.

Ketika ISIS mendeklarasikan Khilafah, isu Khilafah kembali hangat diperbincangkan. Menyikapi Khilafah ISIS, penolakan umat Islam setidaknya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kalangan yang menolak keabsahan Khilafah ISIS karena dianggap tidak memenuhi syarat-syarat sah kekhilafahan. Mereka adalah para jihadis dan kelompok Islamis yang memiliki impian serupa: berdirinya negara Khilafah.

Kelompok kedua adalah kalangan yang berpendirian bahwa sistem Khilafah sudah tidak memiliki relevansi diterapkan pada masa kini. Kalangan ini justru adalah mayoritas umat Islam di dunia.

Terlepas dari penolakan umat Islam di dunia, rupanya ISIS tidak terlalu ambil pusing dengan semua itu. ISIS selalu menghipnotis pengikutnya dengan jargon Daulah Khilafah Baqiyah wa Tatamaddad! Yang artinya “Negara Khilafah akan tetap ada dan ekspansif!”.

Dalam capaiannya mempertahankan kekhilafahan selama 2 tahun, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Yaitu, meski kekhilafahan ini sudah berjalan dua tahun, ternyata sama sekali tak mengubah pendirian kelompok-kelompok jihad berpengaruh untuk bergabung di bawah Khilafah ISIS. Satu-satunya kelompok militan kenamaan yang sudi bergabung hanya Boko Haram dari Nigeria pada tahun 2015.

Kedua, jika lebih diteliti lebih mendalam, perdebatan tema Khilafah yang terjadi pada mayoritas umat Islam saat ini bukan terletak pada legitimasi Khilafah yang telah ISIS dirikan itu, namun lebih kepada relevansi ide kekhilafahan jika diterapkan pada masa sekarang.

Khilafah versi mana pun (ISIS, Al-Qaidah atau Hizbut Tahrir) tak ada  bedanya. Semuanya diskriminatif, seperti penolakan mereka terhadap peran non-Muslim dalam bernegara, memandang non-Muslim sebagai masyarakat kelas dua di negara Khilafah.

Dalam negara Khilafah, yang berhak membuat undang-undang hanya Khalifah. Hal ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa Khalifah adalah wakil Tuhan. Jika logika ini diteruskan, maka suara Khalifah adalah suara Tuhan, pegawainya pegawai Tuhan, gajinya gaji Tuhan dan seterusnya. Karena wakil Tuhan, ia tak boleh dikritik dan diturunkan.

Mayoritas umat Islam tak mau ambil pusing dengan perdebatan sah atau tidaknya Khilafah yang didirikan ISIS. “Prestasi” ISIS menegakkan dan mempertahankan Khilafah selama 2 tahun justru membuat umat Islam semakin percaya diri. Singkatnya, umat Islam memandang Khilafah bukan sistem pemerintahan yang ideal untuk kaum Muslim (terlebih bagi non-Muslim), bahkan ancaman bagi kerukunan dan perdamaian.

Avatar
Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.