Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Tak Bisakah Kita Menghormati Perempuan Seperti Raja Priam?

Ketika Nasionalisme dan Merah-Putih Hanya Tameng

Setiap awal-awal Agustus, terutama menjelang tanggal 17, kita akan melihat pernak-pernik merah putih. Ada berupa gantungan kunci, bendera kecil, hingga bendera besar. Sepintas terlihat,...

Menyembuhkan Luka: Melerai Dikotomi Pribumi-Nonpribumi

Bangsa ini sedang terluka karena benturan, sebagian diwariskan oleh sejarah turun temurun. Isu pribumi dan non-pribumi tiba-tiba bangkit lagi dari timbunan sejarah kelam. Bagian...

Kivlan Zen, Isu PKI, dan Bangunan Persepsi Kesejarahan

Mengapa ada sosok seperti Jenderal Kivlan Zein yang percaya isu PKI bisa dikelola dalam ranah politik nasional di era keterbukaan seperti sekarang? Tidakkah masyarakat,...

“Perang” Online Versus Offline, Duh!

Warga mencari transportasi dengan aplikasi online di Jakarta, Kamis (17/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa. Ada banyak yang bisa dikaji dari ironi demonstrasi awak transportasi konvensional...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

“Kesinilah, anakku sayang. Duduklah di depanku agar kamu bisa melihat mantan suamimu, saudara-saudaramu, dan rakyatmu. Aku tak menyalahkanmu. Aku menyalahkan para Dewa yang membuatku harus berperang ….” Begitulah ungkapan Raja Priam, raja kota Troya, kepada menantunya Helen, mantan istri Menelaus pemimpin Akhaia.

Sejak Helen direbut oleh Paris, anak Raja Priam, Troya harus menghadapi kemarahan Raja Agamemnon yang merasa bahwa kehormatan adiknya Menelaus harus dipertahankan. Inilah penyebab perang besar Akhaia dan Troya yang berlangsung sembilan tahun lamanya.

Meski pertarungan untuk mendapatkan Helen menjadi penyebab peperangan, ungkapan Raja Priam di atas menunjukkan bahwa ia tak mau menyalahkan Helen atas kekacauan yang terjadi. Padahal, sebagaimana diceritakan Homerus dalam buku tiga The Iliad, Paris anak Priam harus menghadapi Menelaus head to head karena perjanjian yang disepakati Akhaia dan Troya.

Siapa pun yang memenangkan pertarungan akan membawa pulang dan memiliki Helen. Kemenangan tersebut pun akan menandai berakhirnya perang Troya. Persoalannya, Paris yang bahkan oleh saudaranya sendiri Hector disebut hanya peduli pada ketampanan harus menghadapi Menelaus yang begitu tangguh di medan perang!

Helen tak bisa menahan rasa duka, ia menyesal meninggalkan suami dan anaknya untuk Paris. Pada satu titik Helen berharap kematian segera menjemputnya. Di sisi lain, meski tahu bahwa kondisi ini mungkin tak akan terjadi jika Helen tak ada, Raja Priam tak menyalahkan Helen. Ia tahu bahwa sikapnya ini membuat anaknya terancam terbunuh dan kotanya hancur.

Dalam ungkapannya, memang Raja Priam terkesan memudahkan persoalan dengan menyalahkan para Dewa yang menakdirkan peperangan. Namun barangkali ia tak sedang menyalahkan Dewa, ia hanya memahami kompleksitas situasi yang ada.

Priam tahu bahwa Helen dan kecantikannya bukan satu-satunya faktor, ada faktor kegagalan Paris mengatasi nafsunya. Ditambah kenyataan bahwa Helen adalah adik ipar dari raja tertinggi suku Akhaia, Agamemnon. Merebutnya sama saja melecehkan suku Akhaia. Karena itu, ini memang bukan salah Helen semata.

Bijaknya sikap Raja Priam patut ditiru. Apa yang diungkapkannya kepada Helen adalah bentuk penghormatan terhadap perempuan.

Sayangnya, sikap semacam itu tidak terlihat hari ini. Yang terjadi justru sebaliknya, kerap menyalahkan perempuan atas berbagai pilihan yang mereka tempuh. Bahkan kini mulai terlihat pola menyalahkan perempuan yang menjadi korban.

Jika dalam hubungan rumah tangga istri memilih bercerai karena suaminya selingkuh, istri yang disalahkan karena dianggap tak mampu memuaskan. Istri menolak dipoligami karena sejak awal tak ada kesepakatan demikian, istri pula yang kemudian dituduh tak memahami agama. Dalam kasus pelecehan seksual, perempuan disalahkan karena caranya berpakaian sehingga mengundang nafsu kaum laki-laki.

Bahkan dalam soal politik, perempuan bisa diintimidasi dan disalahkan hanya karena pilihan politiknya. Itulah yang dialami Susi Ferawati, korban intimidasi di Car Free Day (CFD) baru-baru ini.

Terlepas dari apa pun pilihan politiknya, intimidasi terhadap Susi adalah pelecehan terhadap perempuan. Susi menceritakan bagaimana segerombolan laki-laki mengerumuninya dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas. “Buka kaosnya! Buka kaosnya!” teriak mereka kepada Susi. Itu semua dilakukan di depan anaknya yang masih berusia sembilan tahun.

Sudah diintimidasi karena pilihan politik yang merupakan haknya, lalu Susi disalahkan pula. Ia dinilai salah berjalan di dekat kelompok yang bersebrangan secara politik dengannya. Susi dianggap memprovokasi. Hinaan dan fitnah terus bergulir kepadanya hingga hari ini.

Ini bukti bahwa penghormatan terhadap perempuan masih minim. Alih-alih mencoba melindungi perempuan, masih banyak laki-laki yang lebih memilih menjadikan perempuan sebagai kambing hitam.

Kita membutuhkan banyak laki-laki yang memiliki pola pikir seperti Raja Priam. Jika Raja Priam saja bisa menghormati Helen yang membuatnya harus berperang habis-habisan, mengapa kita tidak bisa menghormati perempuan dengan berbagai pilihannya?

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.