OUR NETWORK

Rahayu, Pak Ketua MPR!

Sabotase atas Rahayu kian menjelaskan institusi MPR telah dikangkangi anasir-anasir Pancasila Lamis; pihak yang mulutnya berbusa-busa mewiridkan Pancasila di ruang publik, namun nuraninya tetap menginginkan negara Islam di Indonesia.
Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo (kiri)

Saya benar-benar tak menyangka ketua MPR, pemimpin lembaga yang sangat sering mengadakan sosialisasi 4 pilar kebangsaan, bisa sepicik itu. Zulkifli Hasan, sebagaimana pengakuan anggota Rahayu Saraswati di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat kemarin, telah menggagalkan doa akhir sidang yang sedianya dipanjatkan oleh perempuan dari Fraksi Gerindra ini.

Tidak disebutkan secara jelas alasan penjegalan Rahayu, namun sangat mungkin disebabkan agama dan identitas gender Rahayu; Kristen perempuan.

Jika benar demikian halnya, sabotase atas Rahayu semakin menjelaskan institusi MPR selama ini telah dikangkangi anasir-anasir Pancasila Lamis; yakni pihak yang mulutnya berbusa-busa mewiridkan Pancasila di ruang publik, namun nuraninya tetap menginginkan negara Islam berdiri di Indonesia.

Bagi saya, Pancasila Lamis juga bisa disematkan kepada anggota MPR yang memilih diam atas sabotase ini. Kediaman mereka adalah persetujuan atas diskriminasi terhadap agama dan identitas gender Rahayu. Sikap seperti ini jelas mencederai Pancasila dan perlu direformasi.

Reformasi pemikiran keagamaan klasik (Islam) yang belum menerima pemeluk agama lain memimpin doa mendesak dilakukan. Pemikiran klasik tersebut perlu diletakkan dalam kerangka ritual ibadah yang spesifik, misalnya menjadi pemimpin salat. Rahayu jelas tidak sedang diminta memimpin anggota MPR Muslim untuk salat. Dia, dengan keimanannya terhadap Kristus, diminta memanjatkan doa sesuai keimanannya, sebagaimana yang sering dilakukan anggota MPR muslim(ah), dan diamini oleh anggota lain yang berbeda agama.

Mungkin Zulkifli Hasan lupa sejarah Nabi Muhammad. Junjungan ratusan juta umat Islam ini, sebelum diangkat sebagai rasul Allah, memperoleh “doa” khusus setidaknya dari dua pendeta; Bahira, seorang Kristen Nestorian, dan Waraqa bin Naufal, sepupu Khadijah yang beragama Kristen dan sangat menguasai Alkitab. Baik Khadijah maupun Nabi Muhammad tidak menolaknya.

Dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Aishah, doa Waraqa termanifestasi dalam dukungannya atas tanda-tanda kenabian Muhammad sesudah menerima wahyu pertama di gua Hira.

“Itu adalah malaikat yang sama yang dikirim Allah kepada Musa. Jika aku berkesempatan hidup dalam masamu, aku akan mendukungmu sepenuhnya (wa in adrakani yawmuka ansurka nasran muazzaran),” kata Waraqa kepada Nabi Muhammad sebagaimana dicatat dalam Sahih Bukhari 3392; kitab 60 hadits 66.

Jika dianggap penting untuk dilakukan,  Pak Zulkifli Hasan dan para anggota MPR yang terhormat dapat sesekali mengunjungi kelas matakuliah Pancasila dan kelas Agama-agama yang saya ampu di Universitas Ciputra Surabaya. Di kelas-kelas tersebut, kami yang berlatar belakang lintasagama dan etnis saling bergantian memimpin doa sebelum kelas dimulai.

Bahkan sepanjang bulan ini, lebih banyak perempuan yang memimpinnya. Kami tidak canggung untuk mengamini dalam iman kami masing-masing. Kami percaya, Tuhan kami adalah satu dalam esensi, meski berbeda dalam nama maupun model mendekati-Nya.

Kelas kami adalah taman sari yang berisi aneka bunga indah, persis seperti MPR. Bedanya, kami berani untuk saling menguatkan eksistensi masing-masing melalui toleransi, namun sayangnya MPR tidak.

Datanglah ke kampus kami, Pak Ketua MPR. Rahayu.

Bacaan terkait

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Toa dan Toleransi Beragama

Pajangan Itu Bernama Pancasila?

Melakoni Toleransi Seutuhnya

Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…