Senin, Januari 18, 2021

Ramadan dan Piala Dunia Bertemu di “Koran Lebaran” Jawa Pos

Saat Penegakan HAM Era Jokowi Tak Berarah

Penegakan hak-hak asasi manusia (HAM) selama dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo masih jauh dari harapan. Terkait dengan kewajiban negara untuk menyelesaikan tujuh kasus...

Agar Jokowi Tak Setengah Hati Merevisi UU ITE

Setelah berbagai ketidakpastian, akhirnya revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masuk ke dalam Progam Legislasi Nasional 2016. Revisi itu disebabkan UU ITE lebih...

Ramadhan dan Dialog Kitab Suci

Ajakan untuk mendialogkan kitab suci kerap berhadapan dengan penolakan dari kalangan tertentu karena alasan supremasis. Di satu sisi, kitab suci mereka dipersepsikan serba-cukup sehingga...

Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan membangun desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun...
Muhidin M Dahlan
Kerani @warungarsip, pendiri @radiobuku.

Jawa Pos adalah salah satu dari empat imperium besar pers Indonesia. Dan, di bulan Juni yang baru saja kita lalui, koran berbasis di Surabaya ini meneguhkan kekaisarannya. Paling tidak, di tahun 2018, di bulan Juni, tak ada satu pun tanggal merah atau libur nasional dengan bendera apa pun yang menghentikan mereka untuk terbit.

Bahkan di hari Lebaran sekalipun. Di hari itu, semua koran di seluruh Indonesia tutup gudang percetakan. Namun tidak Jawa Pos. Tatkala di pagi hari umat Islam se-Indonesia berangkat ke lapangan untuk menunaikan salat Id dengan menenteng koran-koran bekas, Jawa Pos terbit sebagai koran untuk dibaca dan bukan untuk dijadikan alas sajadah yang untuk selanjutnya ditinggalkan begitu saja bersama datangnya para pemulung saat matahari naik sepenggalah.

Itulah yang terjadi pada hari Jumat, 15 Juni 2018. Jawa Pos terbit sebagai—semoga saya tak terlalu khilaf—satu-satunya koran di Hari Lebaran yang mubarak. Tak ada satu pun front page yang tampak di hari itu. Oleh karena itu, tak ada pilihan selain memilih Jawa Pos sebagai front page terbaik di bulan Juni.

Jika kita rangkum segala peristiwa yang terjadi sepanjang Juni yang di-cover oleh halaman depan koran, paling tidak ada tiga. Pertama, Ramadan dengan segala isunya—termasuk kabar besar jalan tol. Kedua, Piala Dunia di Rusia pada pertengahan Juni. Ketiga, Pilkada serentak di pengujung bulan.

Khusus untuk isu infrastruktur jalan tol di trek mudik, halaman-halaman koran berlomba-lomba menampilkan desain yang atraktif. Saya sampai gelagapan memilih yang terbaik dari kompetisi antara dua grup raksasa media massa di Indonesia, yakni grup Jawa Pos dengan segala “radar”-nya dan grup Kompas-Gramedia dengan segala “tribun”-nya.

Begitu pula dengan peristiwa pilkada serentak tiga hari jelang akhir bulan, koran-koran tampil dengan halaman yang menggoda dan tentu saja penuh dengan angka dan statistik. Bahkan, Tribun Kaltim berhari-hari sebelum pencoblosan 27 Juni tampak dengan muka yang aneh: front page tak ubahnya seperti iklan baris yang berisi kolom-kolom kecil iklan peserta pilkada.

Demikianlah, semua front page yang tampil untuk meliput tiga peristiwa besar hadir di hari yang “normal”.

Berbeda segalanya dengan laman depan Jawa Pos edisi 15 Juni 2018 yang tidak saja berani dan “nekad”, tapi juga tampil mempertemukan dua arus besar yang berjumpa di malam puncak Ramadan. Yakni, pamungkas Ramadan dan permulaan Piala Dunia.

Front page itu memadatkan pesan bahwa malam makin panjang dan istirahat di siang hari makin lama. Ramadan menghidupkan malam dengan ibadah Tarwih dan Tahajud, Piala Dunia menghabiskan malam dengan menyaksikan negara-negara bertarung memperebutkan puncak tertinggi untuk meraih trofi.

Sebagaimana permulaan Ramadan, Piala Dunia dimulai dengan segala kemeriahan. Dan, itulah yang tampak pada halaman depan Jawa Pos yang masthead-nya berubah, bukan lagi Jawa Pos, melainkan Koran Lebaran.

Tulisan “Jawa Pos” dibuat dua per tiga lebih kecil ketimbang “Koran Lebaran”. Robbie Williams yang berkostum merah diiringi penyanyi latar yang juga berpakaian merah menjadi foto depan, seakan mempersatukan kemeriahan akhir Ramadan dan awal Piala Dunia.

jawa pos jawa-pos-koran-lebaran-geotimes

Iring-iringan peserta takbir keliling di semua perkampungan, terutama di Jawa, lebih khusus lagi di Dusun Jambu, Kayen Kidul, Kediri, Jawa Timur di mana saya mudik, tak ubahnya seperti kegembiraan Piala Dunia di mana semua orang bergembira karena diberkahi umur panjang bertemu lagi dengan Piala Dunia yang saban empat tahun kali diselenggarakan.

Perbedaannya adalah jika kegembiraan di malam puncak Ramadan adalah kemenangan dari ikhtiar mendirikan madrasah ruhaniah dalam diri masing-masing selama satu purnama, kegembiraan di awal Piala Dunia adalah penyambutan untuk bersiap menghadapi badai demi badai kekecewaan dari arung kompetisi selama sebulan ke depan.

Jawa Pos benar ketika menuliskan judul utama: “Sepak Bola Taklukkan Dunia”. Sebagaimana sepakbola, Ramadan juga punya makna yang sama, “menaklukkan dunia”. Untuk menjadi manusia fitri, semua yang bersifat keduniawian dikerangkeng dan dikendalikan. Itulah kurikulum dan sekaligus maklumat Ramadan. “Merasakan Puasa dan Merayakan Idul Fitri di Moskow, Rusia (1): Agresif sebelum Buka, Tenang setelah Salat Magrib”, judul lain dari Jawa Pos, menawarkan makna bagaimana Magrib adalah batas agresivitas dan ketenangan. Dua hal itu pula yang kemudian kita lihat di lapangan hijau seantero Rusia selama sebulan setelah kick off Piala Dunia di malam Lebaran.

Demikianlah, halaman depan Jawa Pos yang memungkasi Ramadan yang sudah berlangsung sebulan dan sekaligus memulai Piala Dunia yang juga berlangsung selama satu purnama.

Bahkan Lebaran tak bisa menghentikan Jawa Pos untuk hadir menemui pembaca. Selamat untuk Jawa Pos edisi “Koran Lebaran”. Niat!

Muhidin M Dahlan
Kerani @warungarsip, pendiri @radiobuku.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.